BEI Beberkan Sederet Upaya Tanggapi Keputusan MSCI

10 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Upaya Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam meningkatkan keterbukaan data free float saham masih terus berproses setelah keputusan terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI).

BEI bersama Self-Regulatory Organization (SRO) lain yakni Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) serta didukung Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sebelumnya telah membangun komunikasi dengan MSCI. Meski dialog dan negosiasi sudah berlangsung, hasilnya belum mencapai titik temu seperti yang diharapkan pelaku pasar.

Direktur Utama BEI Iman Rachman menilai perkembangan ini bukan penutup dari langkah penguatan pasar modal domestik. Ia menegaskan interaksi dengan MSCI justru menjadi bagian dari proses panjang untuk menyelaraskan karakteristik pasar Indonesia dengan standar yang digunakan lembaga penyedia indeks global tersebut.

"Kondisi MSCI kali ini bukan end of game. Tapi kita selalu berusaha memetakan pasar di Indonesia kepada MSCI,” ujar Iman kepada Wartawan di Gedung BEI, Rabu (28/1/2026).

Iman menerangkan, berbagai pembaruan terkait data free float sebenarnya sudah dijalankan oleh BEI bersama otoritas dan lembaga penunjang pasar.

Namun, proses tersebut memerlukan tahapan administratif dan teknis sehingga belum dapat sepenuhnya memenuhi tenggat waktu yang diharapkan MSCI. Ia juga mengisyaratkan bahwa metode yang digunakan MSCI memiliki karakteristik tersendiri, sementara BEI tetap harus berpegang pada kerangka regulasi domestik.

BEI Tampilkan Data Free Float

"Kami BEI, OJK dan KSEI bukan tidak melakukan sesuatu. Kita lakukan perbaikan terkait free float yang sudah ada," ujar Iman dalam konferensi pers di Gedung BEI, Rabu (28/1/2026).

Sebagai bagian dari peningkatan transparansi, BEI telah mulai menampilkan data free float secara lebih menyeluruh melalui laman resmi bursa sejak awal Januari 2026 dan menjadwalkan pembaruan rutin setiap bulan. Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat kepercayaan investor sekaligus membuka ruang peningkatan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI.

Ke depan, koordinasi dengan MSCI akan terus dilanjutkan secara intensif. BEI bersama SRO dan OJK juga tengah menyiapkan pertemuan lanjutan secara daring dengan tim MSCI di Swiss guna menyamakan pemahaman terkait metodologi dan implementasi keterbukaan informasi di pasar modal Indonesia.

Penutupan IHSG pada 28 Januari 2026

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) betah di zona merah pada perdagangan saham Rabu, (28/1/2026). Koreksi IHSG hari ini terjadi setelah pengumuman MSCI untuk membekukan sejumlah perubahan dalam proses peninjauan indeks saham.

Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup tersungkur 7,35% ke posisi 8.320,55. Indeks saham LQ45 terpangkas 7,26% ke posisi 812,53. Seluruh indeks saham acuan tertekan.

Pengamat pasar modal Reydi Octa menuturkan, tekanan jual masih berlanjut dari sesi pertama, seiring panic selling pengumuman MSCI yang akan membekukan pembobotan dan rebalancing dari saham Indonesia.

"Penurunan bisa berlanjut, tetapi dampaknya bisa hanya jangka pendek, karena opini saya keputusan MSCI justru dapat menahan outflow dari dana pasif asing di IHSG,” kata Reydi saat dihubungi Liputan6.com.

Adapun strategi investasi saat IHSG melemah karena pengumuman MSCI, Reydi mengatakan, investor dapat wait and see sembari melakukan akumulasi saham bertahap pada saat IHSG tertekan hingga trading halt seiring peluang kenaikan terbuka. “Peluang rebound-nya tetap terbuka,” ujar dia.

Sektor Saham

Pada perdagangan saham Rabu pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 8.596,17 dan level terendah 8.187,73. Sebanyak 753 saham melemah sehingga bebani IHSG. 37 saham menguat dan 16 saham diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan saham 3.990.870 kali dengan volume perdagangan saham 60,9 miliar saham. Nilai transaksi harian Rp 45,5 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.704.

Seluruh sektor saham tertekan. Sektor saham infrastruktur terpangkas 10,15%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham energi terpangkas 8,99%, sektor saham basic melemah 6,3%, sektor saham industri merosot 6,60%.

Selanjutnya sektor saham consumer nonsiklikal turun 3,96%, sektor saham siklikal terperosok 6,43%, sektor saham kesehatan melemah 4,84%. Lalu sektor saham keuangan turun 4,35%, sektor saham properti susut 6,35%, sektor saham teknologi melemah 7,55% dan sektor saham transportasi susut 7,36%.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |