Selat Hormuz Ditutup, Harga Bahan Baku Wilmar Cahaya (CEKA) Naik 10%

13 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (CEKA) mengungkapkan dampak meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait penutupan Selat Hormuz, terhadap operasional perusahaan.

Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (19/3/2026), perusahaan menyampaikan bahwa penutupan Selat Hormuz telah memicu kenaikan harga bahan baku utama.

“Harga bahan baku crude palm oil dan bahan baku palm kernel naik hampir 10% dari harga sebelumnya,” jelas Sekretaris Perusahaan Wilmar Cahaya Indonesia Emmanuel Dwi Iriyadi. 

Kenaikan tersebut tidak lepas dari lonjakan harga minyak mentah dunia akibat gangguan pasokan global. Dampaknya, biaya produksi perusahaan ikut meningkat.

Selain bahan baku utama, perusahaan juga mencatat kenaikan harga bahan pembantu serta meningkatnya biaya logistik sebagai efek lanjutan dari kondisi tersebut.

Biaya Operasional Naik, Perusahaan Tetap Waspada

Manajemen CEKA menjelaskan bahwa dampak utama dari kondisi ini adalah peningkatan biaya operasional.

Perusahaan membutuhkan dana lebih besar untuk pengadaan bahan baku crude palm oil dan palm kernel, serta untuk biaya distribusi dan logistik.

“Perseroan membutuhkan biaya yang lebih banyak antara lain untuk pembelian bahan baku crude palm oil dan bahan baku palm kernel, untuk pembelian bahan pembantu dan pembayaran biaya logistik,” tulis manajemen.

Meski demikian, dari sisi hukum, perusahaan menyatakan belum terdapat dampak langsung terhadap operasional.

Namun, CEKA menegaskan akan terus memantau perkembangan kebijakan pemerintah guna mengantisipasi potensi risiko hukum yang mungkin timbul dari situasi global tersebut.

Dampak Tidak Langsung ke Kinerja Keuangan

Lebih lanjut, perusahaan mengungkapkan bahwa dampak konflik geopolitik tidak terjadi secara langsung terhadap operasional di negara konflik, namun tetap berpotensi memengaruhi kinerja secara tidak langsung.

Dalam laporan keuangan yang telah diaudit, disebutkan bahwa ketegangan di Timur Tengah meningkatkan volatilitas pasar energi dan komoditas global, serta mengganggu rantai pasok dan logistik.

Kondisi ini juga berpotensi memengaruhi permintaan pelanggan serta meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan dan valuta asing.

Meski demikian, CEKA menegaskan akan terus memonitor perkembangan situasi global, termasuk dampak penutupan Selat Hormuz, untuk menilai potensi pengaruhnya terhadap kinerja perusahaan ke depan.

Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas operasional dan kinerja keuangan di tengah dinamika global yang tidak menentu.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |