Review FTSE Juni 2026: DSSA Keluar dari Jajaran Emiten Kapitalisasi Besar

20 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Financial Times Stock Exchange Russell (FTSE) mengumumkan perubahan susunan konstituen untuk indeks FTSE Global Equity pada review June 2026 Quaterly.  Pada pengumuman terbaru untuk saham kapitalisasi besar atau large cap, FTSE mengeluarkan saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).

FTSE mengeluarkan saham DSSA dengan alasan saham tersebut masuk high shareholding concentration (HSC) atau saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dan dihapus pada harga nol.

Dalam perhitungan kategori large cap, tidak ada saham emiten Indonesia yang masuk. Demikian juga perhitungan kategori mid dan small cap, FTSE tidak menambahkan dan mengeluarkan saham emiten Indonesia.

Di kategori micro cap, FTSE mengeluarkan tiga saham emiten Indonesia antara lain saham PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ), PT Hillcon Tbk (HILL), dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA). Selain itu, FTSE juga tidak memasukkan saham emiten Indonesia dalam kategori micro cap.

Seiring saham DSSA dihapus dari kategori large cap, FTSE juga mengeluarkan saham DSSA pada FTSE All-World, FTSE all-cap. Sedangkan pada FTSE total-cap, FTSE mengeluarkan saham DAAZ, DSSA, HILL dan MLIA.

Perubahan tinjauan triwulanan oleh FTSE akan berlaku efektif pada Senin, 22 Juni 2026 (setelah penutupan perdagangan saham Jumat, 19 Juni 2026). Perubahan tinjauan indeks yang termasuk dalam daftar pengumuman  dapat direvisi hingga penutupan perdagangan Jumat, 5 Juni 2026 dan efektif Senin, 8 Juni 2026, perubahan tinjauan indeks akan dianggap final. Setiap perubahan selanjutnya hanya akan dipertimbangkan dalam keadaan luar biasa sesuai dengan kebijakan dan pedoman perhitungan ulang FTSE.

Jelang Pengumuman FTSE Russell, IHSG Berpotensi Bergerak Volatil

Sebelumnya, Senior Market Analyst M. Nafan Aji Gusta Utama menilai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan dibayangi volatilitas dalam jangka pendek, seiring tekanan eksternal dan domestik yang masih membebani pasar.

Sentimen tersebut datang dari pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate), hingga efek rebalancing indeks global dan antisipasi pengumuman FTSE Russell pada 22 Mei 2026 waktu AS.

"Di sini kalau menurut saya terdapatnya sentimen seperti pelemahan nilai tukar rupiah Rupiah terdepresiasi, 17.600 an saat ini,” kata Nafan kepada Liputan6.com, Jumat (22/5/2026).

Menurut Nafan, tekanan terhadap IHSG juga dipengaruhi langkah agresif Bank Indonesia menaikkan BI Rate yang memicu penyesuaian di pasar keuangan. Selain itu, proses rebalancing indeks global seperti MSCI pada akhir Mei turut meningkatkan tekanan jual sehingga membuat pasar bergerak fluktuatif.

"Di sisi lain, hal ini juga dipengaruhi oleh kenaikan BI rate yang secara agresif. Di sisi lain juga ada efek rebalancing index global Seperti MSCI di akhir bulan Mei, Kalau untuk pergerakan index ke depan, saya rasa masih volatilitas tetap ada,” jelasnya.

Peluang Koleksi

Meski demikian, ia menilai koreksi yang terjadi justru membuka peluang akumulasi bagi investor, mengingat valuasi IHSG saat ini sudah berada di level menarik atau undervalued. Pandangan ini juga sejalan dengan proyeksi teknikal Mirae Asset Sekuritas Indonesia yang menempatkan skenario negatif IHSG di level 5.883 pada 2026, sementara skenario positif diperkirakan bisa menguji level 7.628 hingga 8.824.

Dalam laporan riset terbaru Mirae Asset, secara jangka panjang IHSG juga masih dikategorikan berada dalam secular uptrend, dengan support kuat di area 5.500 dan potensi menuju level 11.100 dalam jangka panjang.

“Jadi sebenarnya IHSG itu sudah undervalued karena memang target upside juga cukup tinggi berdasarkan dari skenario positif Karena ada yang realistik dan optimistik Jadi ini merupakan kesempatan bagi para pelaku pasar untuk melakukan akumulasi beli terhadap saham-saham defensive,” ungkap Nafan.

Nafan menambahkan, menjelang libur panjang pekan depan serta pengumuman FTSE Russell pada 22 Mei, pasar saham domestik berpotensi bergerak lebih fluktuatif karena investor cenderung bersikap wait and see terhadap hasil evaluasi indeks global tersebut

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |