Wall Street Ditutup Perkasa, Dow Jones Cetak Rekor

18 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Jumat waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan terjadi setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury mulai turun, meski volatilitas pasar masih cukup tinggi sepanjang pekan ini.

Mengutip CNBC, Sabtu (23/5/2026), indeks Dow Jones Industrial Average naik 294,04 poin atau 0,58% ke level 50.579,70. Indeks yang terdiri dari 30 saham unggulan tersebut sempat mencetak rekor tertinggi intraday dan kembali ditutup pada level tertinggi sepanjang masa.

Sementara itu, indeks S&P 500 naik 0,37% menjadi 7.473,47. Adapun indeks teknologi Nasdaq Composite menguat 0,19% ke posisi 26.343,97.

Meski seluruh indeks utama berakhir di zona hijau, ketiganya sebenarnya sempat diperdagangkan di level yang lebih tinggi sebelum akhirnya mengalami sedikit pelemahan menjelang penutupan pasar.

Kepala Strategi Interactive Brokers, Steve Sosnick, menilai perhatian investor kini lebih tertuju pada perkembangan geopolitik dibanding risiko lain di pasar.

"Ini adalah pasar yang dipengaruhi banyak faktor. Pasar hari ini memberi sinyal bahwa mereka jauh lebih khawatir kehilangan peluang perdamaian di Timur Tengah dibandingkan risiko mempertahankan posisi investasi selama akhir pekan," ujar Sosnick.

Negosiasi AS-Iran Belum Jelas

Hingga kini, arah pembicaraan antara AS dan Iran masih belum sepenuhnya jelas. Namun terdapat sinyal yang menunjukkan kedua negara mulai mendekati kesepakatan untuk mengakhiri konflik.

Laporan menyebutkan sebuah tim dari Qatar telah tiba di Teheran dengan koordinasi bersama AS untuk membantu mendorong tercapainya kesepakatan damai.

Di sisi lain, harga minyak dunia ditutup menguat tipis pada Jumat, meski masih berada di bawah level tertinggi yang sempat tercapai awal pekan.

Minyak mentah Brent naik 0,9% menjadi USD103,54 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat sekitar 0,3% ke level USD96,60 per barel.

Pasar obligasi juga menjadi perhatian investor sepanjang pekan ini. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun hampir 3 basis poin ke sekitar 4,56%. Sementara obligasi tenor 30 tahun turun lebih dari 4 basis poin menjadi sekitar 5,06%.

Sebelumnya, gejolak pasar obligasi sempat memberikan tekanan pada pasar saham. Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak 2007, sedangkan obligasi 10 tahun mencapai posisi tertinggi dalam lebih dari satu tahun terakhir.

saham Qualcomm Melonjak

Pelaku pasar sebelumnya khawatir konflik AS-Iran berkepanjangan dapat mempertahankan tingginya harga minyak, sehingga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi.

Di sisi korporasi, saham Qualcomm melonjak hampir 12% pada Jumat dan membukukan penguatan selama tiga sesi berturut-turut. Secara mingguan, saham perusahaan itu naik 18,2%.

Sepanjang pekan, S&P 500 menguat 0,9% dan mencatat delapan pekan kenaikan beruntun, yang menjadi tren penguatan mingguan terpanjang sejak akhir 2023. Sementara Dow Jones naik 2,1% dan Nasdaq bertambah 0,5%.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |