BEI Ingatkan Riset Sekuritas Wajib Independen, Investor Ritel Harus Kritis

14 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) mengimbau investor ritel untuk bersikap kritis saat melihat berbagai riset dan rekomendasi investasi yang beredar di publik. Seiring hal itu, BEI juga mengingatkan fungsi riset pada anggota bursa wajib dijalankan secara independent terpisah dari fungsi lain untuk menghindari benturan kepentingan.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy menuturkan, riset adalah salah satu fungsi dan atau layanan Perusahaan Sekuritas Anggota Bursa sebagai Perantara Pedagang Efek (PPE).

Berdasarkan POJK 13 Tahun 2025 disebutkan, fungsi riset pada anggota bursa wajib dijalankan secara independen terpisah dari fungsi lain untuk menghindari benturan kepentingan.

Irvan mengatakan, pengawasan fungsi riset pada Anggota Bursa dilaksanakan sebagai bagian pengawasan Pengendalian Internal PPE oleh OJK sebagaimana POJK 13 tahun 2025.

"Perusahaan sekuritas anggota bursa dilarang menjanjikan keuntungan dalam bentuk apapun kepada investor dan atau nasabah, termasuk menjamin target harga saham tertentu,” kata Irvan, Selasa (27/1/2026).

Ia menambahkan, dalam pelaksanaan fungsi riset, wajib menyusun dan menerapkan kebijakan dan prosedur tertulis berkaitan dengan hasil riset agar riset yang dilakukan oleh analis bersifat independen.

"Hasil fungsi riset hanya merupakan salah satu informasi yang dapat dipergunakan untuk mendukung keputusan investasi,” kata dia.

BEI mengimbau investor ritel untuk selalu bersikap kritis dalam mencermati berbagai riset atau rekomendasi investasi yang beredar di publik.

Irvan mengatakan, investor perlu memperhatikan sumber riset tersebut, termasuk siapa pihak yang menerbitkan serta potensi afiliasi atau kepentingan dengan pihak tertentu.

“Investor juga harus menelaah metodologi dan dasar analisis yang digunakan pada berbagai hasil riset yang diterima termasuk memastikan datanya memadai, asumsinya wajar, serta msmiliki penjelasan risiko,” kata Irvan.

Ciri Riset yang Kredibel

Irvan menuturkan, riset yang kredibel umumnya tidak hanya menonjolkan potensi keuntungan, tetapi juga mengungkapkan berbagai risiko yang mungkin dihadapi.

"Investor ritel dapat menggunakan data dan keterbukaan informasi resmi yang disampaikan emiten melalui kanal yang disediakan oleh BEI, yaitu website www.idx.co.id serta aplikasi IDX Mobile maupun media sosial resmi BEI,” tutur Irvan.

Irvan berharap, investor ritel terus belajar dan memahami pasar modal Indonesia melalui pihak-pihak yang terpercaya, salah satunya melalui program Sekolah Pasar Modal (SPM) yang diselenggarakan oleh BEI.

"Dengan mengombinasikan literasi, pemanfaatan sumber informasi resmi, serta kecermatan dalam menyerap berbagai hasil riset, investor diharapkan dapat mengambil keputusan investasi yang lebih objektif, rasional, dan sesuai dengan profil risikonya masing-masing,” kata dia.

BEI Pasang Target Indonesia Tembus Top 10 Bursa Dunia pada 2030

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan dapat masuk ke jajaran 10 bursa terbesar dunia dalam lima tahun ke depan melalui penguatan fondasi pasar modal nasional. Target tersebut tertuang dalam Master Plan BEI 2026–2030 yang disiapkan untuk menjaga momentum pertumbuhan pasar modal Indonesia.

Direktur Utama BEI Iman Rachman menyampaikan, pengembangan tersebut diarahkan untuk membangun pasar modal yang semakin inovatif, transparan, inklusif, serta memiliki keterhubungan global. Ia berharap upaya ini dapat memberikan manfaat optimal bagi seluruh pemangku kepentingan.

“Melalui Master Plan BEI 2026-2030, kami menetapkan tujuan besar pada tahun 2030, yaitu membangun pasar modal Indonesia yang semakin inovatif, transparan, inklusif, dan terhubung secara global. Harapannya Indonesia dapat masuk ke jajaran Top 10 Bursa Dunia berdasarkan kapitalisasi pasar atau nilai transaksi, sekaligus memberikan manfaat optimal bagi investor, emiten, dan perekonomian nasional,” kata Iman dalam sambutannya pada acara pembukaan perdagangan perdana pasar modal Indonesia 2026, Jumat (2/1/2026).

Dalam mendukung target tersebut, BEI juga menetapkan sejumlah asumsi dan sasaran untuk tahun 2026. Dari sisi transaksi, Bank Indonesia mengasumsikan Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) pada 2026 sebesar Rp 15 triliun. Sementara dari sisi pencatatan, BEI menargetkan total 555 pencatatan efek sepanjang 2026, termasuk 50 saham baru.

Tambah 2 Juta Investor

Selain itu, BEI menargetkan pertumbuhan jumlah investor pasar modal Indonesia dengan menambah 2 juta investor baru pada 2026 melalui pemanfaatan berbagai kanal distribusi informasi.

Iman menegaskan, pencapaian visi jangka panjang tersebut memerlukan dukungan dan kolaborasi dari seluruh stakeholder pasar modal.

“Kami percaya agar terwujud visi ini dibutuhkan sinergi seluruh stakeholder, untuk itu kami sangat mengharapkan dukungan dan kolaborasi dari emiten, anggota bursa, dan seluruh pemangku kepentingan agar Master Plan BEI 2026-2030 dapat terlaksana dengan baik dan memberikan manfaat yang nyata bagi pasar modal Indonesia,” pungkasnya.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |