Ada Sentimen Timur Tengah, IHSG Tetap Stabil dengan Aliran Dana Asing

16 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis yang ditutup melemah tipis di level 7.362 dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dunia.

Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana menilai laporan serangan terhadap kapal di kawasan Selat Hormuz dan perairan dekat Irak memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati karena konflik di jalur distribusi minyak strategis dunia berpotensi mendorong inflasi global kembali meningkat.

“Tekanan pasar terutama dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dunia hingga sempat kembali menembus level psikologis USD 100 per barel,” ujar Hendra dalam keterangan resmi kepada Liputan6.com, Jumat (13/3/2026).

Ia menambahkan, ketidakpastian geopolitik tersebut juga dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter global. Pasar menilai konflik yang berkepanjangan berpotensi memperlambat peluang penurunan suku bunga oleh bank sentral utama dunia karena risiko inflasi energi yang kembali meningkat.

Kinerja IHSG Terjaga di Tengah Tekanan Eksternal

Meski demikian, Hendra menilai kinerja IHSG relatif terjaga di tengah tekanan eksternal tersebut. Hal ini tercermin dari aliran dana asing yang masih mencatatkan pembelian bersih sekitar Rp 905 miliar pada perdagangan hari itu.

“Hal ini menunjukkan bahwa investor global masih melihat valuasi pasar saham Indonesia cukup menarik, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang secara fundamental masih solid,” katanya.

Selain faktor eksternal, sentimen domestik juga memberikan dukungan bagi pasar saham. Beberapa emiten perbankan mencatat kinerja positif yang menjadi katalis bagi sektor keuangan.

Salah satunya adalah kinerja PT Bank Tabungan Negara Tbk yang mencatat lonjakan laba signifikan pada awal 2026, didorong oleh peningkatan pendapatan bunga dan penurunan biaya dana yang memperbaiki margin bunga bersih. Di sisi lain, PT Bank Central Asia Tbk turut memberikan sentimen positif setelah memutuskan pembagian dividen sekitar Rp 41 triliun untuk tahun buku 2025 dengan rasio pembayaran mencapai 72 persen.

Untuk perdagangan berikutnya, Hendra memperkirakan IHSG masih akan bergerak konsolidatif dengan kecenderungan berada di kisaran support 7.300 hingga resistance 7.420. Pasar akan terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah serta pergerakan harga minyak dunia yang menjadi faktor utama volatilitas global.

Jika Harga Minyak Stabil, IHSG Lanjutkan Rebound

Ia menilai jika ketegangan geopolitik mereda dan harga minyak kembali stabil, peluang IHSG untuk melanjutkan rebound teknikal masih terbuka, terutama didukung aliran dana asing yang masih masuk ke pasar domestik.

Dari sisi saham, Hendra menilai beberapa emiten menarik untuk dicermati pada perdagangan selanjutnya, antara lain BBCA yang berpotensi melanjutkan penguatan secara teknikal seiring sentimen dividen, PGAS yang mendapat dukungan dari kenaikan harga energi global, serta ADRO yang ditopang prospek komoditas energi. Selain itu, saham SCMA juga dapat dicermati untuk trading jangka pendek seiring potensi perbaikan sentimen sektor media dan konsumsi domestik.

Secara keseluruhan, ia menyarankan investor tetap selektif dalam memilih saham dengan fokus pada emiten berfundamental kuat dan memiliki katalis yang jelas di tengah dinamika global yang masih volatil.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |