Cerita Reri Pemilik Liyerliyer.id Rasakan Lengkapnya Dukungan BRI untuk UMKM dari KUR hingga QRIS

5 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Tidak banyak brand wewangian yang berani menghadirkan aroma unik Jawa dalam bentuk lilin aromaterapi dan parfum artisan. Namun hal itulah yang justru menjadi ciri khas Liyerliyer, brand asal Yogyakarta milik Reri Putra (34) dan partnernya, Mahendra Kurniawan. Nama Liyerliyer sendiri diambil dari bahasa Jawa yang berarti setengah mengantuk. 

"Liyer itu dalam bahasa Jawa berarti ngantuk. Kalau dalam bahasa Inggris, kalau dicari dalam bahasa Inggris adalah daydream. Sejak SMA, aku suka banget dengan kata itu, karena rasanya seperti momen sesaat ketika kita lepas dari kenyataan, entah sedang membayangkan masa lalu atau masa depan" ujar Reri saat ditemui Liputan6.com pada Sabtu (2/5/2026). 

Bagi Reri, kondisi “liyer” adalah momen ketika seseorang sesaat lepas dari hiruk pikuk hidup dan mulai memikirkan dirinya sendiri. Filosofi itulah yang kemudian dituangkan Reri ke dalam berbagai produk wewangian artisan miliknya. Mulai dari lilin aromaterapi, parfum, hingga diffuser dengan aroma yang dekat dengan keseharian masyarakat Jawa.

"Tujuan dari aroma yang kami buat adalah agar bisa membuat orang lebih reflektif dan berpikir ke depan. Jadi tenang, lalu teringat lagi, sebenarnya kita mau ke mana, dan apa tujuan kita.”  ujar Reri.

Di balik perjalanan membangun brand tersebut, Reri juga merasakan bagaimana berbagai layanan BRI mulai dari QRIS, setor tunai digital, KUR, hingga BRI Incubator membantu perkembangan Liyerliyer sebagai UMKM lokal. Berikut kisah lengkapnya. 

Aroma Wedang Uwuh hingga Es Doger Jadi Ciri Khas Liyerliyer

Liyerliyer dibentuk pada 2023, berawal saat Reri terkena layoff dan Mahendra memutuskan resign dari dunia korporasi untuk bersama-sama membangun usaha tersebut. Produk pertama mereka adalah lilin setelah sebelumnya merintis frame bunga.

Produk ini menghadirkan wewangian dengan pendekatan yang berbeda, yakni aroma yang dekat dengan keseharian masyarakat Jawa. Beberapa aroma andalannya antara lain wedang uwuh, teh kraton, rumah jadul Jawa, hingga es doger, yang semuanya diracik dengan komposisi aroma yang kompleks.

“Produk kebanggaan aku itu Wedang Uwuh, karena aku kan ‘remaja jompo’. Jadi aku cari seperti apa aroma Wedang Uwuh itu. Sebenarnya nggak ada bibit parfum secang, tapi aku cari. Selain itu ada juga aroma Teh Kraton, bau rumah jadul Jawa, dan Es Doger” katanya.

Tak hanya soal aroma, Reri juga memikirkan aspek keamanan dan keberlanjutan produknya. Ia menghindari penggunaan bunga di atas lilin karena berisiko terbakar, lalu memilih menempatkannya di sisi kemasan agar tetap aman namun estetik. Packaging produknya juga dibuat minim plastik dan lebih ramah lingkungan. Kardus bekas produksi diolah menjadi kompos, sementara bubble wrap dikirim ke bank sampah.

“Hampir enggak ada sampah dari Liyerliyer yang masuk TPA,” ujarnya.

Range harga produk Liyerliyer berada di kisaran Rp30 ribuan hingga Rp100 ribuan. Saat ini, produk Liyerliyer juga sudah dititipkan di sejumlah toko di Yogyakarta, seperti Bloomery Joy-Mart Tugu Yogyakarta, Suwatu, Waktu Luang, dan beberapa lokasi lainnya.

Dari QRIS hingga Setor Tunai, BRI Permudah Operasional Liyerliyer

Dalam aktivitas bisnisnya, Reri memanfaatkan berbagai layanan BRI untuk mendukung operasional sehari-hari, mulai dari QRIS, setor tunai digital, hingga tabungan. Ia mengaku sudah menggunakan layanan BRI sejak masih kuliah karena merasa tampilan antarmukanya lebih mudah digunakan dibandingkan bank lain. Hingga kini, hampir seluruh transaksi pribadi maupun bisnisnya tetap menggunakan layanan BRI.

“UI-nya enak banget. Apa pun e-money, apa pun, pakainya BRI,” katanya.   

Dalam aktivitas penjualan, terutama saat mengikuti pop up market, Reri mengandalkan QRIS BRI sebagai metode pembayaran utama. Menurutnya, fitur ini sangat membantu karena proses pencairan dana berlangsung cepat sehingga menjaga arus kas usaha tetap lancar. Selain itu, ia juga memanfaatkan fitur setor tunai di ATM untuk menyetorkan hasil penjualan tanpa perlu datang ke kantor cabang.

“Biasanya habis jualan langsung setor tunai di ATM. Jadi semuanya udah digital dan gampang,” ujarnya.

Ke depan, Reri berencana kembali memanfaatkan tabungan berjangka sebagai salah satu cara untuk lebih disiplin dalam mengatur keuangan bisnisnya. Menurutnya, di tengah arus uang yang terus berputar dalam operasional usaha, penting untuk tetap memiliki porsi dana yang disimpan secara terencana.

“Next-nya Liyerliyer juga mungkin akan pakai tabungan berjangka, ya karena kalau uangnya dipakai buat muter terus, nanti kapan punya tabungan" tambah Reri. 

KUR dan BRI Incubator Jadi Penyemangat Liyerliyer untuk Naik Kelas

Seiring berkembangnya usaha, Reri mulai menyadari pentingnya tambahan modal dan pendampingan bisnis agar Liyerliyer bisa terus berkembang. Ia pun memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sekaligus mengikuti program BRI Incubator 2025.

Menurutnya, KUR bukan sekadar tambahan modal usaha, tetapi juga menjadi penyemangat agar bisnisnya terus bergerak. Reri sengaja mengambil nominal pinjaman yang kecil sesuai kemampuan bisnisnya. Ia memilih pinjaman Rp9 juta dengan tenor tiga tahun. Dengan cicilan kurang dari Rp400 ribu per bulan, ia merasa bisnisnya jadi memiliki target yang jelas setiap bulan.

“KUR BRI ini ngeboost banget. Karena UMKM kalau enggak ada setoran dana, ya kadang jalan di tempat, Jadi kayak dipacu. Paling enggak, bisnis ini harus bisa bayar cicilan itu,” katanya.

Tak hanya soal pembiayaan, Reri juga mengikuti program BRI Incubator setelah mendapat rekomendasi dari sesama pelaku UMKM di Yogyakarta. Dari sekitar 300 pendaftar, hanya 25 UMKM yang terpilih mengikuti program tersebut. Selama sekitar dua minggu, peserta mendapatkan pelatihan intensif mulai dari pengelolaan keuangan, strategi pemasaran, hingga membaca data pasar.

Program tersebut juga membuat rasa percaya dirinya meningkat sebagai pemilik brand lokal yang masih berkembang. Kini, LiyerLiyer.id bahkan didaftarkan untuk mengikuti BRI Incubator tingkat nasional.

Bisnis Mengubah Cara Pandang tentang Uang dan Hidup

 Dalam perjalanannya menjalani bisnis, Reri merasa cara pandangnya berubah. Ia merasa memiliki usaha sendiri membuatnya lebih bertanggung jawab terhadap arah hidup dan keuangan. Jika dulu penghasilan tetap kerap diikuti gaya hidup konsumtif sebagai bentuk “healing”, kini ia justru lebih berhati-hati dalam mengelola uang.

"Kalau sudah usaha itu mindset-nya berubah. Dulu kita ada penghasilan tetap, terus stres akhirnya healing. Kalau sekarang, kita punya sesuatu yang harus kita urusin, kita jadi nggak hedon, ‘oh puter aja uangnya ke sini’. Ternyata nggak harus hedon itu juga baik-baik aja, jadi lebih memaknai uang,” katanya.

Ke depan, Reri bermimpi memiliki toko sekaligus kebun sendiri yang bisa menjadi ruang workshop parfum, berkebun, hingga tempat orang-orang datang untuk beristirahat sejenak dari rutinitas.

“Kita pengen punya tempat yang orang bisa datang, workshop, ngobrol, dan tenang,” katanya.

Pesan untuk Anak Muda yang Ingin Berbisnis

Sebagai generasi milenial yang terjun ke dunia bisnis, Reri berpesan kepada anak muda yang ingin memulai usaha agar tidak ragu untuk mencoba dan tidak takut menghadapi kegagalan.

“Kalau mau usaha, ya harus berani jatuh dan tanggung jawab. Banyak anak muda kalau jatuh suka nyalahin hal lain. Padahal kalau mau usaha, harus berani jatuh, dan kalau jatuh juga harus tahu gimana cara berdiri lagi. Ya usaha itu ber-usaha sih, berusaha sabar, berusaha mendengarkan” katanya.

Mahendra juga menambahkan bahwa usaha sebaiknya tidak menjadi beban, melainkan sesuatu yang tetap menyenangkan sekaligus produktif.

“Intinya bikin usaha yang tidak jadi beban, tapi menghasilkan. Jangan sampai kita senang-senang tapi tidak menghasilkan. Usaha kan pada akhirnya menghasilkan uang dan tetap menyenangkan,” tambah Mahendra.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |