Liputan6.com, Jakarta - Membangun bisnis artisan bukan hanya soal menciptakan produk yang estetik, tetapi juga menghadapi tantangan memperkenalkan produk ke pasar dan bertahan di tengah persaingan. Hal itu dirasakan Reri Putra (34) dan Mahendra Kurniawan (30) yang akrab disapa Max saat membangun brand artisan Liyer.liyerid.
Bisnis mereka bermula pada 2023 lewat produk press flower frame yang terinspirasi dari hobi berkebun dan merangkai bunga. Namun karena produk custom memiliki perputaran penjualan yang lambat, keduanya kemudian beralih mengembangkan produk wewangian yang dinilai memiliki pasar lebih luas.
Reri dan Max kemudian mempelajari pembuatan scented candle dengan mengikuti workshop, mengenal berbagai jenis bahan, hingga melakukan berbagai percobaan untuk menemukan lilin aroma yang sesuai.
“Lilin jadi produk pertama Liyer.liyerid setelah frame dan akhirnya berkembang ke produk lain,” ujar Reri saat ditemui Liputan6.com pada Sabtu (2/5/2026)
Aroma dengan Sentuhan Tradisional Jawa
Berbeda dari kebanyakan produk lilin aromaterapi di Yogyakarta, Liyer.liyerid memilih menggunakan kombinasi sawit dan kelapa. Keputusan tersebut diambil setelah Reri mempelajari bahan dasar lilin yang umum digunakan di pasaran. Tak hanya dari bahan, aroma juga menjadi ciri khas produk mereka. Jika kebanyakan produk hanya menggunakan satu atau dua bibit parfum, Liyer.liyerid justru memadukan hingga tujuh aroma dalam satu produk agar menghasilkan wangi yang lebih kaya dan berlapis.
“Biasanya cuma satu bahan aja, misalnya vanilla. Kalau aku bisa sampai tujuh, jadi baunya lebih kompleks,” ujar Reri.
Konsep sustainable juga menjadi perhatian utama dalam pengembangan produk. Mereka menghindari penggunaan dekorasi plastik dan memilih menggunakan bunga asli sebagai elemen dekoratif. Selain lebih ramah lingkungan, desain produk juga dibuat lebih aman untuk digunakan.
“Kebanyakan packaging cantik banget tapi masih pakai plastik. Aku pengennya produk yang siap diberikan buat diri sendiri atau orang lain, tapi nggak nyampah,” katanya.
Reri juga mempertimbangkan faktor keamanan dalam desain lilin aromaterapi. Ia sengaja menempatkan dekorasi bunga di sisi gelas, bukan di bagian atas lilin seperti tren yang banyak ditemui di pasaran. Selain itu, nuansa tradisional Jawa turut menjadi identitas kuat dalam setiap aroma yang dikembangkan. Inspirasi tersebut banyak diambil dari pengalaman pribadi dan hal-hal sederhana yang dekat dengan kesehariannya sebagai orang Jawa.
“Inspirasi Liyerliyer itu Jawa, kayak aku yang orang Jawa. jadi aku nggak pengen menghilangkan nuansa Jawa. Aku mikir waktu kecil suka apa ya, oh, aku suka yang anget-anget. Akhirnya kepikiran bikin aroma wedang uwuh dari hal-hal yang ada di sekitarku aja,” kata Reri.
Kini, Liyer.liyerid tidak hanya menghadirkan scented candle, tetapi juga diffuser hingga parfum artisan yang dibuat secara handmade dengan mengusung konsep sustainable
Tantangan Membangun Usaha
Di balik perkembangan Liyer.liyerid, Reri mengaku sempat menghadapi tantangan besar di awal merintis usaha, yakni rasa minder terhadap produknya sendiri. Ia kerap merasa tidak percaya diri dan mempertanyakan apakah produknya cukup bagus untuk diterima pasar.
“Tantangan pertama itu minder. Takut produknya laku enggak ya, bagus enggak ya,” katanya.
Karena belum memiliki pengalaman bisnis, Reri memilih aktif mengikuti berbagai pop up market di Yogyakarta sebagai cara untuk memperkenalkan produknya secara langsung kepada pelanggan. Tak hanya berjualan, ia juga membangun relasi dengan sesama pelaku UMKM dengan mendatangi tenant satu per satu sambil membawa kartu nama.
“Kita benar-benar kayak sales. Satu tenant satu deret aku kenalan satu-satu. Tujuannya cari teman dulu,” ujarnya.
Pendekatan personal tersebut perlahan menjadi cara Reri mengatasi rasa tidak percaya diri. Dukungan dari pelanggan dan sesama pelaku usaha membuatnya semakin yakin dengan kualitas produk yang dibuat.
Dapat Banyak Ilmu Bisnis lewat BRI Incubator 2025
Di tengah proses mengembangkan usaha, Reri mulai mengenal program BRI Incubator 2025 dari Rumah BUMN BRI Yogyakarta melalui rekomendasi sesama pelaku UMKM di Jogja.
“Senior-senior UMKM ada yang pernah ikut BRI Incubator dan menyarankan ikut Rumah BUMN BRI ini aja,” ujar Reri.
Untuk mengikuti program tersebut, peserta harus memenuhi sejumlah syarat seperti memiliki KTP Yogyakarta, terdaftar sebagai member Rumah BUMN, serta lolos proses kurasi. Dari sekitar 300 pendaftar, hanya 25 UMKM yang terpilih mengikuti program BRI Incubator di Yogyakarta.
“Untuk brand yang masih baru, itu pencapaian yang tinggi buat aku,” katanya.
Selama kurang lebih dua minggu, para peserta mengikuti pelatihan tatap muka secara langsung. Dalam program tersebut, peserta tidak hanya belajar teori bisnis, tetapi juga diminta aktif berdiskusi hingga mempresentasikan produk mereka.
Menurut Reri, materi yang diberikan sangat relevan dengan kondisi pelaku UMKM yang sering kali bisa berjualan tetapi belum memiliki sistem bisnis yang rapi. Selama mengikuti program, Reri mengaku mendapat banyak insight baru mengenai keuangan, branding, strategi pemasaran dan lain-lain.
“Kadang pengusaha itu tahu jualan tapi enggak sistematis. Gimana cara promosi, ngitung duit,” ujarnya.
Belajar Strategi Bisnis lewat BRI Incubator di Rumah BUMN Yogyakarta
Bagi Reri, program BRI Incubator di Rumah BUMN Yogyakarta menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan bisnis Liyer.liyerid. Sebab, mereka tidak hanya mendapat pelatihan, tetapi juga pendampingan untuk memahami arah bisnis yang lebih tepat. Salah satu pelajaran yang paling membekas baginya adalah soal pentingnya memilih strategi marketing yang efektif dan tidak sekadar mengikuti tren.
“Itu salah satu materi yang aku dapat dari BRI Incubator juga. Jadi pemasaran itu bisa fokus ke salah satu yang paling oke, daripada habis uang buat marketing,” ujarnya.
Menurut Reri, sebelumnya ia sempat merasa semua platform pemasaran harus dicoba agar bisnis cepat berkembang. Namun lewat pendampingan BRI Incubator, ia mulai memahami bahwa tidak semua bisnis cocok menggunakan strategi yang sama.
Apalagi untuk produk artisan berbasis aroma seperti scented candle dan parfum, pengalaman langsung dari customer dinilai jauh lebih penting dibanding sekadar promosi digital.
“Kalau wangi-wangian itu orang harus experience langsung. Kalau online kadang orang bisa suudzon karena enggak bisa cium aromanya,” jelasnya.
Fokus Pasar Offline
Dari situ, Liyer.liyerid akhirnya memutuskan lebih fokus membangun pasar offline melalui pop up market, interaksi langsung dengan customer, dan pendekatan komunitas. Bagi Reri, strategi tersebut memang tidak instan, tetapi dinilai lebih kuat untuk membangun loyalitas pelanggan dalam jangka panjang.
“Kalau pakai selebgram itu enggak murah dan belum tentu berhasil. Jadi pilih viral jangka pendek atau jangka panjang? Aku pilih yang panjang,” katanya.
Reri juga mulai memahami pentingnya membaca data pasar sebelum menentukan strategi penjualan. Menurutnya, pemahaman tentang target market dan kondisi pasar menjadi hal penting agar langkah bisnis yang diambil lebih tepat sasaran.
Ia mengaku sebenarnya sudah menerapkan hal tersebut sebelumnya. Namun, setelah mendapat penjelasan langsung dari praktisi, ia menjadi lebih yakin dan percaya diri karena merasa strategi yang selama ini dilakukan sudah berada di jalur yang benar.
“Pematerinya juga kasih tahu pentingnya data, misalnya pasar ini pasar itu, target marketnya. Sebelumnya aku udah melakukan itu, tapi karena disampaikan oleh praktisi. Jadi aku lebih yakin dan pede, tervalidasi apa yang aku lakukan itu benar” ujar Reri.
Lebih Percaya Diri Usai Ikut BRI Incubator
Bagi Reri, perubahan terbesar setelah mengikuti BRI Incubator bukan hanya soal ilmu bisnis, tetapi juga rasa percaya diri. Ia merasa lebih yakin menjalankan brand artisan yang masih terbilang baru setelah berhasil lolos seleksi program tersebut.
“Jadi lebih pede sih. Karena dari berapa ratus terus aku kepilih,” ujarnya.
Tak hanya itu, program tersebut juga membuka jaringan baru bagi dirinya. Reri mengaku kini memiliki lebih banyak relasi sesama pelaku UMKM yang masih terus berkomunikasi hingga sekarang.
Saat ini, Liyer.liyerid masih dijalankan berdua. Produksi dilakukan di Magelang saat hari kerja, sementara akhir pekan digunakan untuk mengikuti pop up market di berbagai tempat. Meski dijalankan secara sederhana, mereka terus berusaha memperkuat fondasi bisnis sedikit demi sedikit.
“Kita survive saja alhamdulillah, sekarang lagi menguatkan akar dulu,” kata Reri.
BRI Incubator Jadi Ruang Belajar bagi UMKM
Rumah BUMN BRI Yogyakarta terus menghadirkan ruang belajar dan inovasi bagi pelaku UMKM agar mampu bertumbuh, beradaptasi, dan bersaing di era digital. Melalui berbagai program pendampingan, pelaku usaha dapat memperoleh pelatihan tanpa dipungut biaya serta akses pendaftaran member secara gratis.
Hingga kini, ribuan UMKM binaan Rumah BUMN telah berhasil Go Digital dan tersebar di berbagai kota di Indonesia. Kehadiran Rumah BUMN juga dinilai berperan penting dalam menggerakkan ekonomi lokal, mendorong UMKM naik kelas, mendampingi pengelolaan bisnis digital, hingga membuka lapangan kerja baru di daerah.
Salah satu program unggulan yang dijalankan adalah BRI Incubator, yakni program inkubasi bisnis untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Program ini menjadi bagian dari komitmen BRI dalam membantu pelaku usaha mengembangkan kapasitas bisnis secara berkelanjutan.
Sejalan dengan itu, Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengatakan, strategi bisnis mikro BRI ke depan tidak hanya berfokus pada pembiayaan, tetapi juga memperkuat pemberdayaan UMKM melalui berbagai program pendampingan dan pengembangan usaha.
“Secara umum, strategi Bisnis Mikro BRI ke depan akan fokus pada pemberdayaan berada di depan pembiayaan. BRI sebagai bank yang berkomitmen kepada UMKM, telah memiliki kerangka pemberdayaan yang dimulai dari fase dasar, integrasi hingga interkoneksi,” ujar Supari, dikutip dari BRI.
Pendekatan tersebut juga dirasakan langsung oleh Reri Putra saat mengikuti program BRI Incubator di Rumah BUMN Yogyakarta. Menurutnya, program tersebut membantu dirinya memahami strategi pemasaran, pengelolaan keuangan, hingga pentingnya membaca pasar sesuai karakter bisnis yang dijalankan.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5837814/original/050065200_1778739902-1001254906.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5765601/original/011920400_1778668655-liyer_liyer.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5694149/original/042354700_1778571218-Toko_El_Dura3.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5695935/original/053486800_1778573743-WhatsApp_Image_2026-05-11_at_12.36.26__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5690362/original/086724500_1778565944-IMG-20260512-WA0018.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5680391/original/089840300_1778551471-1002025136.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5675357/original/041317100_1778543762-1000839980.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5672766/original/057177600_1778493565-1001245401.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5593435/original/096812000_1778151503-seserahan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5672651/original/071781500_1778488036-1001244799.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5672392/original/088703500_1778479164-WhatsApp_Image_2026-05-11_at_12.36.24__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5672399/original/057200500_1778479599-gunung_dukono_1105.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5669107/original/035812700_1778414829-WhatsApp_Image_2026-05-10_at_19.01.42.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5662313/original/065111900_1778316295-1001237745.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5644004/original/033633400_1778250972-takoyaki__6_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5662288/original/068635600_1778313194-Wallace_Wiley_raih_doktor_kehormatan_honoris_causa.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5641668/original/009609200_1778246924-cheeryl_aksesori__8_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5658716/original/022551100_1778287545-IMG-20260508-WA0071.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5639904/original/057571400_1778243845-gempa_keerom.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5626236/original/081455600_1778221033-gunung_dukono_0805.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2408415/original/054935400_1542192174-Pasar-saham-Indonesia5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4883222/original/037561100_1720093648-20240704-IHSG-ANG_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3068178/original/077295500_1583319244-20200304-Dilanda-Corona_-IHSG-Ditutup-Melesat-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4215634/original/079831800_1667629579-Antusias_Warga_Perpanjang_SIM_di_Pelayanan_SIM_Keliling_Polresta_Bogor_Kota-Aida-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5384514/original/093137400_1760785093-Kepala_Eksekutif_Pengawasan_Perilaku_Jasa_Keuangan__Edukasi_dan_Perlindungan_Konsumen_OJK_Friderica_Widyasari_Dewi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5344976/original/094862600_1757498720-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4220931/original/010439400_1668038510-Laba_Rugi_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460685/original/076880100_1767264471-close-up-man-preparing-steal-motorcycle.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5458903/original/073984900_1767108528-Tito_Karnavian.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4938277/original/097146100_1725613636-WhatsApp_Image_2024-09-06_at_15.36.00.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3356531/original/022216000_1611299595-20210122-IHSG-8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/702138/original/ilustrasi-migas-chevron-140703-andri.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5016222/original/090950100_1732188163-20241121_113330.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1505536/original/011475000_1486967390-Pembukaan-Saham3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477336/original/028314700_1768817019-P90627558_highRes_bmw-m-electrified-01__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485810/original/029404300_1769561690-Pabrik_sandal_Swallow_terbakar__2_.jpeg)