Bursa Asia Dibuka Hijau usai Perundingan AS-Iran Tunjukkan Kemajuan

18 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia diproyeksikan menguat pada perdagangan Selasa ini setelah investor merespons positif perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Optimisme tersebut muncul meski pasar saham Wall Street ditutup melemah akibat aksi jual pada saham-saham teknologi.

Mengutip CNBC, Selasa (23/6/2026), sejumlah indikator menunjukkan bursa Asia berpotensi mengawali perdagangan di zona hijau. Indeks Nikkei 225 Jepang diperkirakan menguat setelah kontrak berjangka di Chicago berada di level 73.020 dan kontrak di Osaka mencapai 73.090.

Posisi tersebut lebih tinggi dibandingkan penutupan sebelumnya di level 72.353,96.

Optimisme serupa juga terlihat di Hong Kong. Kontrak berjangka indeks Hang Seng tercatat berada di level 23.830, lebih tinggi dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 23.768,52.

Sementara itu, pasar saham Australia juga diproyeksikan menguat. Kontrak berjangka S&P/ASX 200 terakhir diperdagangkan pada level 8.831, di atas posisi penutupan sebelumnya yang berada di 8.816,10.

Pelaku pasar menyambut positif kabar kemajuan pembicaraan antara AS dan Iran yang berlangsung di Swiss. Harapan tercapainya kesepakatan dinilai dapat mengurangi risiko geopolitik yang selama ini membayangi pasar keuangan global.

Selain itu, sentimen positif juga datang dari melemahnya harga minyak dunia yang berpotensi mengurangi tekanan inflasi di sejumlah negara.

Kontrak Berjangka AS

Kontrak berjangka indeks S&P 500 bergerak mendatar pada perdagangan Senin malam waktu AS setelah tekanan di sektor teknologi menyeret indeks saham utama Wall Street. Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,1%, sedangkan Nasdaq 100 futures melemah 0,2%.

Di sisi lain, kontrak berjangka yang terkait dengan Dow Jones Industrial Average justru naik 22 poin atau kurang dari 0,1%.

Pada perdagangan reguler, indeks S&P 500 ditutup turun 0,37% akibat pelemahan saham teknologi. Sementara itu, Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi merosot 1,32%.

Berbeda dengan dua indeks tersebut, Dow Jones berhasil menguat 148,01 poin atau 0,29% berkat kenaikan saham produsen alat berat Caterpillar.

Meski Wall Street bergerak beragam, investor di kawasan Asia cenderung fokus pada perkembangan geopolitik yang dinilai mampu meredakan ketidakpastian global, terutama terkait hubungan AS dan Iran.

Saham Teknologi AS Tertekan, Investor Beralih ke ETF

Di Wall Street, investor terlihat mulai mengurangi eksposur terhadap saham-saham teknologi raksasa yang selama ini dikenal sebagai kelompok "Magnificent Seven".

Saham Amazon anjlok hampir 5%, sedangkan Meta Platforms turun sekitar 2%. Alphabet bahkan merosot 5% dan mencatat kinerja harian terburuk dalam lebih dari satu tahun terakhir setelah muncul kekhawatiran terkait hengkangnya dua peneliti kecerdasan buatan (AI) ternama ke perusahaan pesaing.

Sementara itu, perusahaan roket milik Elon Musk, SpaceX, turun 16% dan mencatat tiga sesi perdagangan negatif secara beruntun.

Kepala Strategi Investasi Charles Schwab, Liz Ann Sonders, menilai sektor teknologi dan AI masih menjadi perhatian investor ritel, meski pola investasinya mulai berubah.

"Apa pun yang berkaitan dengan AI dan teknologi masih menjadi fokus perhatian investor ritel. Hanya saja, mereka tidak lagi seaktif dulu dalam bertransaksi pada saham-saham individual," kata Sonders.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |