Superbank Cetak Laba Rp 100 Miliar Kuartal I 2026, Intip Strategi di Baliknya

1 hour ago 4

Liputan6.com, Jakarta - PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) mencatatkan kinerja keuangan yang solid pada Kuartal I 2026. Bank digital yang didukung oleh Grab, Emtek, Singtel, KakaoBank, dan GXS Bank ini membukukan Laba Sebelum Pajak (Profit Before Tax) sebesar Rp100 miliar.

Capaian tersebut meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hasil ini sekaligus mempertegas momentum pertumbuhan perusahaan setelah melantai di bursa melalui IPO pada Desember 2025.

Presiden Direktur Superbank, Tigor M Siahaan, mengatakan, kinerja kuartal pertama ini menunjukkan bahwa strategi kami dalam membangun bank dengan layanan digital berbasis ekosistem semakin memberikan hasil yang nyata,"jelas dia dalam keterangan tertulis, Rabu (29/4/2026).

Tigor melanjutkan, pertumbuhan yang dicapai tidak hanya cepat, tetapi juga berkualitas, dengan fundamental yang semakin kuat serta didukung oleh tingkat kepercayaan nasabah yang terus meningkat.

"Kami juga melihat momentum pertumbuhan ini akan terus berlanjut, didukung oleh fundamental yang kuat serta permodalan yang solid dengan CAR di level 84,1%, sambil tetap menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan melalui penerapan prinsip kehati-hatian,” tambah dia.

Capaian ini mencerminkan keberhasilan strategi bisnis yang dijalankan secara disiplin, dengan fokus pada penguatan ekosistem digital dan manajemen risiko yang prudent.

Pertumbuhan Aset, Kredit, dan Dana Nasabah Menguat

Kinerja positif Superbank pada Kuartal I 2026 ditopang pertumbuhan di berbagai indikator utama. Total aset tercatat mencapai Rp23,9 triliun atau tumbuh 70,54% secara tahunan (YoY).

Penyaluran kredit juga meningkat signifikan menjadi Rp11,4 triliun, naik 50,34% YoY. Pertumbuhan ini didorong oleh penetrasi layanan digital serta penguatan produk Pinjaman Atur Sendiri (PAS).

Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) melonjak 103,89% YoY menjadi Rp14,4 triliun. Kenaikan ini mencerminkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan digital yang ditawarkan.

Selain itu, Pendapatan Bunga Bersih (NII) meningkat 90,97% YoY menjadi Rp504 miliar. Return on Equity (ROE) juga naik ke level 4,13%, menunjukkan peningkatan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba.

Efisiensi operasional terus membaik dengan Cost to Income Ratio (CIR) turun menjadi 57,19%. Sementara itu, kualitas aset tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross di level 2,10%.

Sinergi Ekosistem Dorong Ekspansi dan Inklusi Keuangan

Pertumbuhan pesat Superbank tidak lepas dari kekuatan model bisnis berbasis ekosistem. Integrasi dengan platform digital seperti Grab dan OVO menghadirkan layanan keuangan yang lebih mudah diakses dan relevan bagi nasabah.

Melalui inovasi produk seperti OVO Nabung by Superbank, Kartu Untung bersama KakaoBank, serta Pinjaman Atur Sendiri (PAS), perusahaan mampu mempercepat akuisisi nasabah dan meningkatkan volume transaksi.

Sejak peluncuran layanan digital pada Juni 2024, Superbank telah melayani lebih dari 6 juta nasabah. Aktivitas transaksi pun terus meningkat dengan volume harian yang telah melampaui 1 juta transaksi.

Memasuki sisa tahun 2026, Superbank berencana melanjutkan ekspansi melalui inovasi teknologi, pendalaman segmen ritel dan UMKM, serta optimalisasi sinergi dalam ekosistem digital. Langkah ini diharapkan dapat memperluas akses layanan keuangan secara inklusif sekaligus menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |