Kimia Farma Susun Strategi Kejar Potensi Pasar Lansia Rp 700 Triliun

15 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) mulai menyiapkan strategi jangka panjang untuk menyambut peningkatan populasi lansia yang diproyeksikan menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Perusahaan farmasi pelat merah tersebut melihat segmen usia lanjut sebagai pasar kesehatan dengan nilai ekonomi yang sangat besar, mencapai Rp 500 triliun hingga Rp 700 triliun per tahun pada 2045.

Berdasarkan proyeksi, jumlah lansia akan mencapai sekitar 20% dari total penduduk Indonesia pada 2045, meningkat dari sekitar 12% pada 2026. Perubahan struktur demografi ini mendorong Kimia Farma menyusun Silver Economy Blueprint sebagai strategi untuk membangun ekosistem layanan kesehatan lansia yang terintegrasi.

Direktur Komersial Kimia Farma, Hanadi Setiarto, kelompok lansia saat ini menyerap sekitar 30%-40% belanja kesehatan nasional atau setara Rp 190 triliun hingga Rp 260 triliun per tahun.

"Angka tersebut tergolong tinggi karena kebutuhan layanan kesehatan lansia mencapai tiga hingga lima kali lebih besar dibanding kelompok usia lainnya," jelas dia dikutip Selasa (16/6/2026).

Selain itu, sekitar 70% pembiayaan kesehatan lansia masih didominasi penanganan penyakit kronis. Kondisi tersebut membuat kebutuhan layanan kesehatan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia.

Kimia Farma Bangun One-Stop Solution untuk Kesehatan Lansia

Di tengah tren kenaikan biaya kesehatan dan obat-obatan, Kimia Farma melihat perubahan demografi ini sebagai peluang untuk melakukan reorientasi bisnis. Perusahaan tidak lagi hanya berfokus pada layanan kuratif, tetapi juga memperkuat layanan preventif dan rehabilitatif yang dinilai akan menjadi porsi terbesar pasar kesehatan masa depan.

KAEF memperkirakan sekitar 70% nilai pasar Silver Economy akan berasal dari ekosistem layanan kesehatan terintegrasi. Segmen tersebut mencakup layanan Home Care dan Long-Term Care sebesar 20%, Chronic Care Management 20%, Wellness dan Preventive Care 15%, serta layanan diagnostik sebesar 15%.

Untuk mendukung strategi tersebut, Kimia Farma Group mengembangkan konsep one-stop solution yang mendampingi masyarakat di berbagai tahapan usia. Melalui portofolio Healthspan, perusahaan menghadirkan berbagai layanan kesehatan mulai dari produk farmasi, obat herbal, hingga layanan kesehatan yang lebih personal.

Peran penting juga dijalankan oleh PT Kimia Farma Diagnostika (KFD) yang menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan, skrining dini, dan Medical Check-Up (MCU) khusus lansia. Layanan ini dirancang untuk membantu deteksi dini berbagai penyakit kronis yang umum dialami kelompok usia lanjut.

Keterbatasan SDM dan Infrastruktur Jadi Tantangan

Selain layanan diagnostik, Kimia Farma juga memperkuat layanan home care sebagai solusi bagi lansia yang memiliki keterbatasan mobilitas. Layanan tersebut mencakup Home Lab, Home Pharmacy, dan Home Nurse yang dapat diakses langsung dari rumah pasien.

Meski demikian, pembangunan ekosistem Healthy Ageing di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Dari sisi regulasi, layanan home care belum terintegrasi secara optimal dan pembiayaan layanan preventif masih terbatas. Sementara dari sisi sumber daya manusia, Indonesia masih kekurangan tenaga caregiver dan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi khusus di bidang geriatri.

Tantangan lain datang dari aspek infrastruktur. Lansia yang berada di luar kota-kota besar masih menghadapi keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan yang dirancang khusus untuk kelompok usia lanjut.

Hanadi menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk mengatasi berbagai hambatan tersebut. Menurut dia, Kimia Farma memiliki keunggulan melalui jaringan apotek, klinik, dan laboratorium yang tersebar di berbagai daerah.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |