Gowes Jadi Jalan Tengah Saat Efisiensi BBM, Cerita Pekerja Bandar Lampung Menjaga Mobilitas dan Dompet

6 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Kebijakan efisiensi bahan bakar minyak (BBM) mulai terasa dalam denyut kehidupan warga di Kota Bandar Lampung. Bagi sebagian pekerja, kondisi ini bukan sekadar soal antrean atau harga, tetapi memaksa perubahan gaya hidup, dari yang sebelumnya bergantung pada kendaraan bermotor, kini beralih ke sepeda demi bertahan.

Di tengah situasi tersebut, muncul cerita-cerita sederhana namun kuat tentang adaptasi, pengorbanan, hingga cara baru menikmati aktivitas harian.

Aditya Mancini (29), karyawan dealer sepeda motor di Bandar Lampung, merasakan langsung dampak kebijakan efisiensi BBM. Dia mengaku mulai mengurangi penggunaan motor dan beralih ke sepeda untuk aktivitas kerja.

“Pengaruhnya sangat terasa. Harga BBM sudah tidak murah, ditambah isu kelangkaan. Akhirnya saya beralih ke sepeda untuk menekan pengeluaran,” kata Aditya kepada Liputan6.com Kamis (9/4/2026).

Sebelumnya, ia menghabiskan sekitar Rp 50 ribu per minggu untuk BBM, angka yang sebenarnya tergolong hemat. Namun, kekhawatiran akan kenaikan biaya membuatnya memilih opsi lain.

Dengan jarak tempuh sekitar 10-11 kilometer dari rumah ke tempat kerja, Aditya kini membutuhkan waktu sekitar 30 menit bersepeda, dua kali lebih lama dibanding menggunakan motor yang hanya 10-15 menit. Meski begitu, ia melihat sisi positif dari perubahan itu.

“Selain hemat, saya juga dapat sehatnya. Bahkan bisa dapat teman baru dari komunitas sepeda,” ungkapnya.

Namun, tantangan tetap ada. Tanjakan menjadi musuh utama dalam perjalanan pulang. Belum lagi kondisi tubuh yang berkeringat membuatnya harus menyiapkan pakaian ganti di kantor.

"Kalau berangkat kadang saya mesti mandi lagi di kantor gitu ya karena keringatan sedikit. Ya kadang agak buat enggak nyaman juga kalau kerja kan. Terus kalau pulang tuh biasanya, yang agak effort banget karena kebanyakan nanjak kalau pulang," tuturnya.

Perjalanan Lebih Lama, Tantangan Lebih Nyata

Cerita serupa datang dari Reyhan, karyawan toko onderdil truk di Teluk Betung. Ia memilih bersepeda setiap Sabtu untuk menghemat BBM.

Jika menggunakan motor, perjalanan ke tempat kerja hanya memakan waktu sekitar 20 menit. Namun dengan sepeda, ia harus mengayuh hingga 1,5 jam.

“Lumayan capek, tapi ya demi hemat BBM,” katanya.

Pengalaman tak terduga juga kerap terjadi. Salah satunya saat rantai sepeda lepas di tengah perjalanan.

“Pernah kejadian rantai copot pas berangkat. Enggak bawa alat, jadi dibenerin pakai tangan saja,” jelas dia.

Meski begitu, ia tetap menyikapi kondisi itu dengan santai dan bahkan berencana menambah frekuensi bersepeda jika efisiensi BBM terus berlanjut.

Jarak Dekat, Sepeda Jadi Pilihan

Sementara itu, Gema Rizky (26), karyawan ritel, mulai membiasakan diri menggunakan sepeda untuk perjalanan jarak dekat, sekitar 1-5 kilometer.

“Kalau jarak dekat sekarang lebih enak naik sepeda. Lebih sehat dan hemat,” katanya.

Ia bahkan menggunakan sepeda untuk kebutuhan harian seperti membeli makanan atau belanja kecil. Menurutnya, efisiensi BBM membawa dua sisi.

“Ada positifnya karena orang jadi lebih sehat. Tapi juga ada kekhawatiran kalau kebijakan ini berlangsung lama,” ungkapnya.

Fenomena menarik pun muncul. Sepeda kini kembali diminati, bahkan kerap menarik perhatian orang lain.

“Pernah sepeda saya ditawar orang di jalan,” kata Gema sambil tertawa.

Hemat BBM, Tapi Waktu Harus Diatur Ulang

Bagi Ridho Catur (28), pelaku seni di Bandar Lampung, efisiensi BBM mulai memengaruhi ritme kerjanya, terutama saat harus berpindah lokasi untuk tampil atau latihan.

Ia mengaku kini lebih selektif menggunakan kendaraan bermotor dan mulai beralih ke sepeda untuk perjalanan yang tidak terlalu mendesak.

“Kalau tidak urgent, kami pilih naik sepeda. Tapi konsekuensinya harus berangkat lebih awal,” ujarnya.

Catur bilang, waktu tempuh menjadi tantangan tersendiri. Ia harus berangkat setidaknya 30 menit lebih awal agar tidak terlambat dan punya waktu untuk memulihkan kondisi sebelum tampil.

Meski demikian, ia justru merasakan manfaat dari sisi kesehatan.

“Badan jadi lebih fresh karena sekalian olahraga,” katanya.

Namun dari sisi ekonomi, ia menilai kebijakan efisiensi BBM masih terasa memberatkan.

“Pendapatan tidak naik, tapi harga-harga naik. Itu yang terasa berat,” keluhnya.

Komunitas Sepeda: Antara Tren dan Kebutuhan

Ketua komunitas sepeda (Magic Sunday) di Bandar Lampung, Yordan Saputra, melihat tren bersepeda kembali meningkat, terutama di kalangan anak muda.

Ia menyebut, sekitar 60-70 persen anak muda merespons positif gerakan bersepeda yang kini kembali ramai.

“Ini movement yang tumbuh organik. Dari satu teman ke teman lain, makin banyak yang ikut,” kata Odan, sapaan akrabnya.

Meski sudah lama bersepeda, ia mengakui kondisi antrean BBM dan pembatasan distribusi turut mendorong masyarakat mencari alternatif.

Namun, ia juga menyoroti aspek keselamatan yang masih menjadi kendala, terutama bagi pekerja yang harus melintasi jalan besar dengan kendaraan berat.

Harapan: Kebijakan Lebih Bijak dan Fasilitas Memadai

Di balik berbagai adaptasi tersebut, para pekerja berharap pemerintah dapat lebih bijak dalam menerapkan kebijakan efisiensi BBM.

Selain menjaga harga tetap terjangkau, mereka juga menyoroti pentingnya dukungan fasilitas, seperti jalur khusus sepeda untuk menjamin keselamatan pengguna.

“Kalau memang mau dorong orang bersepeda, fasilitasnya juga harus diperhatikan,” tambah Aditya.

Efisiensi BBM memang mendorong perubahan. Namun di balik itu, tersimpan cerita tentang usaha masyarakat menjaga keseimbangan antara kebutuhan, pengeluaran, dan kualitas hidup.

Di jalanan Bandar Lampung, deru mesin mungkin mulai berkurang. Sebagai gantinya, kayuhan sepeda perlahan menjadi simbol adaptasi, bahwa di tengah keterbatasan, selalu ada cara untuk tetap melaju.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |