15 Perusahaan Proses IPO, Mayoritas Punya Aset Jumbo

8 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat 15 perusahaan dalam proses penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) hingga kini. Mayoritas perusahaan itu memiliki aset skala besar.

“Sampai dengan 22 Mei 2026 telah tercatat satu perusahaan yang mencatatkan saham  di BEI dengan dana dihimpun Rp 0,30 triliun,” ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna, ditulis Sabtu (23/5/2026).

Ia menambahkan, hingga kini terdapat 15 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI. Dari 15 perusahaan itu, 11 perusahaan aset skala besar atau aset di atas Rp 250 miliar. Sisanya empat perusahaan aset skala menengah atau aset antara Rp 50 miliar-Rp 250 miliar. Sedangkan perusahaan aset skala kecil atau aset di bawah Rp 50 miliar belum ada yang mengajukan. Adapun klasifikasi aset perusahaan itu berdasarkan POJK Nomor 53/POJK.04/2017.

Berikut rincian sektor saham perusahaan yang mengajukan IPO:

  • 0 perusahaan dari sektor basic materials
  • 3 perusahaan dari sektor consumer siklikal
  • 3 perusahaan dari sektor consumer nonsiklikal
  • 1 perusahaan dari sektor energi
  • 1 perusahaan dari sektor keuangan
  • 3 perusahaan dari sektor perawatan kesehatan
  • 0 perusahaan dari sektor industri
  • 2 perusahaan dari sektor infrastruktur
  • 0 perusahaan dari sektor properti dan real estate
  • 2 perusahaan dari sektor teknologi
  • 0 perusahaan dari sektor transportasi dan logistik

Selain itu, BEI juga telah menerbitkan 62 emisi dari 40 penerbit efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) dengan dana dihimpun Rp 68,10 triliun.Hingga 22 Mei 2026 terdapat 47 emisi dari 33 penerbit EBUS yang sedang berada dalam pipeline dengan klasifikasi sektor antara lain:

  • 2 perusahaan dari sektor basic materials
  • 0 perusahaan dari sektor consumer siklikal
  • 2 perusahaan dari sektor consumer nonsiklikal
  • 6 perusahaan dari sektor energi
  • 12 perusahaan dari sektor keuangan
  • 1 perusahaan dari sektor perawatan kesehatan
  • 2 perusahaan dari sektor industri
  • 7 perusahaan dari sektor infrastruktur
  • 0 perusahaan dari sektor properti dan real estate
  • 1 perusahaan dari sektor teknologi
  • 0 perusahaan dari sektor transportasi dan logistic

Nyoman menuturkan, untuk rights issue, hingga 22 Mei 2026, ada empat perusahaan tercatat atau emiten yang telah menerbitkan rights issue dengan penghimpunan dana Rp 3,89 triliun. BEI mencatat masih terdapat satu emiten dalam pipeline rights issue yang bergerak di sektor properti dan real estate.

IHSG Sepekan Tergelincir, Kapitalisasi Pasar Terpangkas jadi Rp 11.825 Triliun

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan saham 11-13 Mei 2026. Pergerakan IHSG sepekan ini dipengaruhi sejumlah sentimen global dan domestik.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis, (14/5/2026), IHSG turun 3,53% selama tiga hari perdagangan dan ditutup ke 6.723,32. Pada pekan lalu, IHSG naik 0,18 % menjadi 6.969,39. Kapitalisasi pasar juga terpangkas 4,68% menjadi Rp 11.825 triliun dari Rp 12.406 triliun pada pekan lalu.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG merosot 3,53% dan masih didominasi oleh tekanan jual. Dari sisi sentimen, pihaknya melihat sejumlah faktor. Pertama, rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih tinggi di 3,8% YoY, di mana akan membuat suku bunga the Federal Reserve (the Fed) akan cenderung higher for longer atau tinggi dalam jangka waktu lama. Kedua, memanasnya kondisi geopolitik Amerika Serikat-Iran mengenai gencatan senjata dan juga perundingan yang terjadi.

“Ketiga, rilis rebalancing MSCI Indonesia yang berisiko menimbulkan downweighting dan outflow dari pasar Indonesia,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

Sentimen IHSG Lainnya

Faktor keempat, rilis data inflasi China yang cenderung meningkat serta Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Indonesia yang cenderung stabil. Kelima, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang berada di kisaran 17.500. “Faktor keenam, waktu perdagangan yang pendek,” tutur Herditya.

Di sisi lain, rata-rata frekuensi transaksi harian pekan ini juga merosot 0,56% menjadi 2,53 juta kali transaksi dari 2,55 juta kali transaksi pada pekan lalu. Lalu rata-rata nilai transaksi harian terpangkas 18,78% menjadi Rp 18,82 triliun dari Rp 23,05 triliun pada pekan lalu.

Rata-rata volume transaksi harian BEI juga terperosok 22,01% menjadi 35,76 miliar saham dari pekan lalu 45,86 miliar saham. Investor asing melakukan aksi jual saham sekitar Rp 3,21 triliun pada pekan ini. Hal ini berbeda dari pekan lalu yang mencapai Rp 12,6 triliun.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |