Meneropong Prospek IHSG Usai Melesat 4,42%

6 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kini memasuki fase krusial setelah melonjak 4,42% ke level 7.279 pada perdagangan saham Rabu, 8 April 2026. Pengamat pasar modal Hendra Wardana, menilai penguatan ini membawa IHSG ke area penting yang akan menentukan arah pergerakan selanjutnya, apakah mampu melanjutkan tren naik atau justru kembali terkoreksi.

Hendra menyebut posisi IHSG saat ini berada di titik penentuan. Menurutnya, meskipun sentimen global tengah membaik, namun arah indeks dalam jangka pendek hingga menengah masih sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama dinamika geopolitik dan pergerakan harga energi.

"Jika dalam dua minggu ke depan tidak ada kesepakatan permanen atau bahkan terjadi eskalasi ulang, maka pasar berpotensi kembali terkoreksi, terutama jika harga minyak kembali melonjak dan menekan inflasi global," kata Hendra kepada Liputan6.com, Kamis (9/4/2026).

Secara teknikal, IHSG dinilai memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan selama mampu bertahan di atas level psikologis 7.200. Jika level ini terjaga, maka indeks berpotensi bergerak menuju area resistance di kisaran 7.320 hingga 7.350.

"Dari sisi teknikal, IHSG kini memasuki fase penting. Jika mampu bertahan di atas area 7.200, maka peluang melanjutkan penguatan menuju resistance 7.320–7.350 terbuka lebar," ujarnya.

Hendra menyebut, peluang untuk menembus level 7.400 dalam jangka menengah tetap terbuka. Namun, hal ini sangat bergantung pada keberlanjutan aliran dana asing serta stabilitas kondisi global. Jika kedua faktor tersebut mendukung, maka momentum penguatan bisa berlanjut.

"Bahkan, jika didukung oleh aliran dana asing dan stabilitas global, bukan tidak mungkin IHSG kembali menguji area 7.400 dalam jangka menengah," ujarnya.

Risiko Koreksi Mengintai, Waspada Kembali ke 7.000

Di sisi lain, risiko koreksi tetap membayangi jika IHSG gagal mempertahankan posisinya di atas level 7.200. Dalam skenario ini, indeks berpotensi kembali masuk ke fase konsolidasi di kisaran 7.000 hingga 7.100.

Hendra mengingatkan, penguatan yang terjadi saat ini masih didominasi oleh sentimen jangka pendek atau sentiment-driven rally, sehingga rentan terhadap perubahan kondisi global. Ketidakpastian geopolitik, khususnya terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran, menjadi faktor utama yang perlu dicermati.

"Namun sebaliknya, jika gagal bertahan, maka ada potensi kembali ke area konsolidasi 7.000–7.100. Jadi, momentum saat ini bisa dikatakan sebagai titik awal pemulihan, tetapi belum sepenuhnya menjadi trend reversal yang solid," pungkasnya.

Penutupan IHSG pada 8 April 2026

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melambung pada perdagangan saham Rabu, (8/4/2026). Lonjakan IHSG hari ini terjadi di tengah seluruh sektor saham menghijau dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sentuh 17.000.

Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup melonjak 4,42% ke 7.279,20. Indeks saham LQ45 bertambah 4,56% menjadi 733,62. Seluruh indeks saham acuan menguat.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengatatakan, penguatan IHSG sejalan dengan bursa regional Asia yang menguat. Dari sisi sentimen, pihaknya mencermati dengan ada rencana gencatan senjata Amerika Serikat (AS)-Iran dan pembukaan Selat Hormuz.

"Selain itu, turunnya harga minyak dunia menjadi katalis positif tersendiri, meskipun dari dalam negeri masih mencermati akan adanya inflasi dan juga risiko fiskal,” ujar Herditya saat dihubungi Liputan6.com.

Jika dikaitkan dengan FTSE Russell, ia menuturkan, sebenarnya dari FTSE Russell masih mengalami penangguhan untuk indeks Indonesia sehubungan dengan transparansi dan reformasi pasar modal yang sedang dilakukan. FTSE Russell akan mereview kembali saham-saham Indonesia pada Juni 2026.

Sektor Saham

Pada perdagangan saham Rabu pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 7.281,86 dan level terendah 7.118,58. Sebanyak 623 saham menguat sehingga angkat IHSG. 101 saham melemah dan 95 saham diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan saham 2.429.238 kali dengan volume perdagangan saham 43,1 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 22,9 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.005.

Seluruh sektor saham menghijau. Sektor saham basic melonjak 8,79%, dan catat kenaikan terbesar. Sektor saham energi naik 3,85%, sektor saham industri mendaki 6,06% dan sektor saham consumer nonsiklikal bertambah 3,12%.

Selain itu, sektor saham siklikal menanjak 4,39%, sektor saham kesehatan naik 1,85%, sektor saham keuangan bertambah 2,63%, sektor saham properti melesat 3,55%. Lalu sektor saham teknologi mendaki 4,19%, sektor saham infrastruktur menguat 6,27% dan sektor saham transportasi melesat 3,37%.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |