Wall Street Mampu Bangkit Usai Anjlok Akibat Perang AS Vs Iran

21 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street menutup perdagangan Senin dengan pergerakan terbatas setelah sempat tertekan tajam di awal sesi menyusul serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan.

Mengutip CNBC, Selasa (3/3/2026), Indeks S&P 500 naik tipis 0,04% ke level 6.881,62, setelah sebelumnya sempat anjlok hingga 1,2%.

Nasdaq Composite menguat 0,36% menjadi 22.748,86, meski sempat turun 1,6% dalam sesi perdagangan. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 73,14 poin atau 0,15% ke 48.904,78, setelah sebelumnya sempat merosot hampir 600 poin.

Pemulihan pasar didorong oleh beberapa faktor, di antaranya harga minyak AS yang turun dari level tertinggi harian sehingga meredakan kekhawatiran dampak perang terhadap ekonomi.

Selain itu, investor agresif memborong saham-saham teknologi unggulan seperti Nvidia dan Microsoft yang dinilai memiliki fundamental kuat dan cadangan kas besar.

CEO KKM Financial Jeff Kilburg mengatakan, pasar berjangka sempat bereaksi berlebihan terhadap konflik Iran.

“Pasar berjangka bereaksi berlebihan terhadap konflik Iran, menciptakan peluang untuk membeli S&P 500 saat mendekati level terendah 2026,” ujarnya.

“Kami tetap berada dalam tren pasar bullish meskipun ketegangan geopolitik meningkat,” tambahnya.

Saham Teknologi dan Energi Jadi Penopang

Saham Nvidia melonjak hampir 3%, sementara Microsoft naik lebih dari 1%. Dari 11 sektor di S&P 500, hanya empat yang ditutup menguat, yakni energi, industri, teknologi, dan properti.

Serangan udara gabungan AS-Israel dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang menjadi salah satu peristiwa paling signifikan dalam sejarah Republik Islam sejak 1979.

Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi militer terhadap Iran merupakan “kesempatan terakhir dan terbaik” untuk menghilangkan ancaman serius dari rezim tersebut.

Trump juga menyebut Amerika Serikat akan “dengan mudah menang” dan memperkirakan konflik dapat berlangsung empat hingga lima pekan, meski berpotensi lebih lama.

Pejabat Iran berjanji akan melakukan pembalasan keras, memicu kekhawatiran konflik meluas di kawasan Teluk setelah ledakan terdengar di Dubai dan Abu Dhabi.

Harga Minyak Naik, Saham Pertahanan Menguat

Harga minyak mentah AS sempat melonjak hingga 12% sebelum akhirnya memangkas kenaikan. Brent masih naik hampir 8% setelah seorang komandan Garda Revolusi Iran menyatakan Selat Hormuz ditutup.

Gangguan berkepanjangan di jalur tersebut dapat mengguncang pasar energi global sekaligus memicu tekanan inflasi baru.

Ross Mayfield, ahli strategi investasi Baird, mengatakan, “Gangguan dua pekan pada harga minyak tidak akan berdampak besar bagi konsumen AS atau kebijakan suku bunga The Fed, tetapi kenaikan yang berlangsung berbulan-bulan akan memberikan dampak signifikan.”

Saham pertahanan turut menguat, dengan Northrop Grumman naik 6% dan Lockheed Martin melesat lebih dari 3%. Saham energi seperti Exxon Mobil dan Chevron juga mencatat kenaikan.

Pelaku pasar juga mempertimbangkan pola historis, di mana saham biasanya turun di awal konflik geopolitik namun kembali menguat dalam beberapa pekan berikutnya.

Data Wells Fargo menunjukkan S&P 500 umumnya kembali positif dalam dua pekan setelah konflik besar dan rata-rata naik 1% dalam tiga bulan setelahnya.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |