Dirut BRI Beri Tips Investasi Saham saat IHSG Loyo

4 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama (Dirut) PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), Hery Gunardi, menanggapi kondisi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tengah tertekan dengan menekankan pentingnya strategi investasi yang selaras dengan tujuan masing-masing investor.

Ia menyampaikan, sebelum mengambil keputusan di pasar modal, investor perlu memahami terlebih dahulu orientasi investasinya, baik jangka pendek maupun jangka panjang, terutama di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.

“Ini melihatnya dari angle investor. Kalau investor di pasar modal itu ada beberapa objektif begitu, ada yang jangka pendek, ada yang jangka panjang,” ujar Hery saat konferensi pers kinerja kuartal I 2026 BRI, Kamis (30/4/2026).

Hery menuturkan, bagi investor jangka panjang, misalnya 5 hingga 20 tahun, pendekatan yang disarankan adalah memilih saham dengan fundamental kuat atau kategori blue chip. Dalam konteks ini, ia mencontohkan saham BBRI sebagai salah satu pilihan yang memiliki fundamental baik.

Ia menekankan, investor jangka panjang tidak perlu terlalu terpengaruh oleh fluktuasi harga saham harian. Menurut dia, pergerakan naik turun dalam jangka pendek tidak seharusnya menjadi fokus utama bagi investor dengan orientasi jangka panjang.

“Maksudnya apa? Anda gak usah terlalu lihat, karena kita seperti saya juga adalah investor yang jangka menengah dan jangka panjang. Kita gak usah lihat harga saham naik turun, naik turun itu bikin namanya tekanan darah naik juga begitu,” jelas Hery.

Ia juga menambahkan, strategi investasi harus konsisten dengan tujuan awal. Pendekatan untuk investor jangka pendek seperti trading tentu berbeda dengan mereka yang berinvestasi untuk jangka panjang, yang membutuhkan kesabaran dan perspektif waktu yang lebih panjang.

BRI Rutin Stress Test di Tengah Ketidakpastian Global, Ini Tujuannya

Sebelumnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menegaskan telah melakukan uji ketahanan (stress test) secara berkala untuk mengantisipasi berbagai potensi risiko di tengah ketidakpastian ekonomi global. 

Direktur Manajemen Risiko BRI, Ety Yuniarti, mengatakan langkah ini dilakukan secara konsisten, baik dalam kondisi normal maupun saat terjadi gejolak global.

“Kami secara rutin sebetulnya, apalagi pas ada di Indonesia Global atau tidak, setiap bulan kami rutin melakukan stress test,” ujar Ety dalam Konferensi Pers, Kamis (30/4/2026).

Ety menjelaskan, dalam pelaksanaan stress test tersebut, perseroan menggunakan sejumlah parameter utama yang mencerminkan kondisi makroekonomi dan pasar keuangan. Parameter tersebut antara lain pertumbuhan ekonomi (GDP growth), inflasi, price to earnings (PE) ratio, nilai tukar dolar AS, hingga yield obligasi tenor 10 tahun. Selain itu, harga minyak juga menjadi salah satu indikator yang saat ini dinilai relevan dalam mengukur tekanan eksternal.

“Kalau misalnya iya, kami pun sudah melakukan asumsi pesimistik di sisi stress test, dan insya Allah dari sisi posisi pemodalan dan likuiditas masih relatif memadai. Jadi untuk menyerap potensi tekanan yang mungkin terjadi apabila oil price sampai dengan 100,” pugkasnya.

Proyeksi Kinerja Perseroan

Sebelumnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) memproyeksikan kinerja perseroan pada 2026 tetap berada dalam jalur yang telah ditetapkan, meski di tengah dinamika geopolitik dan kondisi ekonomi global yang masih berfluktuasi.

Wakil Direktur Utama BRI Viviana Dyah Ayu Retno Kumalasari menyampaikan bahwa perseroan telah menetapkan proyeksi pertumbuhan yang cenderung moderat untuk tahun ini, dengan mempertimbangkan berbagai faktor eksternal.

“Secara umum sebenarnya di tahun 2026 guidance pertumbuhan yang kami sampaikan itu memang cukup moderat ya. Jadi kalau teman-teman lihat itu loan growth itu kita berikan guidance estimasi kami akan tumbuh 7-9% year on year. Kami lihat bahwa sampai dengan kinerja BRI di bulan Maret 2026 itu masih di jalur yang sesuai dengan rencana bisnis yang telah kami buat sebelumnya,” ujar Viviana dalam Konferensi Pers, Kamis (30/4/2026).

Ia menjelaskan, kondisi fundamental ekonomi domestik yang relatif stabil menjadi salah satu faktor pendukung keyakinan tersebut. Konsumsi masyarakat serta aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dinilai masih konsisten menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.

“Sehingga memang kalau kita lihat kondisi saat ini termasuk guidance yang kami berikan, kami belum merasa adanya kebutuhan untuk melakukan revisi terhadap rencana bisnis bank. Tetapi memang kami akan tetap alert, tetap melihat situasi sehingga kami dapat bersikap lebih adaptif terhadap perkembangan kondisi eksternal terutama dan kami akan melakukan penyesuaian apabila nanti memang kami rasa diperlukan,” jelasnya.

BRI menegaskan akan terus mencermati perkembangan kondisi global dan domestik guna menjaga kinerja tetap optimal, sekaligus memastikan fleksibilitas dalam merespons perubahan yang terjadi.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |