Investor Beralih ke Aset Safe Haven, Emas dan Obligasi Diburu di Tengah Konflik AS-Iran

9 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Laporan terbaru dari DBS menyoroti meningkatnya arus dana ke aset safe haven seiring eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Ketidakpastian geopolitik yang membesar dinilai mendorong investor untuk mengurangi eksposur pada aset berisiko dan beralih ke instrumen yang lebih defensif.

Melansir laporan DBS bertajuk Market Pulse, Senin (2/3/2026), DBS memperkirakan pola flight to safety akan semakin menguat dalam waktu dekat. Investor global disebut cenderung memburu obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasuries) serta emas sebagai instrumen lindung nilai portofolio.

“Kami memperkirakan pola pelarian ke aset aman akan terjadi pada pekan ini seiring investor berbondong-bondong masuk ke obligasi pemerintah AS dan emas,” isi laporan tersebut

Menurut DBS, krisis Iran menjadi katalis utama yang memperkuat daya tarik emas sebagai aset perlindungan terhadap gejolak geopolitik. Ketegangan yang berpotensi berkepanjangan meningkatkan kebutuhan investor untuk menjaga stabilitas portofolio di tengah volatilitas pasar.

“Seiring berlanjutnya krisis Iran, kami melihat adanya pendorong kuat bagi emas karena investor berupaya melindungi portofolio mereka dari tekanan risiko geopolitik.”

Selain emas, obligasi pemerintah AS juga diperkirakan menjadi tujuan utama aliran dana karena dianggap sebagai instrumen paling aman di tengah ketidakpastian global. Perpindahan dana ini mencerminkan meningkatnya sikap hati-hati pelaku pasar terhadap risiko konflik yang dapat berdampak luas pada ekonomi dan stabilitas keuangan dunia.

DBS menilai selama ketegangan geopolitik belum mereda, aset lindung nilai berpotensi tetap menjadi pilihan utama investor global.

Iran Tegaskan Tidak Akan Bernegosiasi dengan AS

Sebelumnya, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani pada Senin (2/3/2026) membantah klaim pihaknya berupaya memulai kembali perundingan dengan Amerika Serikat (AS).

Pernyataan tersebut disampaikan Larijani melalui platform media sosial X sebagai tanggapan atas laporan yang menyebut Iran telah melakukan inisiatif baru untuk bernegosiasi dengan AS.

Merujuk pada laporan Al Jazeera yang mengutip The Wall Street Journal, yang menyatakan bahwa Larijani berusaha melanjutkan kembali perundingan dengan Washington melalui Oman, ia menegaskan, "Kami tidak akan bernegosiasi dengan AS."

Dalam unggahan terpisah, Larijani juga menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait Iran.

Ia mengkritik Trump karena dinilai telah membawa kawasan ke dalam kekacauan melalui apa yang disebutnya sebagai "ilusi kosong".

Larijani mengatakan, "Dia sekarang khawatir akan kerugian lebih lanjut dari tentara AS. Dengan delusinya sendiri, ia telah mengubah slogan 'America First' menjadi 'Israel First' dan mengorbankan pasukan Amerika demi hasrat kekuasaan Israel."

Pejabat Senior Iran Tewas

Larijani menuding pula Trump telah menyeret para tentara AS beserta keluarga mereka untuk menanggung dampak dari apa yang ia sebut sebagai rangkaian kebohongan baru yang disampaikan presiden AS tersebut.   

Sementara itu, serangan militer gabungan AS dan Israel yang diluncurkan pada Sabtu (28/2) dilaporkan telah menewaskan sejumlah pejabat senior Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei.

Sebagai respons, Teheran melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan negara-negara Teluk. Dalam eskalasi tersebut, tiga personel militer AS dilaporkan tewas dan lima lainnya mengalami luka serius.   

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |