Investor Saham Syariah Tembus 201 Ribu, Jawa Barat dan DKI Masih Mendominasi

6 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) mencatat konsentrasi investor saham syariah masih terkonsentrasi di Pulau Jawa hingga September 2025.

Dari total 201.574 investor saham syariah, sebagian besar berasal dari provinsi-provinsi di Jawa, meski kontribusi luar Jawa mulai menunjukkan pertumbuhan signifikan.

Direktur Infrastruktur Ekonomi Syariah KNEKS, Sutan Emir Hidayat, mengungkapkan bahwa jika dilihat dari sebaran wilayah, investor saham syariah memang masih didominasi provinsi di Jawa seperti Jawa Barat dan DKI Jakarta.

“Kalau kita lihat nih investor di saham syariah ini di provinsinya sudah bisa dilihat. Ternyata yang cukup banyak di Jawa Barat, di DKI, masih banyak di Jawa sih,” kata Sutan dalam Forum Jurnalis Jago, di Kantor Pusat Bank Jago, di Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah investor terbanyak yakni 29.777 investor atau setara 16,03 persen dari total nasional.

Posisi kedua ditempati DKI Jakarta dengan 28.326 investor (15,25 persen), disusul Jawa Timur sebanyak 21.506 investor (11,58 persen). Jawa Tengah dan DI Yogyakarta masing-masing menyumbang 16.956 investor (9,13 persen) dan 10.286 investor (5,54 persen).

Selain itu, Banten turut masuk dalam jajaran provinsi dengan jumlah investor signifikan sebesar 7.893 investor atau 4,25 persen. Data ini menegaskan bahwa konsentrasi investor saham syariah memang masih sangat terpusat di Pulau Jawa.

Kontribusi Luar Jawa

Meski Jawa mendominasi secara individu per provinsi, kontribusi gabungan provinsi luar Jawa cukup besar. Jika digabungkan, provinsi seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, dan provinsi lainnya menyumbang sekitar 53 persen secara kolektif.

“Yang di luar Jawa, di Aceh paling ya. Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan dan provinsi lainnya digabung itu sekitar 53 persen,” ujarnya.

Aceh menjadi provinsi luar Jawa dengan jumlah investor saham syariah terbesar, yakni 6.727 investor (3,62 persen). Disusul Sumatera Utara dengan 5.748 investor (3,09 persen) dan Sumatera Barat sebanyak 5.485 investor (2,95 persen).

Sementara itu, Sulawesi Selatan mencatatkan 5.433 investor atau sekitar 2,92 persen. Adapun provinsi lainnya di luar daftar sepuluh besar menyumbang 25,64 persen terhadap total investor saham syariah nasional.

Tingkat Keaktifan Investor Masih 15 Persen

Dari total 201.574 investor saham syariah, hanya 30.136 investor yang tercatat aktif bertransaksi atau sekitar 15 persen. Artinya, masih terdapat ruang besar untuk meningkatkan engagement dan aktivitas investor di pasar saham syariah.

Adapun per November 2025, total aset pasar modal syariah tumbuh 38,01 persen (YoY), meningkat dari Rp 8.549,74 triliun menjadi Rp 11.799 triliun, dengan pangsa pasar sebesar 47,07 persen.

Pertumbuhan ini tercatat 3,8 kali lipat lebih tinggi dibandingkan pasar modal konvensional yang tumbuh hanya sebesar 9,97 persen (YoY) pada periode yang sama.

Kinerja positif tersebut terutama didorong oleh peningkatan kapitalisasi saham syariah yang mencapai Rp 9.981 86 triliun, serta didukung oleh pertumbuhan aset Sukuk, Reksa Dana, dan SCF Syariah yang mencapai Rp 1.818,01 triliun.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |