Modal Kerja KISI Tembus Rp 1 Triliun, Siap Pacu Transaksi Pasar Modal

1 day ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Tren pertumbuhan investor pasar modal Indonesia berlanjut hingga penghujung 2025. Berdasarkan data industri, jumlah investor telah melampaui 20 juta pada pertengahan Desember 2025, atau meningkat 34,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Seiring bertambahnya basis investor tersebut, PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) melaporkan penguatan pada fundamental usahanya. Perusahaan mencatat Modal Kerja Bersih Disesuaikan (MKBD) menembus Rp 1 triliun pada Agustus 2025. Capaian ini mencerminkan peningkatan kapasitas permodalan sekaligus menjaga stabilitas keuangan perseroan sebagai perusahaan sekuritas.

Manajemen menyebut penguatan struktur modal dilakukan untuk menopang perluasan layanan investasi, mulai dari transaksi saham, obligasi ritel, hingga fasilitas marjin. 

Selain itu, perseroan memberikan promosi bunga marjin sebesar 0,024% per hari selama satu bulan sejak pembukaan akun (berlaku hingga 30 Juni 2026), dengan biaya transaksi 0,13% untuk pembelian dan 0,23% untuk penjualan.

President Director KISI, Kyoung Hun Nam, menyatakan pertumbuhan investor nasional menciptakan peluang bagi perusahaan sekuritas untuk meningkatkan partisipasi transaksi ritel.

“KISI Challenge: The Next Wave (Special Edition) menunjukkan bagaimana kompetisi inovatif dapat mendorong partisipasi aktif dari investor. Melihat peserta meraih hadiah eksklusif seperti BYD Denza dan Hermes, kami semakin terdorong untuk terus menghadirkan program yang bermanfaat dan menyenangkan bagi komunitas investor,” ujarnya, dikutip Minggu (1/3/2026).

Dalam upaya mendorong aktivitas transaksi, KISI juga menyelenggarakan program KISI Challenge: The Next Wave (Special Edition) pada 1 Desember 2025 hingga 30 Januari 2026. Kegiatan ini diikuti lebih dari 5.000 peserta dengan total 777 hadiah senilai Rp 10 miliar.   

IHSG Sepekan Merosot 0,44%, Ini Penyebabnya

Sebelumnya, gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah melemah pada perdagangan saham 23-27 Februari 2026. Analis menilai, koreksi IHSG sepekan didorong sentimen global seperti tensi geopolitik di Timur Tengah.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (28/2/2026), IHSG merosot 0,44% menjadi 8.235,48. Pada pekan lalu, IHSG naik 0,7% ke posisi 8.271,76. Sementara itu, kapitalisasi pasar terpangkas 1,03% menjadi Rp 14.787 triliun dari Rp 14.941 triliun.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksano menuturkan, IHSG melemah 0,44% dan disertai dengan munculnya tekanan jual. Pergerakannya pun belum mampu menembus moving average (MA) 20 harian.

Herditya mengatakan, koreksi IHSG dipengaruhi sejumlah faktor. Pertama, meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Kedua, terkait ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat (AS). Ketiga, denga nada kedua hal tersebut meningkatkan kekhawatiran investor dan mendorong peningkatan harga emas dunia.

“Keempat, warning dari S&P perihal risiko fiskal Indonesia,” kata dia, saat dihubungi Liputan6.com.

Frekuensi dan Nilai Transaksi

Sementara itu, rata-rata frekuensi transaksi harian terpangkas 3,72% menjadi 2,95 juta kali transaksi dari 3,06 juta kali transaksi pada pekan lalu. Investor asing mencatat aksi beli saham Rp 4,90 triliun selama sepekan. Pada pekan lalu, investor asing beli saham Rp 2,07 triliun.

Di sisi lain, kenaikan tertinggi terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian sebesar 25,35% menjadi Rp 29,52 triliun dari Rp 23,89 triliun pada pekan lalu. Kenaikan juga dialami oleh rata-rata volume transaksi harian BEI yakni sebesar 8,55% menjadi 51,02 miliar saham dari 47 miliar asham pada pekan lalu. 

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |