Anak Usaha TOWR Perpanjang Fasilitas Kredit Rp 1,5 Triliun dengan Bank Mandiri 

15 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) melalui entitas anaknya resmi memperpanjang fasilitas kredit senilai Rp 1,5 triliun dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Kesepakatan tersebut dituangkan dalam Addendum III Perjanjian Kredit yang ditandatangani pada Rabu, 27 Agustus 2025.

Melansir keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (29/8/2025), dalam perjanjian itu, Bank Mandiri bertindak sebagai pemberi pinjaman, sementara PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) dan PT Iforte Solusi Infotek (Iforte) sebagai peminjam. 

Adapun PT Solusi Tunas Pratama Tbk. (SUPR) berperan sebagai penanggung. Berdasarkan kesepakatan terbaru, jangka waktu fasilitas kredit tersebut diperpanjang hingga 27 Agustus 2026.

Perseroan menegaskan pelaksanaan transaksi ini tidak memiliki dampak negatif yang material terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha TOWR.

Manajemen juga menjelaskan perpanjangan fasilitas kredit ini termasuk dalam kategori transaksi afiliasi sebagaimana diatur dalam Peraturan OJK No. 42 Tahun 2020. Hal ini karena transaksi dilakukan antarperusahaan terkendali dengan kepemilikan saham minimal 99% oleh TOWR, serta mencakup transaksi pinjaman langsung dari bank dan pemberian jaminan atas pinjaman tersebut.

Namun demikian, perseroan menegaskan transaksi ini bukan merupakan transaksi benturan kepentingan dan tidak termasuk transaksi material sebagaimana dimaksud dalam Peraturan OJK No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha.

Menilik Prospek Emiten Menara Telekomunikasi pada Semester II 2025

Penggiat Pasar Modal Indonesia, Reydi Octa menilai, kinerja emiten menara telekomunikasi (telko) masih menjanjikan pada paruh kedua 2025. Salah satu emiten, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), mencatatkan pertumbuhan laba yang lebih unggul dibanding para kompetitornya.

"Semester I 2025 TBIG mencatatkan laba yang tumbuh dua digit yaitu 12,4% YoY melampaui MTEL dan TOWR yang tumbuh masing-masing sekitar +2,8% YoY. Kinerja TBIG mengungguli MTEL dan TOWR dikarenakan pertumbuhan penyewaan organik (tenancy ratio) yang masih sehat seperti yang pernah dipaparkan CEO TBIG, Hardi Wijaya,” ujar Reydi kepada Liputan6.com, Selasa (19/8/2025).

Prospek Menjanjikan

Untuk semester II secara umum prospeknya menjanjikan, dengan adanya katalis positif seperti ekspansi jaringan ke luar Jawa dan perluasan fiber optik agar bisa terdistribusi lebih merata, selain itu penurunan suku bunga bisa menjadi sentimen positif juga untuk sektor ini.

Ia menambahkan, katalis utama yang biasanya ditunggu investor dalam sektor menara telekomunikasi adalah merger antar emiten, ekspansi jaringan, hingga tren penurunan suku bunga yang berdampak pada beban utang. Selain itu, penguatan nilai tukar rupiah juga berpotensi menjadi penopang.

Penggerak Sektor Saham

"Sentimen yang biasa dinantikan untuk penggerak sektor telko di semester II adalah merger emiten, ekspansi jaringan dan fiber optik yang lebih agresif, tren penurunan suku bunga ke depan, juga nilai tukar rupiah yang menguat untuk meringankan beban utang USD," ujar Reydi.

Sementara itu, ia mencatat dana asing lebih memilih masuk ke saham-saham besar, terutama TLKM, dibandingkan emiten menara. Dalam sepekan terakhir, investor asing tercatat membukukan net buy Rp1,47 triliun di saham TLKM, seiring dengan valuasi yang dinilai menarik serta dominasi TLKM di pasar telekomunikasi nasional.

Rapor Emiten Menara Telekomunikasi TOWR, TBIG, dan MTEL

Sebelumnya, emiten-emiten raksasa menara telekomunikasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) membukukan kinerja keuangan yang positif sepanjang semester I 2025.

PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), emiten infrastruktur menara telekomunikasi Grup Djarum, mencatatkan kinerja positif pada paruh pertama tahun ini.

Berdasarkan laporan keuangan semester I 2025, TOWR membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,65 triliun, tumbuh sekitar 3,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp1,60 triliun.

Pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan peningkatan pendapatan perseroan yang naik 3,9 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp6,39 triliun dari sebelumnya Rp6,15 triliun pada semester I 2024.

Segmen penyewaan menara masih menjadi kontributor utama, dengan pelanggan terbesar antara lain XL Axiata (XLSMART) sebesar 42 persen, Indosat Ooredoo Hutchison 35 persen, dan Telkomsel 12 persen dari total pendapatan.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |