3 Saham Prajogo Pangestu yang Lepas dari Perlakukan Khusus MSCI

1 month ago 26

Liputan6.com, Jakarta - MSCI atau Morgan Stanley Capital International secara resmi mencabut status perlakuan khusus terhadap tiga saham yang dimiliki oleh konglomerat nasional, Prajogo Pangestu.

Dalam pengumuman resmi yang dirilis pada hari Senin, 14 Juli 2025, MSCI menyebutkan bahwa ketiga saham tersebut meliputi PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Petrosea Tbk (PTRO), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Sebelumnya, saham-saham ini berada dalam pengawasan karena fluktuasi harga yang dianggap tidak wajar.

Keputusan ini merupakan bagian dari pembaruan MSCI terkait indeks global, di mana mereka menginformasikan bahwa penilaian terhadap ketiga saham tersebut untuk periode Agustus 2025 akan dilakukan dengan menggunakan metode penilaian standar, yaitu Global Investable Market Indexes (GIMI) Methodology.

Dengan dicabutnya perlakuan khusus ini, BREN, PTRO, dan CUAN akan dievaluasi kembali berdasarkan parameter reguler seperti kapitalisasi pasar, likuiditas, dan proporsi kepemilikan saham publik. Hal ini menandakan berakhirnya masa observasi luar biasa yang sebelumnya diberikan MSCI, menyusul tingginya aktivitas dan volatilitas perdagangan yang terjadi di pasar modal domestik.

Dalam dokumen resmi yang dikeluarkan oleh MSCI pada tanggal 11 Juli 2025, dijelaskan bahwa pencabutan status pengecualian ini merupakan bagian dari penyesuaian metodologi dan evaluasi menyeluruh terhadap dinamika pasar yang sedang berlangsung.

Selain itu, pencabutan perlakuan khusus ini juga memberikan kesempatan bagi pergerakan pasar yang lebih terbuka dan transparan untuk ketiga saham tersebut, mengingat MSCI berperan sebagai acuan penting bagi investor institusional serta dana indeks global dalam menyusun portofolionya.

Nilai Saham BREN

Berdasarkan informasi yang dirilis oleh Stockbit pada hari Senin, 14 Juli 2025, harga saham BREN tercatat sebesar Rp 7.175, mengalami kenaikan sebesar 17,62 persen. Saham BREN dibuka dengan harga Rp 7.300, mencatat harga terendah di Rp 6.725 dan harga tertinggi juga di Rp 7.300. Sebelumnya, pada penutupan terakhir, harga saham BREN berada di angka Rp 6.100.

Sementara itu, harga saham PTRO juga menunjukkan tren positif dengan berada di level Rp 3.660, mengalami penguatan sebesar 14,42 persen. Saham PTRO dibuka pada harga Rp 3.600, mencatat harga terendah di Rp 3.450 dan harga tertinggi di Rp 3.700. Pada penutupan sebelumnya, saham PTRO tercatat dengan harga Rp 3.190.

Selain itu, harga saham CUAN mengalami lonjakan yang signifikan, berada di harga Rp 16.975 dengan penguatan sebesar 17,88 persen. CUAN dibuka pada harga Rp 16.400, dengan harga terendah di Rp 15.600 dan harga tertinggi mencapai Rp 17.175. Sebelum ini, pada penutupan terakhir, harga saham CUAN adalah Rp 14.400.

Amati Pergerakan Saham Prajogo Pangestu Menjelang Rencana IPO CDIA.

Pada perdagangan hari ini, Jumat, (20/6/2025), pergerakan saham-saham milik taipan Prajogo Pangestu menunjukkan variasi yang cukup signifikan. Di antara saham-saham tersebut terdapat Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Petrosea Tbk (PTRO). Menyusul pengumuman rencana IPO anak perusahaannya, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), saham TPIA justru mengalami penurunan dan berada di zona merah. Saham TPIA tercatat turun 0,51 persen dan ditutup pada posisi 9.725 di akhir sesi I. Dengan harga tersebut, saham TPIA mengalami penurunan sebesar 2,75 persen dalam seminggu, meskipun masih mencatatkan kenaikan 29,67 persen dari awal tahun.

Sementara itu, saham BREN dan PTRO juga menunjukkan pergerakan negatif. Saham BREN turun 1,22 persen dengan harga penutupan di posisi 6.050. Dalam periode seminggu, saham BREN mengalami penurunan 5,47 persen dan 36,15 persen YTD. Di sisi lain, PTRO mengalami penurunan 0,72 persen dan berakhir di posisi 2.770, yang mencerminkan penurunan 10,93 persen dalam seminggu, meskipun masih mencatatkan kenaikan tipis 0,91 persen YTD. Berbeda dengan saham-saham tersebut, BRPT dan CUAN justru menunjukkan tren positif dengan pergerakan di zona hijau. Saham BRPT naik 3,37 persen dan ditutup pada posisi 1.535, mengalami kenaikan 0,33 persen dalam seminggu dan 63,30 persen YTD. Sementara CUAN juga mencatatkan kenaikan 0,64 persen ke posisi 11.725, dengan kenaikan 0,43 persen dalam seminggu, meskipun mengalami penurunan tipis 0,64 persen YTD.

Penawaran Umum Perdana CDIA

Anak perusahaan Chandra Asri Pacific (TPIA), yaitu Chandra Daya Investasi (CDIA), telah mengumumkan rencana untuk melakukan penawaran umum perdana (IPO) dengan menawarkan hingga 12,5 miliar saham baru, yang setara dengan 10% dari total saham, dengan kisaran harga antara 170 hingga 190 per saham. Dengan demikian, CDIA menargetkan penggalangan dana sekitar 2,1 hingga 2,4 triliun rupiah, yang akan memberikan nilai pasar sekitar Rp 21 hingga 24 triliun rupiah.

Setelah proses IPO, struktur kepemilikan saham CDIA akan terdiri dari TPIA dengan porsi 60%, Phoenix Power/EGCO Group Thailand sebesar 30%, dan masyarakat yang akan memegang 10% sisanya. Diperkirakan, setelah IPO, valuasi CDIA akan berada pada kisaran 42,5 hingga 47,5 kali P/E untuk tahun 2024, serta PBV antara 1,7 hingga 1,8 kali, berdasarkan laporan keuangan yang akan dirilis untuk tahun tersebut.

Untuk tahun 2024, CDIA diproyeksikan akan mencatatkan pendapatan sebesar USD 102,3 juta, dengan laba bersih mencapai USD 30,6 juta. Kinerja ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan pendapatan dan laba bersih yang tercatat selama periode 8 Februari hingga 31 Desember 2023, yang masing-masing hanya sebesar USD 75,8 juta dan USD 0,18 juta.

"Jika dibandingkan dengan valuasi CUAN dan BREN pada saat IPO, valuasi IPO CDIA secara P/E lebih rendah dibandingkan BREN, meski tidak serendah CUAN," kata tim riset dari Stockbit Sekuritas. Selain itu, dalam hal P/BV, valuasi IPO CDIA menjadi yang terendah di antara ketiga perusahaan tersebut. Dari segi neraca keuangan, CDIA memiliki rasio gearing (net debt/equity) yang cukup rendah pada saat IPO.

"Kami menilai balance sheet yang ample ini berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan CDIA ke depan, melalui ekspansi secara organik maupun anorganik (akuisisi)," tambah tim riset tersebut. Dengan kondisi keuangan yang solid, CDIA memiliki peluang yang baik untuk mengembangkan bisnisnya di masa mendatang.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |