Liputan6.com, Jakarta - PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) akan membagikan dividen tunai untuk tahun buku 2024 sebesar Rp 3,64 triliun. Dividen yang akan dibagikan kepada pemegang saham sebesar Rp 151,77267 per saham.
Mengutip keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Selasa (17/6/2025), pembagian dividen itu telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Kamis, 12 Juni 2025.
Adapun data keuangan per 31 Desember 2024 yang menjadi pertimbangan pembagian dividen. Hal itu antara lain laba bersih yang didapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 3,64 triliun, saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar Rp 14,50 triliun dan total ekuitas sebesar Rp 32,19 triliun.
Jadwal pembagian dividen Antam sebagai berikut:
- Tanggal efektif pada 12 Juni 2025
- Tanggal cum dividen di pasar regular dan pasar negosiasi pada 20 Juni 2025
- Tanggal ex dividen di pasar regular dan pasar negosiasi pada 23 Juni 2025
- Tanggal cum dividen di pasar tunai pada 24 Juni 2025
- Tanggal ex dividen di pasar tunai pada 25 Juni 2025
- Tanggal daftar pemegang saham yang berhak atas dividen tunai pada 24 Juni 2025, waktu 16:00
- Tanggal pembayaran dividen pada 11 Juli 2025
Pada penutupan perdagangan saham Senin, 16 Juni 2025, harga saham ANTM turun 0,61% ke posisi Rp 3.280 per saham. Saham ANTM berada di level tertinggi Rp 3.370 dan terendah Rp 3.230 per saham. Total frekuensi perdagangan 36.519 kali dengan volume perdagangan 1.770.983 saham. Nilai transaksi Rp 582,2 miliar.
Antam Tebar Seluruh Laba 2024 Buat Dividen
Sebelumnya, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam membagikan dividen sebesar Rp 3,6 triliun atau Rp 151,77 per saham. Pembagian dividen ini disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada, Kamis, 12 Juni 2025.
Dividen ini setara 100 persen dari laba Antam pada tahun buku 2024. Nilai ini juga serupa dengan dividen payout ratio Antam pada tahun sebelumnya. Antam berhasil mencatatkan laba tahun berjalan senilai Rp 3,85 triliun. Angka ini melonjak 25% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 3,08 triliun.
Berdasarkan laporan keuangannya, pertumbuhan laba Antam didorong oleh lonjakan penjualan yang naik 68,56% secara tahunan menjadi Rp 69,19 triliun, dibandingkan dengan Rp 41,04 triliun pada 2023. Pencapaian ini mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.
Penjualan domestik mendominasi dengan kontribusi Rp 63,96 triliun atau sekitar 92% dari total pendapatan Antam pada 2024. Segmen emas menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp 57,56 triliun, melonjak signifikan 120% dibandingkan tahun sebelumnya.
Harga Emas Melesat, Bagaimana Prospek Saham ANTM?
Harga emas melonjak tajam sebesar 38% YoY ke level USD 2.859,6/oz pada kuartal I 2025. Kenaikan ini dipicu oleh inflasi yang masih tinggi (5,4%), suku bunga riil negatif di AS (sekitar –0,5%), serta permintaan besar dari bank sentral yang mencapai 363,2 ton. Selain itu, arus masuk ETF juga pulih menjadi 211,2 ton, sehingga total permintaan investasi emas mencapai 551,9 ton.
Di sisi suplai, ketatnya pasokan turut memperkuat harga emas. Biaya produksi emas global yang meningkat (di atas USD 1.350/oz) dan output tambang yang terbatas hanya sebesar 855,7 ton memberikan tekanan tambahan pada sisi penawaran. Kombinasi dari indeks DXY yang melemah (sekitar 100) dan volatilitas mata uang negara berkembang (>8%) menjadi katalis pendukung lanjutan bagi reli harga emas.
"Antam berada pada posisi yang sangat menguntungkan di tengah momentum kenaikan harga emas yang berkelanjutan. Kami memperkirakan rata-rata harga emas mencapai USD3.100/oz sepanjang 2025," ujar Senior Equity Research Analyst at Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Farras Farhan dalam risetnya, Kamis (22/5/2025).
Kinerja Keuangan Antam Melonjak Berkat Harga Emas
Didorong oleh tingginya harga jual emas tahun 2025, Antam diperkirakan mencetak pendapatan sebesar Rp 92,8 triliun atau tumbuh 34,2% dibanding tahun sebelumnya. Meski volume penjualan emas hanya naik moderat menjadi 42,5 ton (+6,7% YoY), lonjakan harga jual emas menjadi USD 3.100/oz (+22,5% YoY) menjadi motor utama pertumbuhan.
Penandatanganan Sales and Purchase Agreement (SPA) terbaru dengan PT Freeport Indonesia juga diperkirakan menjadi pendorong tambahan bagi penjualan emas Antam. Selain itu, pendapatan dari bijih nikel turut menunjukkan performa impresif dengan proyeksi sebesar Rp8,9 triliun (+65,4% YoY), seiring meningkatnya permintaan dari smelter.
"Walau margin kas emas turun menjadi USD 217/oz akibat dinamika perdagangan yang kurang menguntungkan, kami memperkirakan EBITDA 2025 akan mencapai Rp 7,3 triliun dan laba bersih melonjak 64,9% menjadi Rp6 triliun," jelas Farras.