Total Penerbitan Obligasi Tembus Rp 138,84 Triliun pada 2025

9 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI)  mencatat dua pencatatan obligasi dan satu sukuk pada perdagangan 25-29 Agustus 2025.

Obligasi berkelanjutan II Provident Investasi Bersama Tahap V Tahun 2025 yang diterbitkan oleh PT Provident Investasi Bersama Tbk resmi dicatatkan di BEI senilai Rp 420 miliar pada Rabu, 27 Agustus 2025.

Hasil pemeringkatan dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) adalah idA (Single A) dengan Wali Amanat PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Pada Kamis, 28 Agustus 2025, PT Pindo Deli Pulp And Paper Mills mencatatkan Obligasi Berkelanjutan I Pindo Deli Pulp And Paper Mills Tahap III Tahun 2025 dengan nilai nominal Rp 1,3 triliun, serta Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Pindo Deli Pulp And Paper Mills Tahap III Tahun 2025 dengan nilai nominal Rp 750 miliar.

Hasil pemeringkatan dari PEFINDO dan PT Kredit Rating Indonesia (KRI) untuk Obligasi masing-masing adalah idA+ (Single A Plus) dan irAA- (Double A Minus).

Total Obligasi

Sementara, sukuk mendapat pemeringkatan idA+(sy) (Single A Plus Syariah) dari PEFINDO dan irAA- (Double A Minus) dari KRI. PT Bank KB Bukopin Tbk bertindak sebagai Wali Amanat untuk penerbitan ini.

Dengan pencatatan tersebut, sepanjang 2025 telah tercatat 122 emisi dari 68 emiten dengan nilai emisi mencapai Rp 138,84 triliun.

Secara keseluruhan, total obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 635 emisi dengan nominal outstanding Rp 513,93 triliun dan USD 117,27 juta, diterbitkan oleh 137 emiten. Selain itu, di BEI tercatat pula 200 seri Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp6.360,61 triliun dan USD 502,10 juta, serta 7 emisi Efek Beragun Aset (EBA) senilai Rp 2,13 triliun.

DBS Pede Obligasi Bakal Bersinar pada 2025

Sebelumnya, Chief Investment Officer Bank DBS, Hou Wey Fook, mengaku optimistis terhadap pasar obligasi global tahun ini. Menurut dia, kondisi saat ini menunjukkan kemiripan dengan situasi pasar pada tahun 2019, ketika The Fed memangkas suku bunga akibat dampak tarif perdagangan era Presiden Donald Trump.

Kala itu, pasar obligasi mengalami lonjakan imbal hasil yang signifikan, bahkan mencapai dua digit di berbagai kelas aset. Hal serupa mulai terlihat kembali tahun ini, terutama karena ketegangan geopolitik dan kebijakan dagang kembali memanas.

"Di awal tahun ini kami menyampaikan pandangan optimis terhadap obligasi, dengan menyatakan bahwa situasinya akan mengulang kondisi pasar tahun 2019 saat tarif versi pertama Trump terhadap China diberlakukan, yang mendorong The Fed memangkas suku bunga karena mengantisipasi perlambatan pertumbuhan ekonomi," jelas Hou dalam media briefing DBS Chief Investment Officer (CIO) Insights 2H25, Senin (7/7/2025).

Ia juga menyoroti bahwa tekanan kebijakan tarif dari Donald Trump tidak hanya menyasar China, tetapi juga berbagai negara lainnya. Ini menjadi katalis baru bagi The Fed untuk kembali bersikap dovish demi menjaga stabilitas pasar.

"Kondisi saat ini sebenarnya tidak jauh berbeda bahkan lebih buruk, karena tarif Trump yang kacau tidak hanya ditujukan kepada China, tetapi juga negara lain di dunia. Dan hal ini akan mendorong The Fed untuk kembali memangkas suku bunga," ujarnya.

Imbal Hasil Obligasi Sudah Menguat

Hou Wey Fook menyebut bahwa performa obligasi sepanjang semester pertama tahun ini menunjukkan tren positif. Grafik yang dipaparkannya menunjukkan bahwa imbal hasil obligasi dengan kualitas investment-grade, high yield, hingga AT1 telah bergerak naik.

Menurutnya, tren ini dinilai baru permulaan. DBS menilai masih ada ruang bagi imbal hasil obligasi untuk terus naik dalam 6 hingga 12 bulan mendatang, seiring potensi pelonggaran moneter dari bank sentral AS.

"Sejauh tahun ini, skenario tersebut mulai terwujud, sebagaimana terlihat pada imbal hasil semester pertama yang ditunjukkan dalam grafik berwarna biru. Kami percaya masih ada ruang bagi obligasi untuk terus berkinerja baik dalam 6–12 bulan ke depan," ujarnya.

Arti Tren Ini bagi Investor Ritel

Bagi investor ritel, momentum ini bisa menjadi peluang untuk menyeimbangkan kembali portofolio mereka. Obligasi, yang sempat kurang diminati saat suku bunga tinggi, kini kembali mencuri perhatian karena potensi capital gain dan yield yang stabil.

Analis pasar menilai, masuk ke obligasi sekarang memberi peluang bagi investor mendapatkan keuntungan ganda: dari imbal hasil yang tetap dan dari kenaikan harga jika suku bunga diturunkan.

Namun, seperti biasa, pemilihan jenis obligasi menjadi kunci. Obligasi pemerintah cenderung lebih aman, sementara obligasi korporasi menawarkan imbal hasil lebih tinggi, meski dengan risiko yang juga lebih besar.

“Investor perlu memperhatikan durasi, kualitas kredit, dan ekspektasi suku bunga ke depan. Tapi secara umum, obligasi memang kembali relevan sebagai aset yang menarik di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian,” pungkasnya.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |