Emiten AADI Kantongi Laba USD 428,68 Juta hingga Juni 2025

22 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mencatat kinerja keuangan yang lesu hingga semester pertama 2025. Ini ditunjukkan dari pendapatan dan laba yang kompak merosot.

Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Minggu (31/8/2025),  PT Adaro Andalan Indonesia Tbk mencatat pendapatan USD 2,39 miliar, turun 9,67% dari periode sama tahun sebelumnya USD 2,65 miliar.

Beban pokok pendapatan susut 9,32% dari USD 1,87 miliar menjadi USD 1,70 miliar. Meski demikian, laba bruto terpangkas 10,5% menjadi USD 695,52 juta hingga semester I 2025 dari periode sama tahun sebelumnya USD 777,17 juta.

Laba usaha merosot 35,5% dari USD 944,33 juta hingga semester pertama 2024 menjadi USD 609,01 juta. Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 50,09% menjadi USD 428,68 juta hingga semester pertama 2025 dari periode sama tahun sebelumnya USD 858,92 juta.

Laba per saham diatribusikan kepada pemilik entitas induk per dilusi sebesar USD 0,55505 pada semester pertama 2025 dari periode sama tahun sebelumnya USD 0,12256.

Total ekuitas tercatat naik menjadi USD 3,72 miliar hingga Juni 2025 dari Desember 2024 sebesar USD 3,36 miliar. Liabilitas Perseroan turun menjadi USD 2,36 miliar hingga Juni 2025 dari Desember 2024 sebesar USD 2,62 miliar. Aset Perseroan naik menjadi USD 6,08 miliar hingga Juni 2025 dari Desember 2024 sebesar USD 5,99 miliar. Perseroan kantongi kas dan setara kas USD 1,43 miliar hingga 30 Juni 2025.

Kinerja 2024

Sebelumnya, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mengumumkan kinerja tahun buku 2024 yang berakhir pada 31 Desember 2024. Pada periode tersebut, Adaro Andalan Indonesia berhasil membukukan pertumbuhan positif dari sisi laba, meski mengalami penurunan pendapatan.

“Kami senang karena dapat melaporkan satu lagi tahun dengan kinerja yang memuaskan, dengan pencapaian yang lebih tinggi dalam volume pengupasan lapisan penutup, produksi, maupun penjualan," kata Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Adaro Andalan Indonesia Tbk, Julius Aslan dalam keterbukaan informasi Bursa, Rabu (5/3/2025).

Pendapatan usaha perseroan sampai dengan 31 Desember 2024 tercatat sebesar USD 5,32 miliar atau sekitar Rp 86,82 triliun (asumsi kurs Rp 16.320 per USD). Pendapatan itu turun 10.07 persen dibandingkan pendapatan tahun buku 2023 yang tercatat sebesar USD 5,92 miliar.

Bersamaan dengan turunnya pendapatan, perseroan berhasil menekan beban pokok pendapatan menjadi USD 3,85 miliar pada 2024 dibanding USD 4,19 miliar pada 2023. Alhasil, laba kotor pada 2024 susut menjadi USD 1,47 miliar dibanding laba kotor 2023 yang tercatat sebesar USD 1,73 miliar.

Laba Perseroan

Pada tahun buku 2024, perseroan membukukan beban usaha USD 315,5 juta atau naik dibanding beban usaha 2023 yang tercatat sebesar USD 311,78 juta.

Namun pada tahun buku 2024, perseroan membukukan pendapatan lain-lain sebesar USD 330,77 juta. Sedangkan pada tahun sebelumnya perseroan mencatatkan beban lain-lain USD 25,74 juta. Sehingga, laba usaha pada 2024 naik menjadi USD 1,48 miliar dibanding laba usaha 2023 yang tercatat sebesar USD 1,39 miliar.

Melansir laporan keuangan perseroan, biaya keuangan pada 2024 tercatat sebesar USD 77,81 juta. Kemudian penghasilan keuangan USD 85,55 juta, dan bagian atas keuntungan neto entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar USD 51,11 juta.

Setelah memperhitungkan beban pajak penghasilan, perseroan membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk untuk tahun buku 2024 sebesar USD 1,21 miliar atau sekitar Rp 19,76 triliun.

Laba itu naik 5,86 persen dibandingkan laba tahun buku 2023 yang tercatat sebesar USD 1,14 miliar. Sehingga laba per saham dasar naik menjadi USD 0.17126 dari sebelumnya USD 0.16321 per lembar.

Aset Perseroan

"Penurunan EBITDA operasional pada 2024 terutama diakibatkan oleh melemahnya harga batu bara dunia, suatu kondisi yang tidak dapat kami kendalikan karena batu bara adalah komoditas yang bergerak mengikuti siklus. Namun, rekam jejak kami yang solid dalam mengarungi siklus batu bara adalah bukti resiliensi serta keahlian kami di sektor ini," kata Julius.

Total aset per akhir 2024 turun 15 persen menjadi USD 5.993 juta dari USD 7.063 juta pada akhir 2023. Saldo kas pada akhir 2024 juga turun 40 persen menjadi USD 1.519 juta. Kas dan setara kas meliputi 25 persen total aset perusahaan.

Aset lancar pada akhir 2024 turun 32 persen menjadi USD 2.214 juta, dibandingkan USD 3.270 juta pada akhir 2023. Aset tidak lancar pada akhir 2024 tercatat sedikit lebih rendah daripada tahun sebelumnya, atau sebesar USD 3.779 juta, karena penurunan investasi pada entitas asosiasi dan ventura bersama dan penurunan pinjaman tidak lancar kepada pihak berelasi.

Aset tetap pada akhir 2024 sebesar USD 975 juta setara dengan kenaikan 83 persen dari akhir 2023 karena perusahaan menambah pengeluaran belanja modal pada periode ini terutama untuk investasi pada KPI, pembelian tongkang, dan fasilitas pendukung rantai pasokan. Aset tetap meliputi 16 persen total aset.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |