Wall Street Melesat, Bursa Saham Asia Bervariasi Imbas Tarif Trump

3 weeks ago 19

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia Pasifik diperdagangkan beragam pada perdagangan Kamis, (7/8/2025). Pergerakan bursa saham Asia Pasifik terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump janji mengenakan tarif 100% atas impor semikonduktor dan chip.

Namun, perusahaan yang membangun di Amerika Serikat (AS) akan dibebaskan. Rincian seperti seberapa banyak perusahaan harus berproduksi di AS agar memenuhi syarat pembebasan tarif belum dijelaskan. Demikian mengutip CNBC, Kamis pekan ini.

Indeks Nikkei 225 di Jepang dibuka mendatar. Indeks Topix menguat 0,19%. Di Korea Selatan, indeks Kospi melemah 0,12%. Indeks ASX 200 mendatar. Indeks Shanghai stagnan.

Sementara itu, pada Rabu waktu setempat, wall street menguat di tengah laporan keuangan perusahaan yang barus dirilis dan semakin dekatnya tenggat waktu Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengenakan tarif.

Mengutip Yahoo Finance, di wall street, tiga indeks saham acuan menguat. indeks Dow Jones naik hampir 0,2%. Indeks S&P 500 menguat lebih dari 0,7%. Indeks Nasdaq melonjak 1,2% dipimpin saham Apple naik lebih dari 5%.

Saham Apple naik pada Rabu di tengah berita CEO Tim Cook akan bergabung dengan Presiden Trump di Gedung Putih untuk mengumumkan investasi baru senilai USD 100 miliar dalam manufaktur domestik. Raksasa teknologi tersebut sebelumnya mengumumkan investasi sebesar USD 500 miliar di AS selama empat tahun ke depan untuk menghindari tarif yang tinggi atas produk-produknya.

Sementara itu, Gedung Putih menyatakan Apple akan menghindari sebagian besar tarif AS atas impor dari India, tempat sebagian besar iPhone-nya diproduksi. Trump mengenakan tarif tambahan sebesar 25% kepada India karena pembelian minyak Rusia oleh negara tersebut, sehingga total tarif yang harus dipatok India menjadi 50% mulai akhir bulan ini.

Penutupan IHSG pada 6 Agustus 2025

 Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah ke zona merah pada perdagangan Rabu (6/8/2025). Koreksi IHSG terjadi di tengah mayoritas sektor saham yang memerah.

Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup turun tipis 0,15% ke posisi 7.503,75. Indeks LQ45 merosot 0,83% ke posisi 789,5. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.

Pada perdagangan Rabu pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 7.549,26 dan level terendah 7.502,01. Sebanyak 320 saham menguat sehingga menahan koreksi IHSG. Namun, 270 saham melemah dan 215 saham diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan 1.900.832 kali dengan volume perdagangan 28,6 miliar saham. Nilai transaksi harian Rp 15,8 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.342.

Mayoritas sektor saham memerah. Sektor saham consumer nonsiklikal turun 1,01%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham infrastruktur merosot 0,54%, sektor saham keuangan melemah 0,27%. Lalu sektor saham teknologi dan transportasi masing-masing turun 0,24%. Sektor saham kesehatan turun 0,03%

Pada perdagangan Rabu pekan ini, saham DSSA naik 0,76% ke posisi Rp 66.400 per saham. Harga saham DSSA dibuka turun 400 poin ke posisi Rp 65.500 per saham. Saham DSSA berada di level tertinggi Rp 68.000 dan terendah Rp 65.100 per saham. Total frekuensi perdagangan 5.537 kali dengan volume perdagangan 57.785 saham. Nilai transaksi Rp 385,9 miliar.

Saham IMPC meroket 16% ke posisi Rp 580 per saham. Harga saham IMPC dibuka naik 10 poin ke posisi Rp 510 per saham. Harga saham IMPC berada di level tertinggi Rp 585 dan terendah Rp 500 per saham. Total frekuensi perdagangan 2.811 kali dengan nilai transaksi Rp 55,4 miliar. Total volume perdagangan 1.031.208 saham.

Sentimen IHSG

Dalam kajian tim riset PT Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, bursa regional Asia bergerak variatif, pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati dalam mencermati perkembangan arah kebijakan dan prospek pertumbuhan global.

Dari mancanegara, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berencana mengenakan tarif hingga 250 persen pada impor farmasi, serta potensi pungutan pada semikonduktor.

Trump mengatakan tarif akan dimulai pada impor farmasi dan akan ditingkatkan dalam beberapa tahun mendatang, sementara pengumuman tarif untuk semikonduktor diperkirakan akan dilakukan dalam beberapa hari mendatang.

“Selain itu, kekhawatiran tentang stagflasi muncul setelah data ekonomi AS yang melemah, data Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan aktivitas jasa AS hampir stagnan pada Juli 2025, atau naik tipis dari sebelumnya 55,2 menjadi 55,7,” demikian seperti dikutip.

Data itu di bawah ekspektasi dan menggarisbawahi hambatan ekonomi akibat tarif Presiden AS Donald Trump.

Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia (GDP) pada kuartal II-2025 sebesar 5,12 persen year on year (yoy), atau lebih tinggi dibandingkan sebesar 4,87 persen (yoy) pada kuartal I-2025.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |