Sharia Investment Week 2025 Digelar, Pasar Modal Syariah Siap Unjuk Gigi

2 months ago 36

Liputan6.com, Jakarta - Syariah Investment Week (SIW) 2025 resmi dibuka pada hari ini, Kamis 19 Juni 2025. Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik menyampaikan pasar modal syariah Indonesia mengalami pertumbuhan signifikan dalam lima tahun terakhir.

"Saat ini 61,8 persen kapitalisasi pasar kita berasal dari saham syariah, dan 55,1 persen nilai transaksi harian juga dari saham syariah," ujar Jeffrey dalam sambutannya di Main Hall Bursa, Kamis (19/6/2025).

Jeffrey menekankan pertumbuhan tersebut tidak lepas dari kegiatan literasi seperti SIW yang rutin diselenggarakan sejak 2019. Acara ini kini menjadi ajang pasar modal syariah terbesar di Indonesia. Ia pun berharap peserta merasakan kesan bahwa pasar modal syariah kini tampil modern, terbuka, dan bersahabat, tidak lagi kolot dan tertutup seperti anggapan lama.

Dengan semangat optimisme, Jeffrey menyampaikan investasi di pasar modal syariah tidak seharusnya hanya menjadi alternatif. Hingga April 2025, Jeffrey mencatat ada 174 ribu investor syariah.

"Harapan kita, investasi di pasar modal syariah Indonesia bukan lagi menjadi alternatif, tetapi menjadi pilihan utama. Karena pasar modal syariah adalah untuk semua,” kata Jeffrey.

Literasi dan Inklusi Syariah Masih Perlu Digeber

Antusiasme meski tinggi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal Syariah OJK, Evy, memaparkan hasil survei 2024 menunjukkan tingkat literasi keuangan syariah baru sekitar 43%, sementara tingkat inklusinya hanya 13%. Jauh tertinggal dibandingkan literasi keuangan konvensional yang telah mencapai 70% dan inklusi 60%.

"Ini menunjukkan bahwa meski potensinya besar, pemahaman dan keterlibatan masyarakat dalam keuangan syariah masih minim," ujar Evy.

Ia pun mendorong semua pihak—dari regulator, pelaku industri, hingga akademisi—untuk intensif berkolaborasi mengembangkan produk dan layanan yang inovatif serta mudah diakses. Evy juga menyoroti besarnya potensi dari populasi muslim Indonesia sebagai calon investor.

"Kita memiliki model yang cukup kuat karena populasi mayoritas muslim. Tapi kita juga harus memastikan inklusinya meningkat, tidak hanya menyasar yang sudah menyertakan," tegasnya.

Generasi Muda Jadi Ujung Tombak Pertumbuhan

Evy mengungkapkan mayoritas investor pasar modal syariah saat ini berasal dari wilayah Indonesia bagian Tenggara, dengan dominasi usia sekitar 30 tahun. Ini menjadi sinyal positif bahwa generasi muda mulai mengambil peran penting dalam ekosistem investasi syariah.

"Artinya mereka yang masih muda sudah punya kemampuan dan kesadaran untuk berinvestasi. Ini yang akan menjadi kekuatan masa depan,” ujar Evy.

Ia menekankan pentingnya menciptakan ekosistem syariah yang menarik bagi anak muda. Mulai dari layanan digital yang ramah pengguna, hingga edukasi yang sesuai dengan gaya hidup mereka.

Selain itu, OJK juga telah mendorong digitalisasi melalui sistem seperti SOTS (Sistem Online Trading Syariah) untuk menjangkau investor muda yang digital-native. Dengan fondasi demografis yang kuat, pasar modal syariah dinilai sangat potensial untuk tumbuh lebih besar.

"Mereka akan menjadi investor potensial bagi pasar modal syariah di masa mendatang,” tegas Evy.

Regulasi Baru dan Kolaborasi Jadi Kunci Akselerasi

OJK menegaskan komitmennya dalam menyempurnakan regulasi demi memperkuat pasar modal syariah. Salah satu langkah penting adalah penyesuaian ketentuan dalam daftar efek syariah, termasuk penurunan rasio utang maksimal dari 45% secara bertahap hingga 33,33% dalam 10 tahun ke depan.

Rasio pendapatan non-halal pun diturunkan menjadi maksimal 5%. Namun, penyesuaian ini berpotensi membuat sejumlah efek keluar dari daftar efek syariah.

"Ini PR kita bersama agar efek-efek tersebut bisa tetap memenuhi kriteria syariah. Kita ingin semua setara, tidak hanya berdasarkan keringanan, tetapi berdasarkan kepatuhan," jelas Evy.

Selain regulasi, sinergi lintas institusi juga terus diperkuat. OJK aktif berkolaborasi dengan KNEKS, YSACP, dan MES dalam pengembangan produk, edukasi, hingga kebijakan. “Kolaborasi ini jadi kunci agar pasar modal syariah kita tidak hanya besar dalam angka, tapi juga kuat dalam fondasi,” pungkasnya.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |