Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot pada 28 Juli-1 Agustus 2025. Analis menilai, koreksi IHSG sepekan dipengaruhi sejmlah faktor, salah satunya data ekonomi Amerika Serikat (AS) dan China.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (2/8/2025), IHSG melemah 0,08% menjadi 7.537,76 selama sepekan. Pada pekan lalu, IHSG menguat 3,17% ke posisi 7.543,50.
Sementara itu, kapitalisasi pasar naik 3,37% menjadi Rp 13.599 triliun dari pekan lalu Rp 13.519 triliun.
Analis PT MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG melemah 0,08% disertai dengan munculnya tekanan jual. Pihaknya perkirakan IHSG dipengaruhi sejumlah faktor. Pertama, ada aliran dana yang keluar dari IHSG. Kedua, rilis data makro Amerika Serikat yakni data pekerjaan dan produk domestik bruto (PDB) serta bank sentral AS masih mempertahankan suku bunga acuan di level 4,5%.
“Ketiga, rilis data manufaktur China yang masih moderat,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.
Selain itu, faktor lain yang pengaruhi IHSG, menurut Herditya, rilis data neraca dagang dan inflasi Indonesia yang meningkat. “Kelima, rilis kinerja emiten pada semester I 2025, di mana emiten perbankan membebani laju IHSG,” kata Herditya.
Pada pekan ini, peningkatan tertinggi terjadi pada rata-rata volume transaksi harian sebesar 18,80% menjadi 32,55 miliar saham dari 27,40 miliar pada pekan lalu. Rata-rata frekuensi transaksi harian selama sepekan naik 2,44% dari 1,73 juta kali transaksi menjadi 1,77 juta kali transaksi.
Di sisi lain, rata-rata nilai transaksi harian BEI susut 0,26% menjadi Rp 16,05 triliun dari pekan lalu Rp 16,09 triliun.
Aksi Jual Saham
Selama sepekan,investor asing melakukan aksi jual saham Rp 2,34 triliun. Aksi jual saham oleh investor asing ini lebih besar dari pekan lalu hanya Rp 134,79 miliar.
Pada pekan ini, mayoritas sektor saham menghijau. Sektor saham teknologi melambung 4,99% dan catat penguatan terbesar. Sektor saham energi naik 0,63%, sektor saham basic materials melesat 3,6%, sektor saham industri bertambah 1,25%.
Lalu sektor saham consumer nonsiklikal melesat 3,07%, sektor saham consumer siklikal melejit 4%, sektor saham perawatan kesehatan naik tipis 0,10%. Kemudian sektor saham properti dan real estate mendaki 2%.
Sedangkan sektor saham yang melemah yakni sektor saham keuangan turun 4,7%, sektor saham infrastruktur terpangkas 0,20% dan sektor saham transportasi dan logistic susu 1,44%.
Penutupan IHSG pada 21-25 Juli 2025
Sebelumnya, gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyentuh posisi tertinggi pada 2025. IHSG melesat signifikan pada periode 21-25 Juli 2025 didorong sejumlah sentimen termasuk tarif dagang.
Mengutip Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (26/7/2025), IHSG melompat 3,17% menjadi 7.543,50 pada penutupan perdagangan Jumat, 25 Juli 2025. Posisi IHSG tersebut merupakan rekor tertinggi saham 2025. Pada pekan lalu, kenaikan IHSG lebih besar yang mencapai 3,75% ke posisi 7.311,91.
Selain itu, pekan ini, kapitalisasi pasar BEI juga menyentuh posisi tertinggi di Rp 13.519 triliun. Kapitalisasi pasar naik 3,37% dari Rp 13.079 triliun pada pekan lalu.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, kenaikan IHSG didorong sejumlah faktor. Pertama, tarif dagang. Amerika Serikat (AS) sudah mengeluarkan kerangka negosiasi akan persetujuan tarif dagang atas Indonesia. “Di sisi lain juga terdapat kesepakatan negosiasi akan tarif dagang Amerika Serikat-Jepang yang membuat bursa regional Asia menguat,” kata Herditya saat dihubungi Liputan6.com.
Kedua, ada aliran dana asing masuk ke pasar saham Indonesia sekitar Rp 300 miliar. "Ketiga,penguatan IHSG juga didorong oleh emiten konglomerasi Prajogo Pangestu dan juga emiten perbankan,” kata Herditya.
Sementara itu, rata-rata volume transaksi harian bursa bertambah 6,4% menjadi 27,40 miliar saham dari 25,75 miliar saham pada pekan lalu. Rata-rata frekuensi transaksi harian naik 2,31% dari 1,69 juta kali transaksi pada pekan lalu menjadi 1,73 juta kali transaksi.
Kemudian rata-rata nilai transaksi harian merosot 3,19% menjadi Rp 16,09 triliun dari Rp 16,62 triliun pada pekan lalu. Investor asing melepas saham Rp 134,79 miliar pekan lalu dari periode sama sebelumnya Rp 1,63 triliun.