Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bervariasi dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Senin, (1/9/2025). Pergerakan IHSG akan dipengaruhi sejumlah sentimen internal terutama meningkatnya aksi protes di sejumlah daerah di Indonesia dan pengumuman inflasi.
IHSG melemah 1,53% ke posisi 7.830,49 dan investor asing melakukan aksi jual saham senilai Rp 1,12 triliun pada perdagangan Jumat, 29 Agustus 2025.
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi menuturkan, kekhawatiran asing meningkat atas eskalasi instabilitas politik dalam negeri sehingga mendorong aksi jual saham Rp 1,1 triliun di seluruh perdagangan. Selain itu, tekanan dari nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di atas level 16.400 atau tertinggi sejak awal Agustus 2025.
Ia prediksi IHSG akan dipengaruhi beberapa sentimen. Pertama, peningkatan eskalasi instabilitas politik dalam negeri. "Kekhawatiran pada keyakinan investor akan cenderung menekan pasar,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.
Oktavianus menuturkan, jika eskalasi terus meningkat tetapi jika pemerintah meredam dengan respons yang lebih persuasif dapat menurunkan dampak lebih luas. Selain itu, pernyataan Presiden Prabowo pada Minggu, 31 Agustus 2025, Oktavinus menilai dapat meredakan eskalasi yang terjadi.
"Meski demikian, kepercayaan pasar saat ini masih perlu dibangun khususnya melalui meredanya aksi demonstrasi di berbagai wilayah di Indonesia,” tutur dia.
Sentimen IHSG Lainnya
Kedua, rilis data inflasi Indonesia pada Agustus 2025 yang diperkirakan tumbuh 2,4% year on year dan rilis data S&P PMI Manufaktur yang diperkirakan masih di zona konstraksi sehingga cenderung akan direspons moderat oleh pasar.
"Meski demikian, kami melihat ruang positif dari sektor barang baku seiring dengan harga emas yang mencetak level tertinggi dalam sebulan terakhir atau di level USD 3.400 per toz dan juga defensive sektor,” kata dia.
Pada perdagangan Senin, 1 September 2025, ia menuturkan, IHSG akan bergerak di level support 7.745 dan resistance 7.920 dengan indikator MACD menunjukkan pelemahan tren. “Ini sejalan dengan RSDI yang alami penurunan setelah masuk di zona overbought” kata dia.
Rekomendasi Saham
Untuk rekomendasi saham, Oktavianus memilih saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
Berikut rekomendasi sahamnya:
- BBRI, spec buy TP: 4.250
- AMMN, spec buy TP: 8.450
- BRMS, spec buy TP: 505
Penutupan IHSG pada 29 Agustus 2025
Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertahan di zona merah hingga penutupan perdagangan saham Jumat, (29/8/2025) di tengah aksi demo. Namun, koreksi IHSG berkurang jelang akhir pekan ini.
Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup merosot 1,53% ke posisi 7.830,49. Indeks LQ45 terpangkas 1,78% ke posisi 797,11. Seluruh indeks saham acuan tertekan.
Jelang akhir pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 7.913,86 dan terendah 7.765,59. Sebanyak 610 saham melemah sehingga bebani IHSG. 122 saham menguat dan 70 saham diam di tempat.
Total frekuensi perdagangan 2.509.118 kali. Volume perdagangan saham 51,6 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 22,8 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap nilai tukar rupiah di kisaran 16.451.
Harga saham CTRA ditutup turun 4,25% ke posisi Rp 1.015 per saham. Harga saham CTRA dibuka turun 10 poin ke posisi Rp 1.050 per saham. Saham CTRA berada di level tertinggi Rp 1.060 dan terendah Rp 990 per saham. Total frekuensi perdagangan 9.774 kali dengan volume perdagangan 805.782 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 81,9 miliar.
Sektor Saham
Harga saham INDF susut 1,97% ke posisi Rp 7.450 per saham. Harg saham INDF dibuka melemah 50 poin ke posisi Rp 7.550 per saham. Harga saham INDF berada di level tertinggi Rp 7.600 dan terendah Rp 7.450 per saham. Total frekuensi perdagangan 4.769 kali dengan volume perdagangan 112.763 saham. Nilai transaksi Rp 84,6 miliar.
Harga saham FUTR tergelincir 9,91% ke posisi Rp 200 per saham. Harga saham FUTR dibuka turun 22 poin ke posisi Rp 200 per saham. Saham FUTR berada di level tertinggi Rp 200 dan terendah Rp 200 per saham. Total frekuensi perdagangan 2.138 kali dengan volume perdagangan 648.494 saham. Nilai transaksi Rp 13 miliar.
Mayoritas sektor saham memerah kecuali sektor saham industri. Sektor saham industri naik 0,73%. Sektor saham consumer siklikal turun 3,05%, dan catat koreksi terbesar.
Sementara itu, sektor saham energi terpangkas 1,42%, sektor saham basic susut 1,58%, sektor saham consumer nonsiklikal turun 1,24%. Lalu sektor saham kesehatan turun 1,75%, sektor saham keuangan turun 1,45%, sektor saham properti susut 2,16%, sektor saham teknologi terpangkas 2,25%. Kemudian sektor saham infrastruktur melemah 2,27% dan sektor saham transportasi melemah 1,04%.