Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan sebagian besar emiten mencatatkan kinerja keuangan positif pada paruh pertama tahun 2025.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi mengatakan berdasarkan data yang masuk itu lebih dari 800 emiten saham yang telah menyampaikan laporan keuangan tengah tahunan.
“Di luar jumlah tersebut masih ada yang akan menyampaikan di bulan Agustus ataupun September, karena akan menyampaikan laporan tahunan tersebut versi audited atau limited review,” ujar Inarno dalam konferensi pers RDKB Juli 2025, Selasa (5/8/2025).
Ia mengungkapkan dari jumlah laporan yang telah diterima, mayoritas emiten berhasil mencetak laba. Sebesar 74% diantaranya membukukan laba perusahaan, sementara apabila dilihat dari sisi kinerja, 53% emiten memiliki kinerja yang meningkat dibandingkan kinerja semester 1 tahun sebelumnya.
Inarno menjelaskan, secara agregat nilai laba bersih yang dibukukan emiten pada semester I 2025 mengalami peningkatan sebesar 21,20% dibandingkan semester I 2024.
“Di mana peningkatan laba ini didominasi oleh sektor basic material, lalu consumer cyclicals dan technology. Itu yang kira-kira yang meningkat semuanya,” tuturnya.
Sementara itu, tidak semua sektor mengalami perbaikan kinerja. Inarno menambahkan, sektor energi menjadi salah satu sektor yang mengalami tekanan.
“Sedangkan yang sektor energi itu merupakan salah satu sektor yang mengalami tekanan karena penurunan pendapatan dan juga profit yang disebabkan oleh menurunnya tren harga komoditi sektor energi pada kuartal 1 2025,” pungkasnya
BEI Targetkan IHSG Tembus 8.000, OJK Nilai Bisa Tercapai
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut baik optimisme Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menargetkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa menembus level 8.000 pada Agustus ini, bertepatan dengan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, mengatakan semangat tersebut mencerminkan keyakinan terhadap kekuatan fundamental ekonomi Indonesia.
"OJK menyambut baik optimisme dari berbagai pihak, termasuk BEI, terhadap potensi penguatan IHSG. Semangat tersebut mencerminkan kepercayaan terhadap stabilitas perekonomian nasional dan prospek kinerja Emiten Indonesia yang terus menunjukkan perbaikan. Saya menilai level tersebut mampu dicapai," kata Inarno dikutip dari jawaban tertulisnya, Selasa (5/8/2025).
Menurut Inarno, optimisme tersebut juga sejalan dengan perbaikan kinerja emiten nasional yang terus menunjukkan tren positif. Stabilitas ekonomi dan peningkatan daya saing perusahaan-perusahaan tercatat menjadi faktor pendorong utama yang memungkinkan tercapainya target tersebut.
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa optimisme perlu diimbangi dengan kewaspadaan. Pasar saham memiliki dinamika tinggi, sehingga sentimen dan faktor eksternal bisa memberikan pengaruh besar dalam waktu singkat.
"Namun demikian, penting untuk dicermati bahwa pergerakan IHSG sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik domestik maupun global serta kinerja emiten," ujarnya.
Faktor Global dan Domestik Jadi Penentu
Inarno menekankan bahwa pergerakan IHSG tidak bisa dilepaskan dari pengaruh faktor global dan domestik. Ketegangan geopolitik, kebijakan suku bunga bank sentral global, serta tren ekonomi dunia menjadi aspek penting yang harus dicermati oleh investor maupun pemangku kebijakan.
Di sisi domestik, kinerja emiten, kondisi makroekonomi Indonesia, serta stabilitas politik juga turut berperan besar dalam menentukan arah IHSG. Oleh karena itu, euforia pasar harus diiringi dengan sikap bijak dan pendekatan berbasis analisis data.
"Kami mengingatkan bahwa euforia pasar tetap perlu diiringi dengan kewaspadaan dan pengelolaan risiko yang baik," ujarnya.
Sebagai regulator, OJK berkomitmen untuk terus menciptakan ekosistem pasar modal yang sehat, teratur, wajar, dan efisien. Upaya ini dilakukan agar penguatan IHSG maupun pertumbuhan instrumen investasi lainnya berlangsung secara berkelanjutan, bukan sekadar didorong oleh sentimen sesaat.
"Dari sisi regulator, kami terus memastikan bahwa pasar berjalan secara teratur, wajar, dan efisien," ujarnya.
Selain itu, OJK juga mendorong terciptanya ekosistem pasar modal yang sehat dan berintegritas, agar potensi pertumbuhan IHSG maupun instrumen lainnya bisa tercapai secara berkelanjutan, bukan hanya karena momentum jangka pendek.