Kenaikan Saham INCO Jadi Sorotan, Bagaimana Rekomendasinya?

2 months ago 36

Liputan6.com, Jakarta - Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencuri perhatian pasar setelah mencatatkan rebound sebesar 5,83% dalam perdagangan terakhir. Lonjakan ini bukan kejadian tunggal, melainkan bagian dari tren kenaikan selama tiga bulan terakhir, yang secara akumulatif mencapai 42,91%. Kinerja ini menandakan adanya sentimen positif yang cukup kuat dari pelaku pasar terhadap saham komoditas nikel tersebut.

Retail Research Analyst CGS International Sekuritas Indonesia, Andrian Alamsyah Saputra menyebutkan, salah satu sentimen utama yang mendongkrak harga saham INCO adalah ekspektasi terhadap penjualan bijih nikel berkadar tinggi (BZ Nickel) yang diproyeksikan mencapai 18 juta ton per tahun (MTPA) pada 2026.

Meskipun peluangnya besar, realisasi target ini masih menunggu persetujuan dari Kementerian ESDM melalui pengajuan RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya). Untuk RKAB 2026 sendiri, pengajuan baru akan dilakukan pada kuartal III tahun ini, yakni sekitar September atau Oktober 2025.

“Ekspektasi penjualan BZ nikel 2026 memang jadi sentimen kuat, tapi ini masih 50:50 karena perlu approval RKAB yang baru diajukan di akhir tahun nanti,” ujar Andrian dalam ulasannya, Selasa (17/6/2025).

Kinerja Keuangan Positif Tapi Core Profit Masih Lemah

Dari sisi kinerja keuangan, INCO membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 251,9% year-on-year pada kuartal pertama 2025. Laba melonjak menjadi USD 21,8 juta, dari hanya USD 6,2 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan ini sebagian besar disebabkan oleh keuntungan pengakuan nilai wajar atas aset derivatif.

Namun, jika dilihat dari laba inti atau core profit, kondisinya tidak terlalu menggembirakan. Core profit INCO tercatat hanya sebesar USD 10 juta, jauh di bawah ekspektasi konsensus yang memperkirakan kontribusi sekitar 13% terhadap total estimasi laba tahun penuh 2025. Penyebab utamanya adalah rendahnya harga jual rata-rata (ESP) dari nikel matte dibandingkan proyeksi awal.

“Secara fundamental, lonjakan laba kuartal I lebih bersifat teknikal karena valuasi aset derivatif. Tapi dari sisi operasional, kinerja core-nya masih belum sesuai harapan,” kata Andrian.

Rekomendasi: Hold di Tengah Kenaikan Signifikan

Meskipun mencatatkan kenaikan harga yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir, tim riset masih memberikan rekomendasi hold terhadap saham INCO.

Target harga yang dipasang adalah Rp3.500 per saham. Rekomendasi ini mempertimbangkan adanya ketidakpastian dari sisi perizinan proyek nikel yang masih belum mendapatkan kepastian hingga kini.

Konsensus pasar, termasuk dari Bloomberg, juga cenderung sudah memperhitungkan potensi penjualan BZ Nickel sebesar 18 juta ton di tahun 2026 ke dalam valuasi saat ini. Oleh karena itu, upside jangka pendek dinilai terbatas jika belum ada kepastian resmi terkait realisasi proyek tersebut.

“Rekomendasi hold kami dasarkan pada valuasi yang sudah cukup tinggi dan ketidakpastian approval RKAB yang belum masuk estimasi,” tegas Andrian.

Sinyal Teknikal Menarik untuk Trading Jangka Pendek

Secara teknikal, saham INCO menunjukkan formasi rounding bottom yang umumnya menjadi sinyal pembalikan arah menuju tren bullish. Namun, pola ini belum terkonfirmasi karena harga belum berhasil menembus level resistance penting di Rp3.920.

Meski begitu, indikator stochastic menunjukkan bahwa saham ini sudah masuk area oversold, membuka peluang rebound dalam jangka pendek. Area support terdekat berada di level Rp3.550 dan Rp3.470, sementara area resistance berada di Rp3.710 dan Rp3.790. Dengan mempertimbangkan teknikal yang cenderung positif dan potensi pergerakan harian, saham ini tetap menarik bagi pelaku pasar yang mencari peluang trading jangka pendek.

"Pola rounding bottom sudah terbentuk, tapi konfirmasi butuh breakout di Rp3.920. Sementara ini menarik untuk trading pendek, apalagi setelah rebound dari support," ujar Andrian.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |