Liputan6.com, Lampung - Petugas Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS) menemukan tanda-tanda keberadaan Harimau Sumatera di lokasi penemuan jasad seorang pria yang diduga kuat menjadi korban serangan satwa dilindungi tersebut. Korban, Sudarso alias Sondong (50), diketahui merupakan seorang perambah di TNBBS yang berasal dari Karang Randu, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
Sudarso ditemukan tak bernyawa di kawasan hutan konservasi yang masuk wilayah administrasi Kabupaten Lampung Barat. Jasad korban hanya tersisa bagian kepala dan tulang belulang dan ditemukan di tengah zona rehabilitasi Register 46B Gunung Sekincau, tepatnya di Pekon Sukadamai, Kecamatan Air Hitam.
"Petugas kami telah melakukan verifikasi di lokasi dan menemukan tapak satwa diduga Harimau Sumatera. Ukurannya cukup jelas, yakni panjang 14 sentimeter dan lebar 15 sentimeter, dengan bantalan kaki sepanjang 6 sentimeter dan lebar 7 sentimeter," ungkap Kepala BBTNBBS, Hifzon Zawahiri, kepada wartawan, Rabu (28/5/2025).
Ada Kotoran Harimau, Uji Forensik Dilakukan
Selain jejak tapak, petugas juga menemukan kotoran yang diyakini milik Harimau Sumatera di sekitar lokasi kejadian. Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa satwa langka itu terlibat dalam kematian Sudarso.
"Kami telah mengamankan sampel kotoran untuk selanjutnya diuji melalui pemeriksaan DNA guna memastikan spesies harimau tersebut," ungkap dia.
Dia bilang, insiden itu merupakan bentuk interaksi negatif antara manusia dan satwa liar, yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Wilayah tempat kejadian berada di zona konservasi yang seharusnya tidak dimasuki untuk aktivitas manusia, terutama kegiatan ilegal seperti perambahan hutan.
Menurut laporan awal dari petugas Resor Sekincau, korban sempat dilaporkan hilang selama tiga hari sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi mengenaskan oleh tim gabungan yang dikerahkan ke lokasi.
Warga Diminta Waspada dan Meninggalkan Kawasan Konservasi
BBTNBBS menyayangkan insiden tragis itu dan mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas ilegal di dalam kawasan taman nasional. Peringatan itu sekaligus menjadi alarm bahaya terhadap potensi konflik manusia dan satwa liar di wilayah konservasi.
"Kami minta masyarakat yang masih melakukan perambahan atau kegiatan tidak sah segera meninggalkan kawasan TNBBS. Keselamatan harus diutamakan, terutama mengingat keberadaan satwa liar seperti harimau sumatera yang terus kami lindungi," ujar dia.
Dia menerangkan, patroli intensif dan pemetaan titik rawan konflik terus dilakukan sebagai langkah antisipatif. "Penanganan akan kami lakukan secara terstruktur untuk meminimalkan potensi konflik lebih lanjut," sebut dia.
Korban telah dievakuasi dan diserahkan kepada pihak keluarga untuk proses pemakaman. Sementara itu, penyelidikan atas kejadian itu masih terus berlangsung, termasuk pengujian laboratorium terhadap jejak yang ditemukan di lokasi.