Liputan6.com, Cirebon - Seorang petugas keamanan (satpam) bernama Imron yang bertugas di Gedung DPRD Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, harus kehilangan sepeda motor miliknya setelah kendaraan tersebut terbakar dalam kerusuhan yang terjadi pada Sabtu.
"Sekarang (motornya) habis terbakar. Saya bingung bagaimana bisa tetap bekerja tanpa kendaraan itu," kata Imron di Cirebon, melansir Antara, Minggu (31/8/2025).
Ia mengatakan, sepeda motor itu merupakan satu-satunya alat transportasi, yang setiap hari digunakannya untuk berangkat kerja. Saat kericuhan berlangsung, kata dia, kendaraan tersebut terparkir di halaman gedung dan tidak sempat diselamatkan.
Imron mengaku kerugian itu sangat berat, karena sepeda motor tersebut dibeli dari hasil tabungannya selama bertahun-tahun.
"Waktu kejadian saya tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa melihat dari jauh," ucap dia.
Selain motor milik Imron, peristiwa demo ricuh juga mengakibatkan beberapa kerusakan fasilitas pada Gedung DPRD Cirebon.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Cirebon Eno Sudjana mengatakan pihaknya berhasil memadamkan api yang membakar sejumlah titik, pada kantor lembaga legislatif setempat.
Ia menyebutkan kobaran api muncul di bagian utara dan selatan gedung dewan, serta pada dua pos pengamanan, namun kebakaran tersebut tidak merembet ke titik lain.
Aksi unjuk rasa memanas juga terjadi di Yogyakarta. Sabtu dini hari, Gubernur Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X menemui massa aksi yang masih bertahan di Mapolda DIY, usai sejumlah mobil dan fasilitas milik Polda dirusak.
Fasilitas Gedung Juga Rusak
Selain kebakaran, dia menyampaikan sejumlah fasilitas di gedung tersebut juga hilang dijarah oleh perusuh, termasuk barang-barang inventaris kantor hingga pagar di kawasan Alun-alun Pataraksa Cirebon.
Meski demikian, ia menegaskan nilai kerugian akibat peristiwa tersebut belum bisa dipastikan karena masih menunggu hasil pendataan.
"Bagian utara sama selatan gedung dewan terbakar. Isinya dijarah. Belum tahu, untuk nilai kerugiannya," terang Eno.
Dari informasi yang dihimpun, kejadian ini bermula saat sejumlah perusuh melemparkan botol hingga batu ke gedung DPRD Kabupaten Cirebon hingga memicu aksi perusakan dan pembakaran fasilitas.
Setelah kejadian tersebut, aparat keamanan langsung melakukan penjagaan di sekitar gedung dewan. Mereka menutup akses masuk ke halaman untuk menjaga situasi tetap aman dan situasi di sekitar lokasi kini mulai kondusif.
Aksi Demo Renon Ricuh, Massa Bakar Barang Jarahan di Depan DPRD Bali
Sebelumnya, gelombang demonstrasi yang sejak siang terpusat di depan Polda Bali mulai bergeser ke kawasan DPRD Bali, Niti Mandala Renon, Sabtu sore 30 Agusstus 2025. Sejak pukul 16.45 WITA, massa terlihat mulai bergerak, membuat titik api baru di depan gedung DPRD Bali.
Kericuhan pecah ketika aparat kepolisian tiba sekitar pukul 18.00 WITA. Bentrokan tidak terelakkan. Massa melakukan lemparan batu dan memukul kendaraan polisi yang terparkir di sekitar lokasi. Mereka juga melempari kantor DPRD hingga terdengar suara pecahan kaca.
Situasi makin memanas ketika sejumlah demonstran membakar serta menjarah perlengkapan huru hara milik polisi. Beberapa perlengkapan yang berhasil direbut massa diantaranya baju anti peluru, tameng, bahkan tembakan gas air mata.
Perlengkapan serta kendaraan polisi tersebut sempat dibawa kabur, lalu dibakar massa aksi demo di tengah jalan. Kobaran api dengan cepat membumbung sebelum akhirnya dipadamkan.
Aparat kepolisian menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan. Massa pun perlahan mundur, namun tidak sepenuhnya membubarkan diri.
Petugas kepolisian terus mengimbau warga yang sedang beraktivitas di sekitar lapangan Niti Mandala untuk segera menjauh.
Hal ini lantaran gas air mata yang ditembakkan turut menyebar ke area publik, hingga membuat sejumlah warga merasa terganggu. Beberapa masyarakat bahkan sempat memprotes aparat karena ikut terkena imbas gas air mata.
"Sekali lagi kami mohon untuk masyarakat yang ada di seputaran Renon, mohon maaf apabila aktivitas olahraganya terganggu. Tapi ini sudah anarkis, dari kelompok yang mengatasnamakan untuk unjuk rasa tapi melakukan pengerusakan. Sekali lagi saya mohon kepada masyarakat Bali sama-sama menjaga, jauhi, jangan mendekat, karena kelompok lain ini yang sudah berupaya merusak Bali," tegas salah seorang petugas polisi di lapangan, Sabtu 30 Agusstus 2025.
Harap Demonstran Tak Anarkis
Disisi lain, Kepala Satpol PP Bali I Dewa Nyoman Rai Dharmadi berharap demonstran untuk tidak anarkis, karena hal ini berpengaruh terhadap citra Bali sebagai wajah pariwisata dunia.
"Karena apa yang terjadi di Bali juga terbangun citra yang tidak baik secara di dunia nanti kan begitu karena Bali bagaimanapun kan hidup dari perwisata. Kita harapkan masyarakat demo dengan tertib, menyampaikan aspirasinya jangan ada anarkis, jangan merusak fasilitas publik karena akan berdampak negatif terhadap Bali sebagai destinasi perusahaan," pungkasnya.
Hingga pukul 22.00 WITA, aksi masih berlangsung di sekitar kawasan Renon, dengan suasana mencekam menyerupai malam Hari Raya Nyepi karena aktivitas warga terhenti.
Polisi masih melakukan penjagaan ketat di sekitar gedung DPRD Bali. Beberapa oknum demonstran juga telah diamankan aparat untuk diperiksa lebih lanjut terkait aksi perusakan dan penjarahan yang terjadi.