Gubernur Jatim Khofifah Temui Massa Demo di Depan Gedung Grahadi Surabaya

1 day ago 7

Liputan6.com, Surabaya - Gubernur Jawa Timur atau Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menemui massa demonstran di depan Gedung Grahadi Surabaya, Jawa Timur, sekitar pukul 21.00 WIB, Sabtu (30/8/2025).

Dia menyampaikan pihaknya berkoordinasi dengan Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya terkait pembebasan massa aksi yang ditahan, menyusul sudah ada dua orang dibebaskan siang tadi.

"Sekarang masih di Polrestabes Surabaya, dibebaskan malam ini. Bisa bertelfon dengan Pak Kapolda (Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur), karena tadi siang sudah ada dua yang dibebaskan. Jadi kita akan koordinasi ke Poltabes," ujar Gubernur Jatim Khofifah, Sabtu (30/8/2025).

Menurutnya, warga Jawa Timur yang ditahan adalah masyarakat yang selama ini bekerja keras dan berkontribusi positif dalam pembangunan.

"Ya tentu harapannya kalau sudah selesai tercapai saya rasa mereka warga Jatim yang baik, yang saya bersama di pemerintahan lima tahun ini mereka kerja keras luar biasa," ucap Khofifah.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansajuga menyampaikan pesan kepada masyarakat agar tidak mudah terprovokasi saat demo.

"Saya berharap jangan anarkis, jangan terprovokasi," jelas Khofifah.

Hingga berita ini dibuat, massa memadati area depan Gedung Negara Grahadi Surabaya, sambil melakukan pelemparan botol, bakar-bakar dan menyalakan petasan.

Sebelumnya, sejumlah mahasiswa dari Institute Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya dan massa dari elemen masyarakat lainnya yang melakukan unjuk rasa di depan Mapolrestabes Surabaya ricuh, sekitar pukul 16.55 WIB.

"Satu anak kecil yang menyalakan petasan saat demo tadi ditangkap polisi di depan Polrestabes Surabaya," ujar Rahmat, pedagang soto ayam asal Kapasan, yang biasa mangkal di sekitar Polrestabes Surabaya, Sabtu (30/8/2025).

Beberapa jam sebelumnya pada Kamis sore, massa yang menguasai jalan Pejompongan Raya, Tanah Abang, Jakarta Pusat, dipukul mundur polisi hingga radius 1 kilometer setelah sempat terlibat bentrokan.

Demo Berakhir Ricuh

Rahmat menceritakan bahwa para mahasiswa yang awalnya berorasi, akhirnya menarik diri dari barisan dan mundur.

"Kericuhan diduga dilakukan massa bukan dari mahasiswa. Mereka melemparkan batu, kayu hingga petasan ke dalam Polrestabes Surabaya," ucapnya.

Kericuhan pecah sesaat setelah pejabat Polrestabes Surabaya memberikan statement di depan barisan mahasiswa.

Sementara itu, salah satu korlap unjuk rasa berteriak bahwa bila terjadi kericuhan, berarti ada penyusup. "

Dan itu bukan barisan kami, dari mahasiswa," ujarnya.

Sebelumnya mereka menyebut bahwa ada sekitar 40 sampai 50 masih belum dibebaskan dari Polrestabes Surabaya.

"Bebaskan kawan kami. Bebaskan kawan kami," ucap korlap disambut teriakan massa aksi.

Sembari berteriak agar kawan-kawannya dibebaskan, mahasiswa ITS juga melemparkan bunga-bunga yang mereka bawa ke pintu gerbang Polrestabes Surabaya.

"Kawan kita ada di dalam. Ditahan. Padahal dia bukan penjahat. Kita minta tolong kawan-kawan kami dibebaskan," sambung korlap lainnya.

Menurutnya, polisi harusnya melindungi masyarakat. Bukan malah menahan rakyat. "Minta tolong bebaskan kawan kami," tandasnya.

Sementara barisan polisi yang dari awal berjaga di dalam Polrestabes Surabaya akhirnya menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa.

Hingga pukul 17.00 WIB, suasana masih belum kondusif. Sedangkan beberapa remaja yang diduga provokator diamankan.

Demo di Polrestabes Surabaya Ricuh, Massa Lempar Batu hingga Petasan

Sebelumnya, sejumlah mahasiswa dari Institute Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya dan massa dari elemen masyarakat lainnya yang melakukan unjuk rasa di depan Mapolrestabes Surabaya, Sabtu (30/06/2025). Unjuk rasa berlangsung ricuh.

"Satu anak kecil yang menyalakan petasan saat demo tadi ditangkap polisi di depan Polrestabes Surabaya," ujar Rahmat, pedagang soto ayam asal Kapasan, yang biasa mangkal di sekitar Polrestabes Surabaya, Sabtu (30/8).

Rahmat menceritakan bahwa para mahasiswa yang awalnya berorasi, akhirnya menarik diri dari barisan dan mundur.

"Kericuhan diduga dilakukan massa bukan dari mahasiswa. Mereka melemparkan batu, kayu hingga petasan ke dalam Polrestabes Surabaya," ucapnya.

Kericuhan pecah sesaat setelah pejabat Polrestabes Surabaya memberikan statement di depan barisan mahasiswa.

Sementara itu, salah satu koordinator unjuk rasa berteriak bahwa bila terjadi kericuhan, berarti ada penyusup. "Dan itu bukan barisan kami, dari mahasiswa," ujarnya.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |