IHSG Diprediksi Rawan Koreksi, Cermati Rekomendasi Saham Hari Ini 5 Agustus 2025

3 weeks ago 20

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang rawan koreksi pada perdagangan Selasa, (5/8/2025). IHSG hari ini akan menguji posisi 7.259-7.415.

IHSG merosot 0,97% ke posisi 7.464, dan masih didominasi oleh tekanan jual meskipun cenderung mengecil pada perdagangan Senin, 4 Agustus 2025. Koreksi IHSG pun sudah menutup area gap di rentang 7.469-7.478.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, pihaknya masih memperkirakan posisi IHSG sedang berada pada bagian dari wave (iv) dari wave [c]. Dengan demikian, IHSG masih rawan melanjutkan koreksi untuk menguji 7.259-7.415 sekaligus menguji area support terdekatnya.

Herditya menuturkan, IHSG akan berada di level support 7.240,7.415 dan level resistance 7.675,7.758 pada Selasa pekan ini.

Dalam riset PT Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, IHSG berpotensi menguat terbatas dengan level support dan level resistance di 7.440-7.600. “Potensi koreksi masih terbuka,” demikian seperti dikutip.

Rekomendasi Saham

Untuk rekomendasi saham hari ini, PT Pilarmas Investindo Sekuritas memilih saham PT WIR Asia Tbk (WIRG), PT Indah Kiat Pulp and Papers Tbk (INKP), dan PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA).

Sementara itu, Herditya memilih saham PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Essa Industries Indonesia Tbk (ESSA), PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), dan PT Industri Jamu dan Farmasi  Sido Muncul Tbk (SIDO).

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Rekomendasi Teknikal

Rekomendasi teknikal dari MNC Sekuritas:

1.PT Adhi Karya Tbk (ADHI) - Spec Buy

Saham ADHI menguat 6,50% ke 262 disertai dengan meningkatnya volume pembelian. "Selama masih mampu berada di atas 240 sebagai stoplossnya,  posisi ADHI saat ini sedang berada di awal wave (v) dari wave [a] dari wave B," kata Herditya.

Spec Buy: 248-256

Target Price: 270, 278

Stoploss: below 240

2.PT Essa Industries Indonesia Tbk (ESSA) - Buy on Weakness

Saham ESSA menguat 0,79% ke 640 dan disertai dengan adanya peningkatan volume pembelian. "Kami perkirakan, posisi ESSA sedang berada pada bagian dari wave (iii) dari wave [c]," tutur dia.

Buy on Weakness: 600-625

Target Price: 665, 700

Stoploss: below 565

3.PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) - Buy on Weakness

Saham PANI terkoreksi 2,17% ke 15.775 dan masih didominasi oleh tekanan jual, pergerakannya pun masih cenderung konsolidasi. "Kami perkirakan, pada label hitam, posisi PANI sedang berada pada bagian dari wave (iv) dari wave [c] dari wave Y," kata dia.

Buy on Weakness: 14.600-15.475

Target Price: 16.475, 18.250

Stoploss: below 14.100

4.PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) - Spec Buy

Saham SIDO terkoreksi ke 500 dan disertai dengan munculnya volume pembelian, namun penguatannya masih tertahan cluster MA20 dan MA60. Herditya menuturkan, pihaknya  perkirakan, selama masih mampu berada di atas 480 sebagai stoplossnya, maka posisi SIDO diperkirakan sedang berada pada bagian dari wave [iv] dari wave C.

Spec Buy: 490-500

Target Price: 525, 540

Stoploss: below 480

Sentimen Tarif Dagang

Dalam riset PT Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, sepanjang semester I 2025, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus perdagangan terbesar bagi Indonesia dengan nilai USD 9,92 miliar mencerminkan daya saing produk Indonesia yang kuat di pasar Amerika Serikat (AS).

Menteri Perdagangan Budi Santoso menuturkan, surplus ini tercapai bahkan sebelum pemberlakuan tarif resiprokal, menunjukkan ketahanan ekspor nasional di tengah tekanan geopolitik dan tren proteksionisme global.

Selain AS, Indonesia juga membukukan surplus dengan India sebesar USD 6,64 miliar, Filipina sebesar USD 4,36 miliar, Malaysia sebesar USD 3,07 miliar dan Vietnam sebesar USD 2,21 miliar, serta kawasan  meraih surplus terbesar dari ASEAN sebesar USD 9,6 miliar dan Uni Eropa sebesar USD 3,8 miliar meski IEU-CEPA belum diberlakukan.

Namun demikian, Indonesia tetap mengalami defisit dagang dengan China meskipun negara tersebut menjadi tujuan ekspor utama dengan nilai ekspor mencapai USD 29,31 miliar, diikuti oleh AS sebesar USD 14,79 miliar.

“Kami menilai negosiasi lanjutan dengan AS sangat diperlukan mengingat tarif yang diberlakukan kepada produk impor dari Indonesia Adalah sebesar 19% atau sama dengan rata-rata tarif negara ASEAN lainnya,” demikian seperti dikutip.

Adapun hal itu penting untuk menjaga momen positif ini secara berkelanjutan di masa yang akan datang. “Kesepakatan yang baik akan memberikan harapan bagi pasar untuk dapat kembali optimis, meskipun realistis,” demikian seperti dikutip.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |