Harga Emas Melesat Imbas Perang Iran-Israel, Saham Ini Bisa Jadi Pilihan Investasi

2 months ago 41

Liputan6.com, Jakarta Ketegangan geopolitik yang meningkat akibat perang antara Iran dan Israel telah mendorong lonjakan harga emas dunia.

Lonjakan ini tidak hanya mencerminkan pergeseran minat investor global ke aset safe haven, tetapi juga membuka peluang investasi baru di pasar saham Indonesia, khususnya di emiten-emiten pertambangan emas. Berikut ulasan lengkapnya:

Harga Emas Naik Tajam, Investor Beralih ke Aset Safe Haven

Kenaikan tajam harga emas disebabkan meningkatnya ketegangan geopolitik yang mendorong investor mengalihkan portofolio ke aset yang lebih aman.

Ditulis ulang dari artikel Liputan6.com sebelumnya, Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Wisnubroto menyebutkan bahwa produsen dan pedagang emas menjadi pihak yang paling diuntungkan secara sentimen pasar.

"Rotasi portofolio global ini memberikan dorongan positif terhadap permintaan emas fisik dan logam mulia lainnya, yang secara langsung menguntungkan emiten tambang emas nasional," katanya, Senin (16/6/2025).

Emiten Tambang Emas Diprediksi Catat Kinerja Cemerlang

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Stocknow.id, Hendra Wardhana menyatakan bahwa beberapa emiten emas seperti ANTM, BRMS, MDKA, PSAB, ARCI, dan HRTA diperkirakan akan mencatat kinerja keuangan yang membaik pada kuartal II dan III 2025.

Kenaikan harga jual rata-rata (ASP) emas global diyakini akan mendongkrak pendapatan dan margin laba bersih para emiten tersebut.

Emiten seperti ANTM, sebagai bagian dari holding MIND ID, memiliki posisi strategis sebagai produsen emas batangan terbesar di Indonesia melalui unit Logam Mulia.

Peluang Saham Emas Unggulan: BRMS, MDKA hingga ARCI

BRMS berpotensi mencetak lonjakan laba bersih berkat optimalisasi produksi di Tambang Poboya dan Palu yang ditargetkan menghasilkan lebih dari 15 ribu ons emas per kuartal pada 2025. Sementara MDKA, walau masih dalam tahap investasi besar untuk proyek Tujuh Bukit dan Pani, tetap menarik karena cadangan emasnya yang besar dan valuasi masa depan yang menjanjikan.

ARCI, dengan struktur biaya produksi yang efisien di Kalimantan Tengah, memiliki leverage besar terhadap harga emas. PSAB, dengan aset tambang besar di Martabe, berpeluang mengalami re-rating valuasi karena eksposurnya terhadap fluktuasi harga emas global.

Waspadai Risiko Volatilitas dan Perubahan Kebijakan

Meski prospek saham tambang emas terlihat menjanjikan, investor tetap perlu mencermati risiko yang mengintai. Volatilitas harga emas dapat terjadi jika ketegangan geopolitik mereda atau jika kebijakan suku bunga global berubah.

Ketergantungan emiten terhadap harga emas global membuat pergerakan sahamnya sangat sensitif terhadap dinamika eksternal. Oleh karena itu, strategi investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor dan dinamika pasar ke depan.    

Foto Pilihan

Penambang Dai Walker (kiri) dan pimpinan Alba Mineral Resources George Frangeskides memeriksa kondisi bawah tanah kelima tambang emas Clogau St David dekat Dolgellau, Wales, pada 27 Maret 2025. (Oli SCARFF/AFP)
Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |