Liputan6.com, Jakarta - PT Gudang Garam Tbk (GGRM) akan membagikan dividen tunai tahun buku 2024 sebesar Rp 962,04 miliar. Dengan demikian, Perseroan akan membagikan dividen kepada pemegang saham sebesar Rp 500 per saham.
PT Gudang Garam Tbk membagikan dividen setelah mendapatkan persetujuan pemegang saham pada 25 Juni 2025. Demikian mengutip dari keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Minggu (6/7/2025).
Perseroan membagikan dengan mempertimbangkan data keuangan per 31 Desember 2024 antara lain laba bersih yang didapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 980,80 miliar, saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar Rp 60,73 triliun dan total ekuitas sebesar Rp 61,91 triliun.
Berikut jadwal pembagian dividen tunai untuk tahun buku 2024:
- Tanggal cum dividen di pasar regular dan pasar negosiasi pada 4 Juli 2025
- Tanggal ex dividen di pasar regular dan pasar negosiasi pada 7 Juli 2025
- Tanggal cum dividen di pasar tunai pada 8 Juli 2025
- Tanggal ex dividen di pasar tunai pada 9 Juli 2025
- Tanggal daftar pemegang saham yang berhak atas dividen tunai pada 8 Juli 2025, pukul 16.00
- Tanggal pembayaran dividen pada 23 Juli 2025
Pada penutupan perdagangan Jumat, 4 Juli 2025, harga saham GGRM naik 1,08% ke posisi Rp 9.325 per saham. Harga saham GGRM dibuka stagnan di posisi Rp 9.225 per saham. Saham GGRM berada di level tertinggi Rp 9.350 dan level terendah Rp 9.200 per saham. Total frekuensi perdagangan 933 kali dengan volume perdagangan 10.256 saham. Nilai transaksi Rp 9,5 miliar.
Kinerja 2024
Sebelumnya, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) membukukan penurunan pendapatan dan laba sepanjang 2024.
Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Minggu (30/3/2025), PT Gudang Garam Tbk mencatat pendapatan Rp 98,65 triliun pada 2024. Pendapatan turun 117,06 persen dari periode 2023 sebesar Rp 118,95 triliun.
Biaya pokok pendapatan susut 14,45 persen menjadi Rp 89,27 triliun pada 2024 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 104,35 triliun. Namun, laba bruto Perseroan terpangkas 35,7 persen dari Rp 14,59 triliun pada 2023 menjadi Rp 9,37 triliun pada 2024.
Perseroan mencatat kenaikan beban usaha menjadi Rp 7,69 triliun pada 2024 dari 2023 sebesar Rp 7,33 triliun. Perseroan memperoleh laba kurs Rp 32,70 miliar pada 2024 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 5,6 miliar.
Laba usaha turun 74,41 persen menjadi Rp 1,90 triliun pada 2024 dari 2023 sebesar Rp 7,43 triliun. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk merosot 81,57 persen menjadi Rp 980,80 miliar pada 2024 dari 2023 sebesar Rp 5,32 triliun.
Seiring kinerja keuangan itu, laba per saham dasar dan dilusi turun menjadi Rp 510 pada 2024 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 2.767.
Total ekuitas naik tipis 1,7 persen menjadi Rp 61,91 triliun pada 2024 dari 2023 sebesar Rp 60,86 triliun. Liabilitas Perseroan merosot 27,11 persen menjadi Rp 23,02 triliun pada 2024 dari 2023 sebesar Rp 31,58 triliun. Aset Perseroan turun 8,1 persen menjadi Rp 84,93 triliun pada 2024 dari 2023 sebesar Rp 92,45 triliun. Perseroan kantongi kas dan setara kas sebesar Rp 3,70 triliun pada 2024 dari 2023 sebesar Rp 4,25 triliun.
Gudang Garam Absen Tebar Dividen Tahun Buku 2023
Sebelumnya, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) buka suara mengenai keputusan perseroan untuk tidak membagikan dividen atas laba tahun buku 2023. Di sisi lain, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mencatat kenaikan laba 91,55 persen menjadi Rp 5,32 triliun dari Rp 2,78 triliun pada 2022.
Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan Gudang Garam, Heru Budiman menjelaskan, langkah perseroan untuk absen bagikan dividen tak lepas dari situasi ekonomi saat ini. Kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed yang belum ada kepastian turun, membuat adanya peningkatan suku bunga pinjaman perseroan pada akhir 2023 hingga awal 2024.
"Kita juga sadari kondisi keuangan ke depan, termasuk yang sangat dipengaruhi kondisi AS masih gonjang-ganjing tidak tunjukkan arah yang jelas. Suku bunga diperkirakan turun, tapi enggak turun. Naik, juga enggak naik. Itu membuat kita hati-hati untuk tidak bagi dividen sehingga pinjaman kita tidak akan meningkat, yang kalau suku bunga naik itu merupakan suatu kendala," jelas Heru dalan Public Expose Live, Kamis (29/8/2024).
Sebaliknya, jika suku bunga akan benar-benar turun pada sisa 2024, potensi pembagian dividen lebih tinggi lebih mungkin terjadi. Dibanding kondisi saat suku bunga masih tinggi dan perusahaan nekat bagikan dividen. "Bagi dividen, utangnya naik, bunganya naik. Itu kartu mati," pungkas Heru.