Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertahan di zona hijau pada perdagangan Selasa (5/8/2025). Kenaikan IHSG terjadi di tengah rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2025.
Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup naik 0,68% ke posisi 7.515,18. Indeks LQ45 bertambah 1,07% ke posisi 796,21. Sebagian besar indeks saham acuan menghijau.
Pada perdagangan Selasa pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 7.546,94 dan level terendah 7.463,05. Sebanyak 330 saham melemah sehingga bebani IHSG. 274 saham menguat dan 200 saham diam di tempat.
Total frekuensi perdagangan 2.010.567 kali dengan volume perdagangan 28,3 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 18,5 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran Rp 16.376.
Mayoritas sektor saham menghijau. Sektor saham consumer siklikal melonjak 3,72% dan catat penguatan terbesar. Diikuti sektor saham keuangan naik 1,32%, sektor saham properti menguat 1,11%. Lalu sektor saham teknologi mendaki 0,95%, sektor saham kesehatan menanjak 0,58%, sektor saham transportasi bertambah 0,29%, sektor saham consumer nonsiklikal naik 0,24%, dan sektor saham energi naik tipis 0,09%.
Sementara itu, sektor saham basic melemah 1,11%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham industri merosot 0,25%, sektor saham infrastruktur susut 0,13%.
Gerak Saham
Pada Selasa pekan ini, saham ASII ditutup stagnan di posisi Rp 5.025 per saham. Harga saham ASII dibuka naik 25 poin ke posisi Rp 5.050 per saham. Saham ASII berada di level tertinggi Rp 5.050 dan terendah Rp 4.990 per saham. Total frekuensi perdagangan 6.229 kali dengan volume perdagangan saham 258.597 saham. Nilai transaksi Rp 129,6 miliar.
Saham MPPA meroket 13,79% ke posisi Rp 66 per saham. Harga saham MPPA dibuka naik ke posisi Rp 62 per saham dari penutupan terakhir di posisi Rp 62 per saham. Saham MPPA berada di level tertinggi Rp 73 dan terendah Rp 62 per saham. Total frekuensi perdagangan 23.857 kali dengan volume perdagangan 7.344.659 saham. Nilai transaksi Rp 50,2 miliar.
Harga saham LPKR bertambah 7,06% ke posisi Rp 91 per saham dari penutupan sebelumnya Rp 85 per saham. Harga saham LPKR dibuka naik satu poin ke posisi Rp 86. Harga saham LPKR berada di level tertinggi Rp 95 dan terendah Rp 85 per saham. Total frekuensi perdagangan 14.094 kali dengan volume perdagangan 2.358.491 saham. Nilai transaksi Rp 21,5 miliar.
Top Gainers-Losers
Saham-saham yang masuk top gainers antara lain:
- Saham MSKY melonjak 34,48%
- Saham FITT melonjak 34,08%
- Saham KBLV melonjak 33,33%
- Saham RELI melonjak 24,58%
- Saham KPIG melonjak 24,29%
Saham-saham yang masuk top losers antara lain:
- Saham MTFN merosot 20%
- Saham IKAN merosot 14,63%
- Saham DKHH merosot 12,05%
- Saham FIMP merosot 9,80%
- Saham CBRE merosot 9,80%
Saham-saham teraktif berdasarkan nilai antara lain:
- Saham CDIA senilai Rp 1,5 triliun
- Saham BMRI senilai Rp 1,3 triliun
- Saham BRPT senilai Rp 725,9 miliar
- Saham BBRI senilai Rp 692,6 miliar
- Saham BBCA senilai Rp 584,1 miliar
Saham-saham teraktif berdasarkan frekuensi antara lain:
- Saham CDIA tercatat 208.607 kali
- Saham COIN tercatat 105.985 kali
- Saham CUAN tercatat 64.384 kali
- Saham MINA tercatat 63.608 kali
- Saham BRPT tercatat 41.604 kali
Bursa Saham Asia Pasifik
Bursa saham Asia Pasifik menguat pada perdagangan Senin, 5 Agustus 2025. Kenaikan bursa saham Asia Pasifik setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan rencana menaikkan tarif ekspor India ke negara itu secara signifikan.
“India tidak hanya membeli minyak Rusia dalam jumlah besar, tetapi mereka juga menjual sebagian besar minyak yang dibeli di pasar terbuka untuk mendapatkan keuntungan besar,” tulis Trump di platform media sosial Truth Social.
Berikut kinerja bursa saham Asia Pasifik seperti dikutip dari CNBC:
- Indeks ASX 200 naik 1,23%
- Indeks Hang Seng di Hong Kong naik 0,68%
- Indeks Kospi di Korea Selatan naik 1,6%
- Indeks Nikkei 225 di Jepang naik 0,64%
- Indeks Nifty 50 melemah 0,24%
- Indeks Shanghai naik 0,96%
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2025 sebesar 5,12 persen secara tahunan atau year on year.
"Ekonomi Indonesia berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan II-2025 atas dasar harga berlaku sebesar Rp 5.947 triliun. Atas dasar harga konstan, nilainya mencapai Rp 3.396 triliun. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2025 bila dibandingkan triwulan II tahun 2024 atau secara year on year tumbuh sebesar 5,12 persen," kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Wilayah, Moh. Edy Mahmud, dalam konferensi pers pertumbuhan ekonomi triwulan II-2025, Selasa (5/8/2025).
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia secara triwulan ke triwulan atau quarter to quarter (q to q) di triwulan II-2025 tumbuh 4,04 persen.
"Pertumbuhan ekonomi q to q ini sejalan dengan pola musiman yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya, di mana pertumbuhan q to q di triwulan II lebih tinggi daripada triwulan I sebelumnya," ujarnya.
Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan II-2025 yang mencapai 5,12 persen juga lebih tinggi dibandingkan triwulan II-2024, yaitu 5,05 persen.