Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham di kawasan Asia dan Pasifik dibuka bervariasi pada perdagangan Senin pagi ini, seiring investor mempertimbangkan dampak kebijakan tarif baru Amerika Serikat (AS) dan lonjakan produksi minyak oleh OPEC+.
Sentimen pasar di bursa Asia turut dipengaruhi oleh laporan ketenagakerjaan AS yang dirilis akhir pekan lalu. Data tersebut membuat indeks di Wall Street tertekan dan memicu spekulasi bahwa The Fed mungkin akan segera memangkas suku bunga pada bulan depan.
Mengutip CNBC, Senin (4/8/2025), sejumlah bursa utama di Asia mencatatkan penurunan tajam di awal perdagangan. Indeks Nikkei 225 Jepang melemah 2,05% dan Topix turun 1,86% pada pukul 08.11 waktu Singapura.
Sementara itu, bursa Korea Selatan menunjukkan pergerakan positif. Indeks Kospi naik tipis 0,13% dan indeks Kosdaq yang berisi saham-saham berkapitalisasi kecil naik 0,53%.
Di Australia, indeks S&P/ASX 200 tercatat melemah 0,21%.
Di sesi perdagangan Asia awal, kontrak berjangka indeks saham AS cenderung stagnan. Hal ini terjadi setelah pengumuman tarif baru oleh AS menimbulkan kekhawatiran akan tekanan inflasi dan potensi perlambatan ekonomi.
Kontrak berjangka S&P 500 tercatat turun tipis 0,05%, sementara Nasdaq 100 justru naik 0,06%. Kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average turun 12 poin atau sekitar 0,03% pada pukul 07.55 waktu Singapura (19.55 WIB, Minggu malam).
Fokus Investor
Investor masih terus mencermati perkembangan kebijakan perdagangan AS dan potensi dampaknya terhadap inflasi global.
Di sisi lain, pasar juga akan memantau pergerakan harga minyak setelah kelompok OPEC+ mengumumkan akan menaikkan produksi sebesar 547.000 barel per hari mulai September.
Dari sisi prediksi pembukaan, indeks Nikkei 225 Jepang diperkirakan dibuka lebih rendah. Kontrak berjangka di Chicago menunjukkan level 39.965, sementara indeks di Osaka terakhir berada di level 39.900. Ini lebih rendah dari penutupan terakhir di 40.799,60.
Indeks berjangka Hang Seng Hong Kong juga berada di posisi 24.282, lebih rendah dari penutupan sebelumnya di 24.507,81.
Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia diperkirakan dibuka melemah dengan kontrak berjangka berada di posisi 8.587, dibandingkan penutupan terakhir di 8.662.
OPEC+ Sepakat Dongkrak Produksi Minyak
Sebelumnya diberitakan bahwa OPEC+ sepakat meningkatkan produksi minyak sebesar 547.000 barel per hari untuk September. Keputusan terbaru pada Minggu, 3 Agustus 2025 merupakan serangkaian kenaikan produksi yang dipercepat untuk mendapatkan kembali pangsa pasar di tengah meningkatnya kekhawatiran atas potensi gangguan yang terkait dengan Rusia.
Langkah ini menandai pembalikan penuh dan awal dari pemangkasan produksi terbesar OPEC+ ditambah peningkatan produksi terpisah untuk Uni Emirat Arab sebesar sekitar 2,5 juta barel per hari, atau sekitar 2,4% dari permintaan dunia.
Delapan anggota OPEC+ mengadakan pertemuan virtual singkat, di tengah meningkatnya tekanan AS terhadap India untuk menghentikan pembelian minyak Rusia, bagian dari upaya Washington untuk membawa Moskow ke meja perundingan untuk kesepakatan damai dengan Ukraina. Presiden Donald Trump mengatakan ia menginginkan hal ini pada 8 Agustus.
Dalam sebuah pernyataan setelah pertemuan tersebut, OPEC+ menyebutkan ekonomi yang sehat dan stok yang rendah sebagai alasan di balik keputusannya.