Liputan6.com, Jakarta - PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) akan melakukan pembelian kembali atau buyback saham senilai Rp 500 miliar.
Perseroan menyatakan buyback saham dilakukan sebagai upaya menjaga stabilitas perdagangan saham di pasar modal dalam kondisi volatilitas tinggi dan meningkatkan kepercayaan investor.
Pembelian kembali atau buyback saham tersebut dilakukan selama tiga bulan sejak 4 Agustus-31 Oktober 2025. BFI Finance Indonesia telah menunjuk PT Trimegah Sekuritas untuk melakukan buyback saham di BEI melalui pasar regular.
“Buyback akan dilakukan pada harga yang dianggap baik dan wajar oleh Perseroan dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” demikian seperti dikutip.
Perseroan yakin pelaksanaan buyback yang dilakukan tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap operasional, kinerja keuangan, struktur permodalan, dan tingkat likuiditas Perseroan.
“Perseroan juga dalam posisi likuiditas yang kuat dan memiliki arus kas yang mencukupi untuk mendukung kelangsungan kegiatan operasional,” demikian seperti dikutip.
Pelaksanaan buyback ini akan dilakukan antara lain dengan mengacu pada ketentuan-ketentuan yang berlaku antara lain:
1. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 13 Tahun 2023 tentang Kebijakan Dalam Kinerja dan Stabilitas Pasar Modal Pada Kondisi Pasar Yang Berfluktuasi Secara Signifikan (POJK No. 13/2023);
2. Surat Otoritas Jasa Keuangan No. S-17/D.04/2025 tanggal 18 Maret 2025 perihal Kebijakan Pelaksanaan Pembelian Kembali Saham yang Dikeluarkan oleh Perusahaan Terbuka dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi Secara Signifikan (“Surat OJK No. S17/D.04/2025”); dan
3. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 29 Tahun 2023 tentang Pembelian Kembali Saham Yang Dikeluarkan oleh Perusahaan Terbuka (POJK No. 29/2023).
Kinerja Kuartal I 2025
Sebelumnya, PT BFI Finance Tbk (BFIN) membukukan laba bersih Rp 405,5 miliar pada kuartal I 2025, meningkat 12,2% dibandingkan capaian tahun lalu.
Kinerja positif ini berhasil dicapai di tengah volatilitas pasar yang tinggi seiring ketidakpastian kebijakan ekonomi, serta risiko geopolitik akibat intensitas perang dagang AS-Cina.
Pada kuartal I 2025, total aset BFI Finance meningkat 6,3% secara tahunan (year-on-year/yoy), menjadikan aset Perusahaan tercatat sebesar Rp 25,7 triliun. Peningkatan ini dikontribusi oleh kenaikan piutang dikelola (managed receivables) sebesar 12,8 Persen yoy dengan total Rp 25,4 triliun.
Selain itu, piutang pembiayaan bersih (net receivables) terkumpul Rp22,8 triliun yang juga mengalami kenaikan sebesar 7,6% dibandingkan kuartal I 2024.
Perusahaan konsisten untuk terus bertumbuh ditandai rapor nilai pembiayaan baru yang tercatat baik dengan nilai sebesar Rp5,9 triliun atau tumbuh 23,6% yoy. Peningkatan penyaluran pembiayaan baru tertinggi berasal dari segmen pembiayaan berjaminan BPKB roda empat BFI Dana Express Mobil sebesar 31,3 % yoy.
Porsi Piutang
Porsi piutang dikelola masih didominasi oleh pembiayaan berjaminan BPKB roda empat dan roda dua sebesar 60,0%, pembiayaan untuk pengadaan kendaraan roda empat (bekas dan baru) sebesar 16,3%, pembiayaan alat berat dan mesin sebesar 14,8%, pembiayaan berjaminan sertifikat properti 4,9%, dan pembiayaan syariah serta lainnya sebesar 4,0%.
Dari segi tujuan pembiayaan (purpose of financing), piutang dikelola Perusahaan paling banyak tercatat untuk pembiayaan modal kerja dan investasi senilai Rp 19,8 triliun, diikuti oleh pembiayaan multiguna sebanyak Rp4,8 triliun, dan pembiayaan syariah sebesar Rp 784,8 miliar hingga Maret 2025.
“Kami terus berkomitmen tingkatkan layanan dan gencar menawarkan beragam promo menarik bagi konsumen tetap dan konsumen baru sehingga masyarakat semakin mudah mengakses pembiayaan dari BFI Finance. Salah satunya momentum bulan Ramadan lalu, kami menyediakan beragam paket pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan jelang hari raya,” ungkap Presiden Direktur BFI Finance, Sutadi dalam keterangan resmi, Minggu (27/4/2025).
Terlepas dari pertumbuhan tersebut, Perusahaan tetap waspada dalam mengelola kualitas portofolionya dengan melakukan peningkatan kendali terhadap underwriting kredit dan juga membangun kapabilitas collection yang kuat.
Rasio Pembiayaan Bermasalah
Alhasil, rasio pembiayaan bermasalah (Non- Performing Financing/NPF) per 31 Maret 2025 tetap solid di bawah posisi 1,50 Persen, yakni 0,22 Persen (neto) dan 1,30 Persen (bruto) dengan cakupan penyisihan 2,8 kali.
Persentase NPF ini masih lebih baik dibandingkan rerata industri yang berada di posisi 0,92 Persen (neto) dan 2,87 Persen (bruto) mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Februari 2025.
Rasio penting keuangan lainnya juga menunjukkan postur yang sehat. Per Maret 2025, Return on Asset (ROA) tercatat sebesar 8,0 Persen atau naik 50 bps dan Return on Equity (RoE) sebesar 15,5 Persen atau lebih tinggi 60 bps dibandingkan per Maret 2024. Sedangkan gearing ratio terpantau sebesar 1,2 kali.
"Performa yang baik sepanjang kuartal pertama tahun ini tak lepas dari kelolaan manajemen risiko yang cermat serta efisiensi biaya yang kami lakukan guna menunjang profitabilitas," ujar Sutadi.
Untuk income statement, BFI Finance menorehkan total pendapatan senilai Rp 1,7 triliun dengan kenaikan sebesar 6,8 Persen yoy disertai capaian laba bersih sebesar Rp 405,5 miliar, meningkat 12,2 Persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.