Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang mengkaji untuk menyesuaikan jam perdagangan. Hal ini untuk menjangkau seluruh segmen investor di seluruh wilayah Indonesia.
Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik menuturkan, penyesuaian jam perdagangan bursa tersebut masih kajian yang bertujuan melayani dengan baik seluruh segmen investor baik investor asing dan ritel yang ada di seluruh wilayah Indonesia. “(Kajian-red) sedang proses. Tujuan utama kami melayani investor dengan lebih baik,” kata Jeffrey saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Rabu (18/6/2025).
Ia menambahkan, penyesuaian jam perdagangan termasuk salah satu kajian yang dilakukan BEI. Seiring hal itu, ia mengatakan, jam operasional di bursa di kawasan Asia juga dikaji. “Jam operasional di bursa lain di kawasan Asia juga kita kaji untuk menjaga competitive advantage,” tutur dia.
Mengutip laman idx.co.id, saat ini jam perdagangan di BEI pada sesi pertama untuk Senin-Kamis pada pukul 09.00-12.00 sedangkan Jumat pada pukul 09.00-11.30. Sementara itu, sesi kedua, jam perdagangan pada Senin-Kamis pada 13.30-15.49.59, sedangkan Jumat pada pukul 14.00-15.49.59.
Penutupan IHSG pada 17 Juni 2025
Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah menghijau pada perdagangan Selasa, 17 Juni 2025. Penguatan IHSG itu terjadi di tengah aksi beli saham oleh investor asing.
Mengutip data RTI, IHSG ditutup melonjak 0,54% ke posisi 7.155,85. Indeks LQ45 bertambah 0,62% ke posisi 799,88. Sebagian besar indeks saham acuan menghijau. Pada perdagangan Selasa pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 7.181,46 dan level terendah 7.143,60. Sebanyak 289 saham menguat sehingga angkat IHSG. Namun, 309 saham melemah sehingga tahan penguatan IHSG. 209 saham diam di tempat.
Total frekuensi perdagangan 1.224.653 kali dengan volume perdagangan 18,8 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 11,9 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.264. Investor asing membeli saham Rp 259,54 miliar pada Selasa pekan ini. Sepanjang 2025, investor asing masih melakukan aksi jual saham Rp 48,46 triliun.
Mayoritas sektor saham menghijau kecuali sektor saham energi dan industri masing-masing turun 0,62% dan 1,01%. Sementara itu, sektor saham transportasi melonjak 2,55%, dan catat lonjakan terbesar. Sektor saham basic mendaki 1,67%, sektor saham consumer nonsiklikal menguat 0,04%, sektor saham consumer siklikal bertambah 1,72%.
Kemudian sektor saham kesehatan naik 0,52%, sektor saham keuangan mendaki 0,20%, sektor saham properti menanjak 0,42%. Selanjutnya sektor saham teknologi bertambah 1,41%, sektor saham infrastruktur menguat 0,81%.
Sentimen IHSG
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menuturkan, pelaku pasar menantikan arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (the Fed), yang di ekspektasikan suku bunga tetap bertahan di saat ketidakpastian tarif dagang AS yang tetap membebani sentimen pasar global.
“The Fed diprediksi mempertahankan suku bunga acuan atau tidak berubah, sehingga pasar akan mencermati dengan saksama setiap arahan ke depan mengenai arah kebijakan moneternya,” demikian seperti dikutip dari Antara.
Harapan untuk penurunan suku bunga lebih lanjut pada tahun ini telah berkurang di tengah ketidakpastian terkait perdagangan dan tekanan inflasi yang dipicu oleh harga minyak yang lebih tinggi.
Selain itu, pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati seiring masih terbebani ketegangan di Timur Tengah, kekhawatiran geopolitik tetap menjadi fokus.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyerukan evakuasi Teheran di tengah serangan udara Israel yang terus berlanjut, menegaskan kembali bahwa Iran seharusnya menerima kesepakatan nuklir yang diusulkannya.
Dilaporkan Iran bersedia untuk memulai kembali pembicaraan terkait program nuklir-nya selama AS tidak mencampuri konflik yang sedang terjadi antara Iran dan Israel.
Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) pada Rapat Dewan Gubernur 17 dan 18 Juni 2025.
Pelaku pasar memprediksi BI tetap mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,5 persen, hal ini sebagai upaya untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak semakin tingginya ketidakpastian geopolitik dan perekonomian global dengan perkembangan konflik Iran dan Israel.