Liputan6.com, Jakarta Pasokan nikel global diperkirakan akan mencapai 3,8 juta ton pada 2025, dengan Indonesia menjadi kontributor utama lewat peningkatan produksi lebih dari 2,1 juta ton. Namun demikian, sejumlah hambatan seperti kekurangan asam, tantangan keberlanjutan (ESG), serta keterlambatan izin masih membatasi output aktual.
Permintaan dari sektor baja tahan karat tetap kuat dengan porsi sekitar 68%, namun pertumbuhan permintaan dari baterai mulai melambat menjadi hanya sekitar 10% secara tahunan, seiring meningkatnya penggunaan kimia LFP (Lithium Iron Phosphate).
“Meskipun stok nikel yang terlihat di LME tercatat sekitar 85 ribu ton, sebagian besar merupakan Kelas II, sedangkan pasokan Kelas I masih ketat,” ujar Equity Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Farras Farhan dalam risetnya, dikutip Rabu (18/6/2025).
Hal ini menciptakan premi harga sebesar USD3.000 per ton untuk nikel Kelas I.
Dengan biaya produksi marginal berkisar USD15.000–15.800 per ton, potensi penurunan harga dinilai terbatas. Rata-rata harga nikel diperkirakan stabil di angka USD15.500 per ton, didukung oleh ketidakefisienan produksi dan permintaan yang terbagi dua arah. Namun, tanpa percepatan kendaraan listrik (EV) atau investasi struktural baru, potensi kenaikan harga juga terbatas.
Emas Menguat di Awal Tahun, Tapi Pasar Mulai Waspada
Harga emas mencatat rata-rata USD3.054 per ons sejak awal tahun, terdorong oleh aliran masuk ETF sebesar USD12 miliar, pembelian oleh bank sentral sekitar 250 ton pada kuartal pertama, serta penurunan imbal hasil riil.
Minat investor juga tercermin dari total posisi terbuka (open interest) di bursa COMEX yang melampaui USD225 miliar, menandakan pergeseran dari obligasi ke aset riil seperti emas. Namun, indikator pasar mulai menunjukkan kejenuhan.
“Selisih harga premium emas di pasar Tiongkok telah turun dari USD49 menjadi USD17 per ons, dan arus masuk ETF mulai terhenti,” kata Farras.
Meski begitu, dengan biaya produksi AISC (All-In Sustaining Cost) yang meningkat ke level USD1.360 per ons, harga emas dinilai memiliki batas bawah yang solid. Dalam kondisi inflasi yang masih tinggi dan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, emas diperkirakan akan terkonsolidasi di semester kedua. Rata-rata harga 2025 diproyeksikan mencapai USD3.100 per ons, dengan dukungan jangka pendek tetap ada meski risiko siklus akhir mulai terasa.
Perbedaan Harga Komoditas Picu Ketimpangan Saham
Lanskap saham komoditas Indonesia merespons secara asimetris terhadap tren harga yang berbeda. Reli harga emas yang menyentuh USD3.300 per ons telah mendorong potensi pendapatan bagi emiten seperti MDKA yang menargetkan produksi sekitar 120 ribu ons pada 2025, serta BRMS yang bersiap mendongkrak volume menuju 75 ribu ons berkat kapasitas baru dari fasilitas CPM.
Sementara itu, ANTM diproyeksikan menjual 42,5 ton emas tahun depan dan akan mendapat keuntungan langsung dari margin yang meningkat.
“Di sisi lain, sentimen negatif terhadap nikel—meskipun harga stabil di kisaran USD15.500 per ton—masih membebani kinerja saham INCO dan NCKL,” ungkap Farras. Kedua emiten ini memiliki margin yang sangat sensitif terhadap biaya asam dan selisih harga sulfat.
Ketimpangan ini membuat valuasi saham tambang terbelah: saham yang terpapar emas mengalami revaluasi karena dorongan EPS, sementara saham nikel justru mendekati valuasi terendahnya, menunggu pemicu dari sisi fundamental atau kebijakan.
Rekomendasi Netral, Namun Emas Masih Jadi Pilihan Favorit
Meski secara umum sektor tambang dipertahankan pada peringkat Netral, emiten yang terpapar emas menjadi pilihan utama berkat dinamika jangka pendek yang menguntungkan.
“Kami melihat sentimen negatif di pasar nikel sebagian besar telah tercermin di harga, membuka peluang masuk secara taktis,” ujar Farras.
ANTM menjadi pilihan utama dengan rekomendasi HOLD dan target harga Rp3.300 (12,7x P/E 2025F), didukung oleh penjualan emas yang kuat dan diversifikasi ke komoditas lain yang mendukung pertumbuhan laba. MDKA dan BRMS juga disorot sebagai proxy emas ber-beta tinggi yang berpotensi mendapat dorongan dari peningkatan volume produksi di proyek-proyek baru.
Risiko positif yang bisa mendorong sektor ini termasuk siklus kenaikan harga komoditas yang berkepanjangan serta percepatan progres hilirisasi yang lebih baik dari ekspektasi, yang berpotensi meningkatkan sentimen di seluruh ruang pertambangan dan logam.