Liputan6.com, Jakarta - PT Barito Pacific Tbk (BRPT) selama enam bulan pertama tahun 2025 mencatatkan pendapatan konsolidasi sebesar USD 3,22 juta, naik 179% YoY. Sementara itu, laba bersih periode berjalan setelah pajak mencapai USD 1,72 juta atau menguat 3,348% YoY.
Peningkatan signifikan dalam laba terutama didorong oleh keberhasilan akuisisi Aster Chemicals and Energy Pte. Ltd. (ACE) pada April 2025, yang menghasilkan pencatatan bargain purchase accounting.
Pencapaian ini semakin diperkuat oleh peningkatan kontribusi dari Barito Renewables, yang mencatatkan peningkatan output panas bumi dan ekspansi margin meskipun terdapat pelemahan musiman pada sektor energi angin.
Grup juga meraih tonggak penting di pasar modal melalui IPO PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), platform infrastruktur kami, yang disambut dengan minat tinggi dari investor dan validasi pasar yang positif.
Pencapaian ini mencerminkan kepercayaan kuat investor terhadap visi jangka panjang CDI dan menegaskan komitmen kami untuk mempercepat pertumbuhan melalui pengembangan infrastruktur secara organik.
Strategi Perseroan
Strategi BRPT berfokus pada empat pilar utama yaitu energi, air, logistik, dan industri penyimpanan. Kami juga mencatat keberhasilan penyelesaian proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Ultra Supercritical (USC) Jawa 9 & 10, yang telah mencapai Commercial Operation Date (COD).
Direktur Utama Perseroan, Agus Pangestu menyatakan Perseroan mempertahankan momentum positif sepanjang paruh pertama tahun 2025, melanjutkan pencapaian dari awal tahun yang kuat.
"Kami mampu mempertahankan kinerja yang baik di tengah ketidakpastian global yang berkelanjutan, didukung oleh kedisiplinan dalam eksekusi di seluruh portofolio serta kontribusi dari berbagai pencapaian strategis yang telah terlaksana,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (5/8/2025).
Peningkatan Operasional
Peningkatan operasional pada segmen energi terbarukan dan kimia, disertai pengelolaan modal dengan kehati-hatian, membantu mengimbangi tantangan eksternal dan memperkuat rencana pertumbuhan Perseroan.
Agus menambahkan, pencapaian ini menegaskan kemampuan tim kami dalam mengeksekusi proyek berskala besar secara aman tanpa kecelakaan, tepat waktu, dan sesuai anggaran, dengan total investasi sebesar USD 3,3 miliar.
Terlepas dari pencapaian signifikan yang telah diraih, Perseroan tetap menjaga struktur permodalan yang solid, dengan rasio utang bersih terhadap ekuitas membaik menjadi 0.49x dari 0.72x pada akhir 2024, peningkatan didorong oleh kenaikan ekuitas sebagai hasil dari pencatatan bargain purchase accounting.
"Fondasi keuangan yang kuat ini memberikan fleksibilitas dan ketahanan bagi kami untuk mendukung rencana ekspansi di tahun mendatang. Ke depan, kami tetap fokus menjalankan agenda pertumbuhan, memperkuat kapabilitas transisi energi, dan menciptakan nilai jangka panjang bagi para pemangku kepentingan,” kata dia.
Adapun, akuisisi Aster menjadi langkah awal Perseroan menuju posisi sebagai pemain regional, sekaligus memperkuat platform pertumbuhan.
Barito Pasific (BRPT) Kantongi Pinjaman Rp 700 Miliar, Buat Apa?
Sebelumnya, emiten milik Prajogo Pangestu, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) berhasil mengantongi fasilitas pinjaman dari PT Bank Tabungan Negara Tbk (Persero) atau Bank BTN, (BBTN) senilai Rp 700 miliar.
"PT Barito Pacific Tbk dengan bangga mengumumkan keberhasilan memperoleh pinjaman korporasi senilai Rp 700 miliar dari PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (Bank BTN)," ungkap BRPT dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (29/12/2024).
Direktur Keuangan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) David Kosasih menyampaikan terima kasih atas dukungan keuangan yang diberikan Bank BTN kepada perseroan.
"Kami berterima kasih atas dukungan yang diberikan Bank BTN kepada Barito Pacific. Kemitraan ini tidak hanya memperkuat kredibilitas kami, tetapi juga memperkuat kemampuan finansial dan aspek pendanaan kami dalam menjalankan bisnis kami di masa mendatang," kata David Kosasih.
David Kosasih menjelaskan bahwa, berdasarkan perjanjian pinjaman, fasilitas kredit modal kerja bergulir senilai Rp.700 miliar tersebut mencakup dua tranche masing-masing senilai Rp.350 miliar.
"Fasilitas keuangan strategis ini menggarisbawahi rekam jejak keuangan Barito Pacific yang terbukti dan akan memberikan fleksibilitas keuangan untuk kegiatan operasional perusahaan," bebernya.
Sebagai informasi, Barito Pacific (BRPT) merupakan perusahaan energi dengan berbagai aset listrik dan industri. Melalui PT Barito Renewables Energy (BREN), BRPT mengoperasikan aset panas bumi dengan total kapasitas terpasang sebesar 886 MW dan kapasitas terpasang ladang angin sebesar 75 MW.
Dalam sembilan bulan pertama tahun 2024, Barito Pacific mencatat penurunan laba bersih setelah pajak menjadi USD 61 juta, turun 37% YoY.
Penurunan ini terutama disebabkan oleh volatilitas yang berkelanjutan di sektor petrokimia, pemeliharaan pada salah satu unit operasi panas buminya, dan pemeliharaan terjadwal (Turnaround Maintenance/TAM) di kompleks petrokimia.
Laba Bersih hingga Total Aset
Laba Bersih Konsolidasi Setelah Pajak Barito Pacific juga turun pada paruh pertama tahun 2024, sebesar 37% YoY menjadi USD 61juta dari USD 97 juta pada tahun sebelumnya.
Pada akhir 9 bulan tahun 2024, total aset BRPT mencapai USD 10,190 juta dibandingkan dengan USD 10,150 juta pada akhir tahun 2023.
Meskipun terjadi penurunan di segmen petrokimia, perseroan tetap mempertahankan profil likuiditas yang kuat, dengan utang bersih terhadap ekuitas tetap stabil di 0.78x, yang memberikan ruang bagi kebutuhan pendanaan lebih lanjut untuk mendukung ekspansi perseroan ke depan.