Liputan6.com, Jakarta - Apple kembali menunjukkan komitmennya terhadap industri dalam negeri Amerika Serikat. Dalam pernyataan bersama CEO Apple, Tim Cook, dan Presiden AS, Donald Trump, pada Rabu lalu, perusahaan teknologi raksasa tersebut mengumumkan rencana ekspansi investasi sebesar USD 100 miliar atau Rp 1.629 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.294) untuk perusahaan dan pemasok asal AS dalam empat tahun ke depan.
Investasi ini bertujuan untuk mendorong lebih banyak produksi komponen dalam negeri dan menarik perhatian perusahaan asing agar ikut menggunakan komponen buatan AS. Ini merupakan tambahan dari komitmen Apple sebelumnya senilai USD 500 miliar yang diumumkan pada Februari.
“Ini adalah investasi terbesar yang pernah dilakukan Apple di Amerika dan di mana pun. Seperti yang Anda ketahui, Apple telah menjadi investor di beberapa negara lain dan mereka akan kembali,” ujar Trump, dikutip dari CNBC International, Kamis (7/8/2025).
Trump juga mengungkapkan harapannya berbagai pabrik baru akan mulai dibangun di bawah kebijakannya. Ia menyebutkan saat ini sudah ada banyak pabrik yang sedang atau akan segera dibangun, meski belum bisa memastikan kapan akan beroperasi penuh.
Proyek Apple: Kaca iPhone hingga Chip Buatan AS
Sebagai bagian dari rencana investasinya, Apple mengumumkan pembentukan Program Manufaktur Amerika, yang melibatkan sejumlah perusahaan seperti Corning, Coherent, GlobalWafers, Applied Materials, Texas Instruments, Samsung, GlobalFoundries, Amkor, dan Broadcom.
Salah satu langkah signifikan adalah pengeluaran sebesar USD 2,5 miliar untuk memperluas kemitraan dengan Corning, perusahaan yang memproduksi kaca untuk iPhone di Kentucky. Apple menyatakan, seluruh kaca untuk iPhone dan Apple Watch kini akan diproduksi di AS melalui fasilitas Corning. Bahkan, Tim Cook memberikan suvenir kaca buatan Corning kepada Trump saat berada di Gedung Putih.
Tak hanya itu, Apple juga meneken kesepakatan jangka panjang dengan Coherent, yang akan memproduksi laser untuk sistem pengenalan wajah iPhone (Face ID).
Apple menargetkan produksi lebih dari 19 miliar chip di AS untuk berbagai produknya sepanjang tahun ini. Jumlah tersebut termasuk chip yang diproduksi oleh TSMC di Arizona, wafer dari GlobalWafers, serta chip dari Texas Instruments. Perusahaan ini juga akan bekerja sama dengan Texas Instruments untuk memasang peralatan tambahan di fasilitas mereka di Utah dan Texas.
Di sisi lain, GlobalFoundries, produsen chip lama yang kerap bekerja untuk pemerintah AS, akan memproduksi teknologi pengisian daya nirkabel untuk Apple dari fasilitasnya di New York.
Apple menyatakan, ambisi jangka panjangnya adalah memiliki rantai pasok "end-to-end" di dalam negeri, yang berarti seluruh proses pembuatan chip, mulai dari bahan baku hingga produk akhir, dilakukan di Amerika.
Apple Juga Bangun Server AI dan Dukung Tambang Tanah Jarang
Apple sebelumnya juga mengumumkan investasi USD 500 juta untuk mendukung perusahaan tambang tanah jarang, serta membangun server AI di fasilitas Texas bagian dari upaya memperkuat ekosistem manufaktur lokalnya.
Cook menjelaskan bahwa permintaan Trump-lah yang menjadi pemicu tambahan investasi tersebut
“Presiden Trump menyampaikan beberapa kata-kata baik tentang pekerjaan itu, tetapi beliau juga meminta kami untuk memikirkan apa lagi yang dapat kami komitmenkan. Bapak Presiden, kami menanggapi tantangan itu dengan sangat serius,” jelas Cook.
Masih Belum Ada iPhone “Made in USA”
Meski Apple memperluas investasinya di AS, perusahaan tersebut belum berencana untuk merakit iPhone secara penuh di dalam negeri, seperti yang diinginkan Trump. Para analis menyebutkan bahwa memindahkan seluruh produksi iPhone ke AS akan sangat mahal dan memerlukan waktu bertahun-tahun.
Saat ditanya soal hal ini, Cook menegaskan bahwa banyak komponen iPhone sebenarnya sudah diproduksi di AS, seperti semikonduktor, kaca, hingga modul Face ID.
“Jika Anda melihat sebagian besarnya, kami memproduksi banyak semikonduktor di sini, kami memproduksi kaca di sini, kami memproduksi modul ID Wajah di sini,” kata Cook.
Jejak Investasi Apple di AS
Apple bukan kali pertama berkomitmen terhadap ekonomi domestik. Pada 2018, di masa pemerintahan Trump, Apple mengumumkan rencana investasi USD 350 miliar selama lima tahun (sekitar USD 70 miliar per tahun). Lalu pada 2021, Apple kembali mengumumkan akan menggelontorkan USD 430 miliar selama lima tahun.
Kini, dengan tambahan USD 100 miliar, total investasi Apple menjadi USD 600 miliar dalam empat tahun ke depan, atau sekitar USD 125 miliar per tahun angka terbesar yang pernah dilakukan perusahaan tersebut.
Meski Apple tidak merinci pengeluaran per tahunnya di AS dan sebagian besar pemasok tidak mengungkapkan pendapatan dari Apple secara spesifik, mayoritas proyek tersebut diketahui telah berjalan.
Masalah Tarif Masih Jadi Tantangan
Apple tetap menghadapi tantangan dari kebijakan perdagangan, khususnya kenaikan tarif atas produk-produk impor dari Tiongkok dan India. Saat ini, perusahaan membayar tarif atas produk dari Tiongkok, serta menghadapi kemungkinan tambahan tarif untuk impor semikonduktor setelah penyelidikan Pasal 232 oleh Pemerintahan Trump.
Trump juga mengumumkan rencana tarif 100% untuk semikonduktor dan chip, tetapi menyebutkan bahwa Apple akan dikecualikan karena investasinya di AS.
Sebagai catatan, Apple menyebut bahwa sebagian besar iPhone yang dijual di AS kini dirakit di India, guna menghindari tarif dari Tiongkok. Meski tarif untuk produk asal India akan naik menjadi 25%, menurut sumber di Gedung Putih, Apple tidak akan terlalu terdampak.
Namun, Apple memperkirakan tarif tersebut tetap bisa menggerus keuntungan hingga USD 1,1 miliar dalam kuartal ini.