Liputan6.com, Yogyakarta Dekan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhammad Kamal mengatakan perbedaan generasi menjadi latar belakang Workshop Pengembangan Diri bagi Dosen untuk mengajar mahasiswa generasi Z atau Gen Z. Workshop ini digelar guna mengurangi kesenjangan antar generasi antara dosen dan mahasiswa agar proses penyampaian informasi dapat lebih efektif dan menyeluruh. “Mahasiswa saat ini berasal dari generasi yang sangat berbeda dengan kita atau dosen di masa lalu. Di tengah era yang penuh dengan gadget, kita perlu memahami karakteristik mahasiswa sebagai ‘klien’ agar bisa menekan gap generasi,” ujarnya.
Workshop ini mengundang tiga narasumber yang merupakan dosen dari Fakultas Psikologi UGM yaitu Rizqi Nur’aini A’yuninnisa, yang menjelaskan tentang Karakteristik & Pola Pikir Generasi Z. Menurutnya, Gen Z ini dikenal dengan ciri-cirinya yang unik, seperti aksesibilitas terhadap teknologi sejak dini, gaya belajar visual-interaktif, responsif terhadap umpan balik instan, serta preferensi terhadap pembelajaran berbasis proyek dan kolaboratif.
Nisa menjelaskan dalam kehidupannya Gen Z sangat dekat perkembangan teknologi ini telah menjadikan gadget sebagai bagian esensial sehari-hari, walau terkadang menjadi distraksi. Menurutnya dosen dapat merancang “rule of the game” agar mahasiswa tetap fokus dan gadget tidak menjadi pengganggu, contoh menetapkan kapan gadget boleh digunakan dalam kelas dan untuk tujuan apa saja.
Namun masalah laiannya yang dihadapi Gen Z adalah kecederungan mengalami gangguan kesehatan mental. Mereka mudah merasa “burn out” atau mengalami tekanan emosional, bahkan sering melakukan self-diagnosis. “Masalah ini berakar dari aspek sosio-emosional yang belum berkembang optimal di fase pendidikan sebelumnya. Oleh karena itu, kita sebagai dosen perlu lebih proaktif dalam mendampingi mahasiswa. Salah satu prinsip dasar yang ditekankan adalah menjadi pendengar yang aktif dan tidak menghakimi,” tuturnya.
Selain itu tantangan lainnya adalah gaya belajar generasi Z yang menuntut proses pembelajaran yang relevan, otentik, dan interaktif. Mereka lebih menyukai umpan balik cepat, visualisasi, dan metode pembelajaran berbasis proyek. Maka dengan memahami karakteristik Gen Z ini maka para dosen dapat menyeimbanginya dengan menciptakan metode pengajaran yang lebih relevan, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa masa kini, sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai secara optimal.
Sementara itu Aisha Sekar Lazuardini Rachmanie, memberikan cara kepada dosen bagaimana membangun koneksi dan empati terhadap mahasiswa Generasi Z dengan menerapkan teknik active listening dan pertanyaan reflektif. Aisha mengajak para dosen untuk membagikan cerita dan keluh kesah mereka selama menghadapi para mahasiswa, jika mahasiswa yang tergolong Gen Z ini perlu untuk diingatkan dengan tegas agar lebih reflektif terhadap dirinya.
Sehingga Aisah menekankan pentingnya bagi para dosen untuk menyampaikan ekspektasi dan batasan sejak awal dengan komunikasi yang tegas namun terbuka. Contohnya, menjelaskan dosen hanya merespon pesan di jam kerja dan memiliki aturan dalam penggunaan bahasa komunikasi yang profesional. “Tegas maksudnya disini adalah jelas bahwa disini teman-teman adalah mahasiswa, dan pihak fakultas harus reflektif agar mahasiswa bisa belajar. Jadi mereka juga harus belajar dari proses atau masalah yang mereka diskusikan kepada kita (dosen),” jelasnya.
Sedangkan, Fakhirah Inayaturrobbani, Dosen Fakultas Psikologi UGM juga menyampaikan soal metode pembelajaran yang menarik bagi Gen Z seperti hybrid learning dan pemanfaatan teknologi. Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran ini tentu sangat diperlukan oleh mahasiswa yang pada era ini lebih banyak tertarik dengan pembelajaran daring, seperti kuis menggunakan Quizizz, Mentimeter, atau yang disebut dengan gamifikasi dalam pembelajaran.
Workshop yang digelr selama dua hari pada 17-18 Juni 2025 ini diikuti oleh seluruh dosen Fakultas Geografi UGM untuk bisa lebih memahami karakteristik mahasiswa dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih tepat. Pada hari kedua, dosen Fakultas Psikologi UGM Ardian Rahman Afandi, Psikolog yang memberikan paparan di dua sesi sekaligus terkait dengan motivasi dan kepemimpinan untuk Gen Z, serta Syaifa Tania, yang memaparkan tentang komunikasi efektif dengan Gen Z.