Liputan6.com, Sijunjung - Matahari baru saja tenggelam di Sumpur Kudus Selatan, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, disusul suara azan dari Masjid Buya Safii Maarif. Suara azan hari itu sama seperti azan-azan sebelumnya, yang membedakan energi listrik yang menyinari.
Pada Jumat, 2 Mei 2025, Masjid Buya Syafii Maarif resmi beralih menggunakan energi surya sebagai sumber utama listriknya. Di balik momen yang tampak sederhana ini, tersembunyi kisah besar tentang harapan, ketahanan, dan kolaborasi yang meretas jalan menuju transisi energi ramah lingkungan.
Pemasangan panel surya ini merupakan bagian dari program Sedekah Energi yang digagas oleh Koalisi Muslim for Shared Action on Climate Impact (Mosaic) Indonesia. Program ini telah bergerak sejak 2022, menyebar dari Nusa Tenggara Barat hingga Yogyakarta dan Jawa Barat, sebelum akhirnya mendarat di Sumatera Barat.
Menurut M. Syahdiladarama, perwakilan Mosaic Indonesia, pemilihan masjid ini bukan tanpa alasan. Survei menyeluruh dilakukan untuk menilai potensi cahaya matahari dan peran sosial masjid dalam kehidupan masyarakat.
“Kami ingin energi ini bukan hanya menggantikan listrik PLN atau genset, tetapi juga menjaga agar suara azan tetap berkumandang, meskipun listrik padam,” ujar Syahdiladarama. Ia menambahkan bahwa Mosaic juga telah memberikan pelatihan teknis kepada masyarakat agar pemanfaatan panel surya tidak berhenti setelah tim mereka pergi.
Dan memang, pemadaman listrik di Sumpur Kudus bukan perkara baru. Hampir setiap minggu, warga harus menghadapi mati lampu antara lima hingga sepuluh kali. Bahkan, saat hujan deras, pemadaman bisa berlangsung hingga 24 jam.
Di sinilah energi surya menawarkan bukan sekadar cahaya, tetapi juga rasa tenang bagi masyarakat setempat yang akan beribadah.
Sistem Canggih di Atap Masjid
Teknologi yang digunakan cukup mumpuni. Delta Prayoga Nugraha, teknisi yang bertanggung jawab dalam instalasi, menjelaskan bahwa sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di masjid ini menggunakan panel dengan kapasitas 5.500 WP dan didukung baterai 9.600 Watt.
Sistem ini dirancang hybrid—energi matahari menjadi sumber utama, sementara PLN tetap tersedia sebagai cadangan. “Kalau baterai terisi penuh, sistem ini bisa bekerja selama satu setengah hari tanpa bantuan listrik PLN,” jelas Delta.
Pengalihan dari energi surya ke PLN pun otomatis melalui sistem Automatic Transfer Switch (ATS), sehingga kenyamanan jemaah tidak terganggu sama sekali.
Meski ada sedikit tantangan seperti bidang miring di atap masjid, cuaca cerah membantu kelancaran instalasi. Kini, saat cuaca mendukung, seluruh kebutuhan listrik masjid bisa dipenuhi hanya dengan tenaga surya.
Suara Azan Tetap Terdengar
Khairul Basri, Wali Nagari Sumpur Kudus Selatan, mengaku lega sekaligus bangga. Baginya, panel surya bukan hanya solusi teknis, tapi juga berkah yang nyata. “Biasanya kalau hujan, listrik bisa mati sampai seharian. Sekarang kami tidak perlu khawatir lagi, apalagi soal azan yang tak bisa terdengar karena speaker mati,” katanya.
Leo Prima Weski (26), pemuda nagari setempat, melihat inisiatif ini sebagai jembatan edukasi. “Anak-anak di sini jadi tahu bahwa teknologi bisa digunakan dengan cara yang selaras dengan alam. Ini bukan hanya soal listrik, tapi cara pandang baru,” tuturnya.
Menurut Leo, aktivitas di masjid kini jauh lebih stabil. Dari speaker azan, kipas angin, hingga pompa air yang sebelumnya terhenti saat listrik padam, kini bisa terus menyala berkat energi matahari. “Kalau air mati, kami benar-benar kesulitan. Sekarang, kami merasa lebih aman,” katanya.
Senada dengan Leo, Novia Sartika (35), warga yang rumahnya tak jauh dari masjid, merasakan manfaat langsung dari keberadaan panel surya tersebut. “Pernah listrik mati dua hari, dan kami sama sekali tidak bisa mengisi daya handphone atau mendengar pengumuman dari masjid,” ujarnya.
Ia mengingat satu kejadian ketika seseorang meninggal dunia di nagari, namun kabar itu tak langsung tersebar karena pengeras suara masjid tidak berfungsi. “Dengan panel surya ini, kami tidak hanya dapat cahaya, tapi juga bisa tetap terhubung sebagai komunitas,” katanya. Novia pun mulai mempertimbangkan untuk memasang panel surya di rumahnya.
Sinar dari Ujung Kampung
Transisi energi seringkali terdengar sebagai istilah besar yang hanya bisa dilakukan oleh negara atau korporasi raksasa.
Namun, kisah dari Masjid Buya Syafii Maarif menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari tempat ibadah kecil di perbukitan, oleh tangan-tangan warga yang percaya bahwa masa depan bisa dibangun bersama.
Biaya pemasangan sistem energi surya ini mencapai Rp75 juta—angka yang terbilang signifikan untuk sebuah masjid di kampung. Namun nilai yang dihadirkan jauh melampaui angka itu: ketahanan energi, pendidikan lingkungan, dan ketenangan batin.
Di hari-hari cerah, sinar matahari jatuh ke atap masjid bukan hanya menerangi ruangan, tapi juga membuka lembaran baru, bahwa cahaya dari langit bisa menjadi jalan keluar dari ketergantungan pada energi kotor.
Dan siapa sangka, langkah kecil itu dimulai dari Sumpur Kudus, tempat Buya Syafii Maarif dilahirkan—seorang tokoh yang sejak lama menyerukan pentingnya ilmu, iman, dan tanggung jawab pada bumi.