Rumah BUMN BRI Bantu Bingah Leather Craft Kenalkan Produk Tas Kulit Cantik

15 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Bingah Leather Craft merupakan usaha rumahan yang dirintis oleh Agustina Sulistyaningrum di Gumpang, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Meski dikelilingi para pesaing, namun kemampuan adaptasinya mampu membuat UMKM fashion ini masih bertahan hingga sekarang.

Berawal dari penjualan tas kulit sederhana pada 2018, Bingah Leather Craft kini menghadirkan beragam produk berbahan kulit yang menyasar berbagai kebutuhan konsumen. Mulai dari produk fashion hingga kebutuhan korporasi diproduksi dari workshop yang berada di Sukoharjo.

Perjalanan usaha tersebut tidak selalu berjalan mulus. Selain menghadapi persaingan produk impor, Agustina juga pernah mengalami kendala dalam pengelolaan keuangan usaha yang membuat perkembangan bisnisnya berjalan kurang maksimal.

Melalui berbagai pelatihan yang diperoleh dari Rumah BUMN Solo binaan BRI, Bingah Leather Craft mulai melakukan berbagai pembenahan hingga mampu meningkatkan omzet usaha dan memperluas pasar.

Menghadirkan Beragam Produk Berbahan Kulit untuk Berbagai Segmen Pasar

Sejak awal berdiri, Bingah Leather Craft memang berfokus pada satu jenis produk, yakni kreasi tas berbahan kulit asli. Seiring berjalannya waktu, Agustina lantas melihat kebutuhan pasar yang beragam sebagai peluang hingga mampu mengembangkan jenis produknya seperti sling bag, tas kerja, ransel pria, dompet, dompet STNK, gantungan kunci, pouch, kotak pensil hingga variasi eco print yang unik.

Tidak hanya melayani pembelian satuan, Bingah Leather Craft juga menerima pesanan dari instansi pemerintah, perusahaan swasta, komunitas hingga lembaga pendidikan yang membutuhkan produk berbahan kulit dengan desain khusus.

Harga yang ditawarkan pun bervariasi. Untuk produk aksesori sederhana seperti gantungan kunci dijual mulai Rp 10.000. Sementara dompet STNK dibanderol sekitar Rp35.000 hingga Rp50.000. Adapun produk tas dijual mulai Rp 250.000 hingga lebih dari Rp 750.000 tergantung ukuran, jenis kulit dan tingkat kerumitan pengerjaan.

Menurut Agustina, variasi produk tersebut menjadi salah satu cara untuk menjangkau konsumen dari berbagai kalangan tanpa meninggalkan identitas utama usaha yang mengedepankan kualitas bahan kulit.

"Kami membuat berbagai produk kulit, mulai dari gantungan kunci, dompet, tas wanita, tas pria, sampai pesanan khusus dari instansi dan perusahaan," ujar Agustina, saat ditemui Liputan6 di galerinya, Jumat (5/6) sore lalu.

Mengembangkan Tas Kulit dengan Sentuhan Ecoprint

Selain mengandalkan produk berbahan kulit konvensional, Bingah Leather Craft juga mulai menghadirkan inovasi dengan menggabungkan unsur kulit dan ecoprint.

Konsep tersebut lahir dari keinginan untuk menghadirkan produk yang berbeda di tengah persaingan industri fashion yang semakin ketat. Melalui perpaduan kulit dan motif alami dari daun, produk yang dihasilkan memiliki karakter yang lebih unik dan tidak mudah ditemukan di pasaran.

Inovasi tersebut sekaligus menjadi cara Bingah Leather Craft untuk mengikuti tren fashion yang terus berkembang. Sehingga dari sana, produk-produk dengan sentuhan ecoprint mulai mendapatkan perhatian dari konsumen karena menawarkan tampilan yang berbeda dibanding tas kulit pada umumnya.

"Kami mulai mengembangkan kombinasi kulit dengan ecoprint supaya produknya lebih unik dan memiliki pasar baru. Apalagi, waktu itu eco print kan memang ramai ya," katanya.

Banjir Produk Impor Jadi Tantangan Terberatnya

Persaingan pasar menjadi tantangan yang terus dihadapi Bingah Leather Craft. Agustina mengakui banyak produk impor yang masuk ke pasar Indonesia dengan harga jauh lebih murah dibandingkan produk lokal.

Sebagian besar produk tersebut menggunakan bahan sintetis yang sekilas menyerupai kulit asli. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha lokal harus bekerja lebih keras untuk meyakinkan konsumen mengenai kualitas produk yang mereka tawarkan.

Meski demikian, Bingah Leather Craft memilih tidak menurunkan standar kualitas demi mengejar harga murah. Agustina tetap mempertahankan penggunaan bahan yang sesuai dengan identitas usahanya sejak awal. Menurutnya, kualitas merupakan investasi jangka panjang yang akan menentukan kepercayaan pelanggan terhadap sebuah merek.

"Kami memilih tetap mempertahankan kualitas bahan karena itu yang membuat pelanggan kembali membeli produk kami," ujarnya.

Pembukuan yang Dulu Sederhana Membuat Usaha Sulit Berkembang

Selain tantangan pemasaran, Agustina mengaku sempat mengalami kendala dalam mengelola keuangan usaha. Pada masa awal menjalankan bisnis, pencatatan keuangan masih dilakukan secara sederhana dan belum terpisah dengan kebutuhan rumah tangga.

Kondisi tersebut membuat dirinya kesulitan mengetahui keuntungan usaha secara pasti. Uang hasil penjualan seringkali langsung digunakan untuk berbagai kebutuhan sehingga perkembangan usaha tidak dapat terukur dengan baik.

Ia mengaku tidak menyadari bahwa pencatatan keuangan yang rapi menjadi salah satu fondasi penting dalam mengembangkan usaha secara berkelanjutan. Beruntung, situasi itu mulai berubah setelah dirinya mengikuti berbagai pelatihan yang membahas pengelolaan keuangan usaha secara lebih terstruktur.

"Dulu uang usaha dan uang pribadi sering tercampur. Setelah belajar, saya jadi paham bahwa keduanya harus dipisahkan supaya perkembangan usaha bisa terlihat," kata Agustina.

Pelatihan Keuangan dari Rumah BUMN Solo Binaan BRI Dorong Omzet Naik 10 Persen

Perubahan mulai dirasakan setelah Agustina mengikuti program pendampingan dan pelatihan yang diselenggarakan Rumah BUMN Solo binaan BRI. Salah satu materi yang paling banyak membantu usahanya adalah pengelolaan keuangan, pembukuan dan penentuan harga pokok produksi.

Melalui pelatihan tersebut, Agustina belajar menyusun pembukuan sederhana, memisahkan keuangan usaha dan rumah tangga, serta menghitung biaya produksi secara lebih tepat.

Pengetahuan tersebut membantu dirinya menentukan harga jual yang sesuai sekaligus menjaga keuntungan usaha tetap sehat. Selain itu, pencatatan yang lebih rapi membuatnya lebih mudah mengevaluasi perkembangan bisnis dari waktu ke waktu.

Menurut Agustina, perubahan tersebut berdampak langsung terhadap kinerja usaha. Setelah menerapkan berbagai materi yang diperoleh dari pelatihan, omzet Bingah Leather Craft mengalami peningkatan sekitar 10 persen.

"Pelatihan keuangan sangat membantu karena sekarang saya lebih paham menghitung biaya produksi dan mengelola keuangan usaha. Omzet juga mengalami peningkatan, ya ada lah, sekitar 10 persenan, iya sekitar segitu," ujarnya.

Rumah BUMN Solo BRI Buka Kesempatan UMKM Naik Kelas dan Terus Berkarya

Fasilitator Rumah BUMN Solo, Condro Rini, mengatakan pihaknya terus berupaya membantu UMKM agar dapat berkembang secara berkelanjutan melalui berbagai program pelatihan dan pendampingan.

Menurutnya, Rumah BUMN Solo sangat siap untuk memberikan pelatihan reguler, termasuk menghadirkan program pendampingan intensif melalui BRIncubator yang membekali pelaku usaha dengan berbagai kemampuan penting dalam menjalankan bisnis.

Materi yang diberikan mencakup manajemen keuangan, digital marketing, legalitas usaha hingga penguatan strategi bisnis. Pendampingan tersebut diharapkan mampu membantu UMKM meningkatkan kapasitas usaha dan lebih siap menghadapi perubahan pasar.

Condro menegaskan keberhasilan UMKM tidak hanya diukur dari besarnya penjualan, tetapi juga kemampuan untuk bertahan dan terus berkembang dalam jangka panjang.

"UMKM dianggap sukses ketika usaha mereka bukan hanya ramai penjualan, tetapi yang mampu bertahan, berkembang, dan membawa manfaat bagi banyak orang," ujar Condro Rini kepada Liputan6.

Bagi Bingah Leather Craft, pendampingan tersebut menjadi bekal penting untuk terus memperluas pasar. Dari sebuah usaha tas kulit rumahan di Sukoharjo, kini produknya semakin dikenal oleh konsumen dari berbagai daerah dan terus berupaya meningkatkan daya saing di tengah ketatnya persaingan industri fashion.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |