Sukses dengan Tjahnom, UMKM Tote Bag Ini Kembangkan Sister Brand Tjenderakata

13 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Ditemui di kediamannya pada Minggu (5/6/2025) di daerah Perum Jomhor Baru Mlati, Sleman, Yogyakarta, Intan, owner dari UMKM Tjahnom menceritakan perjalanannya merintis usaha tote bag dari tahun 2016. Berawal dari memulai tanpa konsep matang, kini makin berkembang hingga luar kota.

Cerita yang terus mengalir, kemudian sampailah pada cerita tentang sister brand Tjahnom dengan nama Tjenderakata. Sukses dengan Tjahnom, Intan merintis Tjenderakata di tahun ke-9 Tjahnom yaitu tepatnya pada 2025.

"Jadi kita mulai launching Tjenderakata itu tahun 2025," kata Intan.

Masih satu kesatuan dengan Tjahnom, namun dua produk tote bag tersebut mempunyai keunikan masing-masing. Meski pada awalnya merintis Tjahnom dengan tidak sengaja pasca resign dari karyawan kantoran, kini Intan sukses menjalani bisnisnya hingga sudah melahirkan nama brand kedua.

"Awalnya itu sebenernya ga ada konsep. Ga ada konsep sama sekali. Jadi mulai tahun 2016 itu bener-bener yang udah pokoknya jalan dulu," cerita Intan mengenang masa awal mulai berbisnis.

Filosofi di Balik Nama Tjahnom

Merintis Tjahnom pada tahun 2016, usaha Intan sempat berjalan tanpa legalitas sampai tahun 2018. Kemudian pada tahun 2019 usahanya tutup sementara karena pandemi Covid-19 yang kala itu memaksa masyarakat untuk berhenti sejenak dari segala aktivitas yang melibatkan interaksi banyak orang.

Sampai pada akhirnya tahun 2022, Intan kembali menjalankan usaha dan fokus pada tote bag canvas. Pelan tapi pasti, usaha tote bag tersebut kemudian difokuskan pada desain quote lettering yang tentunya bisa jadi motivasi untuk pemiliknya.

"Terus yaudah akhirnya kita tahun 2022, yaudah kita fokus ke tote bag, kita pakai canvas yang kantur, terus kita fokus ke desain quote lettering," cerita Intan.

Banyak keunikan dari brand Tjahnom ini, salah satunya adalah makna dibalik nama 'Tjahnom'. Muncul tiba-tiba pada tahun 2016, Tjahnom diambil dari kata NOM yang merupakan panggilan kesayangan sang suami untuk Intan.

"Sebenernya nama NOM itu dari suami. Dia manggil saya itu NOM. Terus yaudah kita waktu itu ga kepikiran nama apa-apa selain nama itu," cerita Intan sembari tersenyum mengingat awal nama brand Tjahnom tersebut tercetus.

Sejak awal merintis Tjahnom, dari produk pouch hingga kini fokus pada tote bag, Intan menjalaninya berdua dengan sang suami. Bahkan ide untuk memberi merek pada usaha yang dijalani Intan saat itu adalah sang suami.

"Gimana kalau kita kasih label. Terus yaudah bikin merek gitu. Terus yaudah coba aja lah," kata Intan mengingat kata-kata sang suami kala itu.

Pernah Bisnis Kaus Sepeda saat Masih Pacaran Bareng Suami

Yuko, suami Intan yang muncul sesaat setelah momen bincang hampir selesai, membagikan sedikit cerita tentang makna dibalik nama brand Tjahnom. Tidak ada alasan khusus, nama tersebut tiba-tiba tercetus agar barang yang diproduksi saat itu punya nama brand.

"Itu panggilan sayang saya ke dia sebenarnya," kata Yuko sembari tersenyum.

"Namanya NOM itu untuk label, Tjahnom buat yang tote bag, yang souvenir," tambahnya.

Intan dan suaminya menikah pada tahun 2016. Pasangan yang merupakan lulusan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini sempat pacarana selama tiga tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah.

Merintis usaha Tjahnom bersama sang istri sejak awal, Yuko membantu dalam hal desain dan produksi. Uniknya, tahun Tjahnom dirintis sama dengan tahun Yuko dan Intan menikah yaitu tahun 2016

"Desain dan produksi. Desainnya hand lettering. Hand lettering itu yang quote, yang kepatah, yang kata-kata gitu terus yang visual kan ya," cerita Yuko.

Ditemani teriknya matahari, Yuko menceritakan bahwa ia dan sang istri pernah usaha kaos sepeda saat masih pacaran. Hanya berlangsung setahun, kemudian fokus pada tote bag dan pouch.

"Sebenernya kami itu udah usaha kaos dulu, kaos sepeda sejak pacaran terus nggak dilanjut karena sibuk. Terus berganti haluan ke tas, tote bag, pouch," kata Yuko.

Tantangan dalam Menjalankan Usaha Tote Bag

Ada tantangan tersendiri yang dihadapi oleh Intan menjalani usaha tote bag Tjahnom. Salah satunya adalah koordinasi dengan tim jahit yang tersebar. Karena belum punya kantor dan tempat produksi khusus, semua masih dilakukan di rumah.

"Jadi agak menantang juga untuk koordinasi dengan tim menjahit yang tersebar. Untuk menyamakan kualitas itu tantangannya sendiri buat kami," kata Intan.

Menjaga kualitas produk juga tentu menjadi tantangan. Menarik pelanggan baru tentu mudah karean bisa dilakukan lewat promosi media sosial. Namun menjaga pelanggan lama agar tetap setia tentu tidak mudah.

"Ngebrief mereka untuk menjaga kualitasnya, untuk disamakan dengan sampel yang kami siapkan," tambahnya.

Lahirnya Tjenderakata sebagai Sister Brand

Tjenderakata masih menjadi satu kesatuan dengan Tjahnom dan tetap menggunakan bahan canvas dengan fokus pada produk tote bag. Kualitasnya juga tidak jauh berbeda dengan NOM dan ukuran tote bag-nya juga variatif.

Berbeda dengan Tjahnom yang mengusung konsep custom sesuai pesanan pelanggan dengan minimal jumlah pemesanan, Tjenderakata hadir tanpa batas minimal pembelian sehingga lebih cocok bagi pelanggan yang ingin membeli secara satuan tanpa harus melakukan pemesanan kolektif.

"Mulai tahun ini, tahun 2025, kami merilis satu brand baru yang tetap inline dengan produk sebelumnya, itu kami beri nama Tjendrakata. Jadi bisa dibilang masih satu-kesatuan lah, walaupun saat produksinya itu kami masih nebeng, nebeng sama si induknya yang NOM ini," cerita Intan.

Tjenderakata Mengangkat Bahasa Daerah dalam Desain Tote Bag

Berbeda dengan NOM yang menghadirkan desain quote berisi motivasi, lelucon, maupun tulisan lain sesuai permintaan pelanggan, Tjenderakata lebih berfokus mengangkat bahasa daerah sebagai ciri khas dalam desain quote yang dibuat.

"Kalau yang Tjenderakata itu, kami fokus untuk mengangkat bahasa daerah. Jadi quote-nya, text-nya itu, text bahasa daerah," jelas Intan.

Untuk saat ini, Tjenderakata masih fokus mengmbangkan quote desain dengan penggunaan bahasa Jawa. Ke depannya, Intan berharap desain quote bahasa daerah pada tote bag Tjenderakata dapat semakin beragam dengan menghadirkan berbagai bahasa dari daerah lain di Indonesia.

"Sekarang mulainya baru bahasa Jawa dulu, karena bahasa Jawa banyak sekali, nanti untuk ke depannya sih kami pengennya ada daerah lain," cerita Intan.

Pemanfaatan QRIS BRI dalam Digitalisasi Usaha

Tjahnom juga menyediakan Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS dari Bank Rakyat Indoensia (BRI) untuk pembayaran pelanggan, baik pembelian secara online ataupun offline seperti di pameran atau pop-up market. Untuk penjualan secara offline, QRIS memang sangat memudahkan pelanggan karena tidak perlu repot membayar dengan uang tunai.

"Itu QRIS itu udah tahun lalu kalau gak salah ya. Sebelum saya kurasi produk untuk dipajang di galeri itu, sebelumnya udah ada daftar QRIS-nya," kata Intan.

Tjenderakata yang desainnya tanpa custom bisa difokuskan menjadi produk khusus offline, apalagi ketika pameran. Intan mengungkapkan jika dulu ia bingung ketika diajak untuk pameran oleh Dinas atau instansi tertentu karena produk Tjahnom dibuat berdasarkan pesanan dan tidak ada produk yang disisakan.

Oleh karenanya, hadirnya Tjenderakata yang masih satu kesatuan dengan Tjahnom tentunya menjadi inovasi yang visioner karena bukan hanya produk baru tetapi bisa dibuat untuk bisa menjangkau pasar offline di momen tertentu.

"Dan sekarang karena kami itu dulu setiap kali mau diajak pameran sama dinas, sama apa ya, kayak biasanya sih kerja sama dinas, kami binaan dinas juga, ada beberapa kantor dari pemerintahan juga kan, kita gak punya barang, jadi kalau misalnya diajakin pameran, kami bingung ngomong apa, karena pre-order semua," cerita Intan.

BRI Telah Menyalurkan KUR Sebesar Rp65,95 Triliun per April 2026

Hingga periode April 2026, Bank Rakyat Indonesia (BRI) tercatat telah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan total mencapai sekitar Rp65,95 triliun. Capaian ini menunjukkan komitmen BRI dalam memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di berbagai daerah di Indonesia.

Realisasi penyaluran tersebut juga menjadi bukti bahwa BRI secara konsisten berperan dalam mendorong UMKM agar dapat berkembang lebih maju dan naik kelas secara berkelanjutan. Dukungan pembiayaan ini diharapkan mampu memperkuat daya saing pelaku usaha lokal di tengah tantangan ekonomi yang terus berubah.

Dari total penyaluran tersebut, sekitar 66,47 persen dialokasikan untuk sektor-sektor produktif seperti pertanian, perikanan, dan industri pengolahan.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |