Fakta MBG di Batam: Hampir Setiap Hari 200 Porsi Tersisa, Mubazir

11 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Penghentian sementara program makan bergizi gratis (MBG) di SMA Negeri 3 Batam memunculkan pandangan berbeda. Di satu sisi, pihak sekolah menilai program tersebut menyisakan persoalan pemborosan makanan dan mengganggu efektivitas pembelajaran. Namun di sisi lain, sejumlah siswa mengaku merasakan manfaat langsung dari program unggulan pemerintah tersebut dan berharap dapat kembali berjalan.

Seperti di SMAN 3 Batam. Hampir setiap hari terdapat antara 100 hingga 200 porsi makanan yang tersisa dan akhirnya tidak dikonsumsi.

"Hampir setiap hari ada lebih 100 sampai 200 porsi yang tersisa. Kami melihat itu menjadi mubazir. Selera anak-anak berbeda-beda sehingga tidak semua makanan yang dibagikan dikonsumsi," kata Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 3 Batam, Becek Tang kepada Liputan6.com, Jumat (12/6/2026).

Dia menilai kondisi tersebut berpotensi menimbulkan pemborosan anggaran negara jika tidak dibarengi dengan evaluasi terhadap pola distribusi dan sasaran penerima manfaat.

Becek menuturkan hingga kini pihak sekolah belum menerima kepastian mengenai kelanjutan program tersebut.

"Kami mendapat informasi penghentian sementara sejak awal semester ini. Suratnya dari pusat melalui SPPG, kemudian disampaikan ke sekolah. Sampai sekarang kami masih menunggu informasi selanjutnya," beber Becek.

Menurut dia, SPPG sempat menyampaikan bahwa penghentian sementara diduga berkaitan dengan perbaikan fasilitas dapur. Namun sekolah tidak mengetahui secara rinci alasan penghentian tersebut.

Sebelumnya, distribusi MBG untuk SMAN 3 Batam sempat dialihkan dari SPPG Buana Vista ke SPPG Legenda Malaka sebagai bagian dari penyesuaian wilayah layanan. Makanan terbuang hingga ratusan porsi.

Di balik pelaksanaan program tersebut, sekolah mengungkap adanya persoalan yang dianggap perlu menjadi bahan evaluasi pemerintah, yakni tingginya jumlah makanan yang tidak dikonsumsi siswa.

Bahkan, pihak sekolah berpandangan dana program akan lebih efektif apabila dialokasikan langsung untuk kebutuhan pendidikan atau diberikan kepada siswa yang benar-benar membutuhkan bantuan.

"Kalau kami boleh memilih, lebih baik dialokasikan ke pendidikan atau bantuan langsung kepada siswa yang membutuhkan. Daripada banyak makanan terbuang dan menjadi pemborosan anggaran," katanya.

Selain persoalan makanan yang terbuang, sekolah juga menyoroti dampak pelaksanaan MBG terhadap kegiatan belajar mengajar.

Dengan jumlah siswa mencapai sekitar 1.700 orang, proses distribusi makanan setiap hari membutuhkan keterlibatan guru dalam pengaturan pembagian makanan.

"Guru-guru yang turun langsung mengatur pembagian. Itu cukup memakan waktu dan berdampak pada efektivitas proses pembelajaran," terang Becek.

Dia juga menyebut para pedagang kantin sekolah mengalami penurunan pendapatan selama program berlangsung karena sebagian besar siswa memilih mengonsumsi makanan yang disediakan pemerintah. Karena itu, pihak sekolah masih menunggu kejelasan mengenai wacana pelibatan kantin sekolah dalam pengelolaan MBG yang belakangan mulai dibahas pemerintah.

"Kami belum tahu mekanismenya seperti apa. Kalau nanti kantin dilibatkan, tentu perlu dipelajari dulu. Apakah efektif, bagaimana sistem pengelolaannya, dan seperti apa dampaknya," ujarnya.

Hingga kini, SMAN 3 Batam masih menunggu keputusan pemerintah terkait kelanjutan Program Makan Bergizi Gratis. Di tengah penghentian sementara tersebut,

Berbeda dengan pandangan sekolah, sejumlah siswa justru berharap program tersebut dapat kembali dilanjutkan. Salah seorang siswa kelas XI SMAN 4 Batam, Embun Gardina Rahim, mengaku MBG cukup membantu kebutuhan sehari-hari pelajar selama berada di sekolah.

"Menurut saya MBG cukup membantu karena kami tidak perlu lagi memikirkan makan siang saat di sekolah. Tapi tetpa saja kalau makanannya keliatan tak enak, lebih baik jajan" katanya.

Sejak program dihentikan sementara, kata Embun, siswa kembali membawa bekal dari rumah atau membeli makanan di kantin sekolah.

"Kami berharap program ini bisa berjalan lagi karena selain membantu kebutuhan makan siswa, juga membuat kami lebih fokus belajar di sekolah," ujarnya.

Sementara itu, pandangan berbeda datang dari Merliana seorang orang tua siswa sekolah dasar Hang Tuah di kawasan Bengkong, Batam. Menurutnya, keberadaan maupun penghentian MBG tidak terlalu berpengaruh karena ia tetap membekali anaknya makanan dari rumah setiap hari.

"Saya tetap memberikan anak saya bekal. Jadi ada MBG ataupun tidak, bagi saya sama saja," katanya.

Menurutnya makanan yang dj sitribusikan SPPG kurang terap waktu jam makan anak, atau kualitas makanya tidak sesuai dengan seperti orang tua yang diharapkan.

Merlyana menilai anggaran yang digunakan untuk program MBG dapat dipertimbangkan untuk dialihkan ke sektor pendidikan atau kebutuhan masyarakat berpenghasilan rendah yang lebih mendesak.

"Kalau memang dialihkan, saya berharap benar-benar untuk pendidikan atau sarana yang dibutuhkan masyarakat menengah ke bawah," ujarnya.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |