MBMA Raup Laba Naik jadi USD 29,56 Juta pada 2025

1 day ago 11

Liputan6.com, Jakarta - PT Merdeka Battery Materials, Tbk (MBMA), anak perusahaan PT Merdeka Copper Gold, Tbk (MDKA), mengumumkan laporan kinerja keuangan konsolidasi untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025. Perseroan meraup pertumbuhan laba sebesar 29,77% pada 2025.

Laporan ini menunjukkan Perseroan mampu mempertahankan kinerja yang solid meski harga nikel global mengalami pelemahan. MBMA mencatat pendapatan sekitar USD 1,43 miliar dan EBITDA sebesar USD 219 juta pada 2025, didorong oleh peningkatan volume produksi nikel serta kontribusi stabil dari operasi hilir. Hal ini menegaskan ketahanan operasional Perseroan dalam menghadapi dinamika pasar komoditas. Adapun laba yang diatribusikan ke entitas induk MBMA meningkat dari USD 22,78 juta pada 2024 menjadi USD 29,56 juta pada 2025, atau meningkat 29,77 persen.

Sepanjang 2025, MBMA mencatat kemajuan signifikan di seluruh rantai nilai nikel terintegrasi. Tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) menjadi salah satu pendorong utama, dengan peningkatan volume produksi yang didukung oleh optimalisasi produktivitas dan efisiensi operasional. Produksi bijih saprolit tercatat 7,0 juta wet metric ton (wmt) dan limonit 14,7 juta wmt, yang memenuhi kebutuhan bahan baku fasilitas hilir sekaligus memperkuat integrasi operasional.

Di hilir, Perseroan terus meningkatkan kapasitas pengolahan untuk mendorong nilai tambah. Operasi hilir berhasil menaikkan margin tahunan berkat efisiensi biaya produksi dan peningkatan pasokan bijih internal. Produksi Nickel Pig Iron (NPI) mencapai 73.871 ton, sementara High-Grade Nickel Matte (HGNM) sekitar 19.998 ton. Proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) juga menunjukkan kemajuan positif, dengan produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sekitar 25.994 ton.

Selain itu, Proyek Acid Iron Metal (AIM) yang dijalankan oleh PT Merdeka Tsingshan Indonesia (MTI), anak usaha MBMA, mencatat perkembangan konstruktif pada empat fasilitas pengolahan yang terintegrasi penuh, dan berada di jalur yang tepat menuju produksi penuh.

Di tengah pelemahan harga nikel sepanjang 2025, MBMA mampu mempertahankan kinerja yang resilien melalui kombinasi peningkatan volume, efisiensi operasional, dan optimalisasi integrasi rantai nilai dari tambang hingga produk hilir. Perseroan juga secara disiplin mengelola struktur biaya di tengah kenaikan biaya operasional, termasuk dampak implementasi kebijakan biodiesel dan penyesuaian tarif royalti.

Outlook 2026

Memasuki 2026, Perseroan berada pada posisi yang solid untuk melanjutkan pertumbuhan, didukung oleh peningkatan volume produksi, efisiensi pengiriman bijih, serta percepatan pengembangan proyek hilirisasi dan integrasi vertikal. MBMA menargetkan produksi 8–10 juta wmt bijih saprolit dan 20–25 juta wmt bijih limonit. Di sektor hilir, produksi NPI diproyeksikan 70.000–80.000 ton dan HGNM 44.000–48.000 ton.

Perseroan juga terus memperkuat struktur biaya operasional, termasuk penurunan biaya tunai NPI sebesar 9% YoY sepanjang 2025. Efisiensi lebih lanjut diharapkan melalui peningkatan pasokan saprolit SCM untuk mencapai swasembada bijih 100% pada tahun fiskal 2026.

MBMA telah mengoperasikan Feed Preparation Plant (FPP) untuk menyalurkan slurry limonit dari tambang SCM HPAL ke fasilitas HPAL PT ESG New Energy Material, mendukung target produksi MHP 27.000–30.000 ton pada 2026. Sementara itu, proyek HPAL PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) dengan kapasitas 90.000 ton nikel per tahun berjalan sesuai rencana, dengan commissioning jalur pertama ditargetkan semester kedua 2026.

MBMA Bakal Buyback Saham Rp 1,7 Triliun

Sebelumnya,PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) akan melakukan pembelian kembali atau buyback saham. Langkah buyback saham ini sebagai respons terhadap kondisi pasar yang berfluktuasi signifikan. Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia,  Perseroan berencana melakukan buyback dengan jumlah maksimum 1,8 miliar lembar saham.

Adapun alokasi dana buyback saham maksimal Rp 1,7 triliun, mana yang tercapai lebih dahulu. Periode share buyback dimulai pada 17 Maret 2026-16 Juni 2026 dalam waktu paling lama tiga bulan sejak penerbitan Keterbukaan Informasi pada 16 Maret 2026, kecuali apabila diakhiri lebih awal oleh Perseroan dengan tetap memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Direktur Utama PT Merdeka Battery Materials Tbk, Teddy Oetomo, menuturkan, langkah ini merupakan bagian dari upaya Perseroan dalam merespons dinamika pasar sekaligus menunjukkan keyakinan terhadap fundamental dan prospek jangka panjang Perseroan.

"Perseroan optimistis terhadap prospek pertumbuhan ke depan. Target produksi yang lebih tinggi di segmen pertambangan maupun hilirisasi nikel pada tahun 2026 mencerminkan momentum pengembangan operasional yang terus berlanjut,” kata Teddy Oetomo seperti dikutip dari keterangan resmi, Senin (16/3/2026).

Pertumbuhan Kinerja Operasional

MBMA mencatat pertumbuhan kinerja operasional yang kuat sepanjang 2025 dan optimistis terhadap prospek pertumbuhan yang berkelanjutan, terutama pada 2026.

Di sektor hilir nikel, MBMA menargetkan produksi High Grade Nickel Matte sebesar 44.000-48.000 ton pada 2026, meningkat secara signifikan dari 19.998 ton pada 2025. MBMA juga terus memperkuat struktur biaya operasional, termasuk penurunan biaya tunai NPI sebesar 9% YoY selama 2025.

Selain itu, MBMA telah memulai pengoperasian Feed Preparation Plant (FPP) untuk mengirim slurry limonit melalui jalur pipa dari tambang SCM guna meningkatkan efisiensi HPAL PT ESG New Energy Material di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park. Kedepan, PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC), proyek HPAL MBMA dengan kapasitas target 90.000 ton per tahun diharapkan mulai mengoperasikan train pertamanya pada semester kedua 2026.

Keyakinan Perseroan terhadap prospek MBMA tercerminkan dalam rencana share buyback. Dengan fondasi operasional yang semakin kuat dan berbagai proyek yang mulai memasuki tahap produksi, Perseroan optimistis kinerja pada 2026.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |