Kisah Haru Jemaah Haji Asal Bone: Berangkat Pakai Kursi Roda, Pulang Jalan Kaki

7 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Tidak semua perjalanan ibadah haji berlangsung dengan kondisi yang sempurna. Namun bagi Haji Supanto Darto Atemo (73), penjual bakso asal Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, keterbatasan justru menjadi awal dari kisah yang penuh harapan.

Supanto diberangkatkan menuju Tanah Suci bersama istrinya, Surani Ngadi Asmorejo (46). Mereka tergabung bersama 105 jemaah haji khusus PT An-Nur Maarif. Sepekan sebelum keberangkatan, ia tampak lemah dan harus duduk di kursi roda. Kondisi tubuhnya belum sepenuhnya pulih setelah mengalami cidera akibat terjatuh di kamar mandi. Meski demikian, semangat untuk menunaikan ibadah haji tidak pernah surut.

Siapa sangka, perjalanan spiritual Supanto menjadi momen yang mengejutkan banyak pihak. Saat tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, ia tidak lagi menggunakan kursi roda seperti saat berangkat. Langkah kakinya mantap saat menuruni anak tangga pesawat. Dia dan istri disambut haru keluarga, sesama jemaah, hingga petugas bandara.

“Masya Allah, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah menghendaki. Kun fayakun,” ujar Kepala Kanwil Haji dan Umrah Sulsel, Ikbal Ismail, yang turut menyambut kedatangannya.

Keajaiban di Masjidil Haram

Supanto mulai merasakan perubahan di kakinya ketika menjalani rangkaian ibadah di Masjidil Haram. Pembimbing jemaah, Ustad Rahmat Salim, menyebut ada perubahan semangat yang signifikan.

“Tekadnya masya Allah untuk jalan kaki luar biasa,” kata Rahmat.

Awalnya dia sangat bergantung pada kursi roda. Perlahan Supanto mulai berusaha berdiri dan melangkah sendiri. Ia terus memperbanyak doa agar diberikan kesembuhan dan kekuatan untuk menjalani ibadah.

Puncaknya, ia mampu menyelesaikan tawaf sebanyak tujuh putaran mengelilingi Ka’bah. Dengan estimasi jarak satu putaran sekitar 500 hingga 700 meter, Supanto menempuh sekitar 3,5 hingga 5 kilometer dalam kondisi fisik yang sebelumnya terbatas.

Bagi banyak orang, jarak itu mungkin biasa. Namun bagi Supanto, itu menjadi pencapaian besar yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di tengah rasa haru, ia mengungkapkan rasa syukurnya saat kembali ke kampung halaman dengan selamat.

“Saya terus berdoa semoga Allah menyembuhkan penyakit saya. Meskipun belum kembali seperti sedia kala, tapi saya sudah bersyukur,” ucap Supanto.

Hal yang tak kalah menyentuh, kursi roda yang ia gunakan saat berangkat tidak lagi dibawanya pulang. Ia memilih meninggalkannya di Tanah Suci agar bisa digunakan jemaah lain yang membutuhkan.

20 Tahun Dagang Bakso

Di kampung halamannya, Supanto dikenal sebagai penjual bakso sederhana yang telah menekuni usaha tersebut selama sekitar 20 tahun. Dari usaha kecil itu, ia kini mempekerjakan 12 orang karyawan. Meski telah menyandang status haji, ia menegaskan tidak akan meninggalkan pekerjaannya.

“Kalau sudah sehat, saya tetap jualan bakso. Dari situlah saya mencari rezeki dan Allah memberi jalan sampai bisa berhaji,” katanya.

Kini, ia masih menjalani terapi refleksi dengan bantuan terapis dari Kota Palopo untuk memulihkan kondisi tubuhnya.

Namun bagi orang-orang terdekatnya, ada keyakinan bahwa pengalaman spiritual di Tanah Suci menjadi bagian penting dari proses penyembuhan yang ia rasakan. Kenangan itu turut diingat kembali oleh Ikbal Ismail saat melepas keberangkatan Supanto.

“Banyak berdoa di depan Ka’bah. Minta kepada Allah, karena semua Dia yang mengatur,” kenangnya.

“Saya terus berdoa semoga Allah menyembuhkan penyakit saya. Meskipun belum kembali seperti sedia kala, tapi saya sudah bersyukur,” pungkasnya.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |